Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
Bab 67 : Nyaris Terkuak


Detik demi detik berlalu, matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Digantikan gelapnya malam dengan pendar cahaya lampu-lampu temaram. Seharian Yura duduk di tepi ranjang Zeva, sempat membersihkan tubuh gadis itu, melepas ikatan borgolnya sejenak untuk menggantikan pakaian yang lebih nyaman.


Wajah cantik itu terlihat semakin jelas, setelah Yura berhasil menghapus make up tebal dan bold dari adik iparnya. “Kalau seperti ini, orang tidak akan menyangka kamu bergabung dengan mereka.”


Yura tersentak ketika mendengar isak tangis Zeva. Kelopak matanya masih terpejam dengan rapat. Namun, bulir bening mulai berjatuhan di kedua sudut matanya.


“Boris! Boris!” panggil Zeva berulang kali, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan memanggil-manggil nama lelaki itu.


Masih menjadi teka-teki dalam benaknya, Yura menggenggam lembut jemari lentik Zeva. Menangkup dengan kedua tangannya, menyeka bulir keringat yang bermunculan di keningnya.


“Boris!” jerit Zeva terperanjat dari tidurnya. Napasnya terengah-engah. Buru-buru Yura menyodorkan segelas air putih ke hadapannya.


Tanpa melihat sekeliling, Zeva meraihnya, meneguk air putih itu dalam beberapa kali tegukan besar hingga tandas. Yura kembali meraih gelas kosong itu, meletakkan di atas nakas.


Ia kembali menggenggam jemari Zeva. Gadis itu menoleh, hanya mata mereka yang saling bertautan, deru napas memburu Zeva memecah keheningan di kamar tersebut. Yura sengaja memberi waktu agar Zeva  sedikit lebih tenang.


“Sudah bisa bicara?” ucap Yura setelah mereka terdiam setelah beberapa lama.


Zeva bergeming, menundukkan kepala untuk meneliti pakaiannya. Keningnya berkerut dalam.


“Aku yang menggantikan, jangan khawatir.” Tahu kekhawatiran Zeva, Yura menyela lebih dulu. Ia tetap berbicara dengan lembut. “Ada yang ingin kamu sampaikan? Kita bicara layaknya sesama perempuan. Lupakan status ipar kita jika memang kamu tidak nyaman karena itu,” tambah Yura mengurai senyum di bibirnya. Berbeda sekali dengan waktu pertama kali mereka bertemu yang hanya bisa bersitegang.


“Di mana Boris?” tanya Zeva setelah napasnya mulai berembus dengan teratur.


"Boris? Ketua Klan Ganesha? Jangan khawatir, dia aman.”


“Maksudmu? Dia sudah mati?” Zeva kini berani menatap Yura, kembali dengan tatapan tajamnya.


Yura terdiam sejenak, ia tampak berpikir keras untuk mengingat kejadian malam itu. “Aku yakin enggak, soalnya malam itu, suamiku hanya menembak tangannya saja. Lalu membawanya ke markas. Sampai sekarang belum ada perintah apa pun lagi. Karena suamiku sedang sibuk,” paparnya.


Zeva menyugar rambut panjangnya ke belakang, sembari mengembuskan napas berat. Raut wajahnya terlihat gelisah.


“Kenapa? Katakanlah, siapa tahu aku bisa membantumu,” ujar Yura membaca kegelisahan itu.


“Lepaskan Boris! Hanya dia yang bisa menyelamatkan dua kakek dan nenek itu. Kasihan mereka sudah tua. Tapi menjadi incaran Rudolf.” Zeva mulai membuka suara.


Jika boleh jujur, Yura sangat gugup kali ini. Mungkin karena perubahan Zeva yang drastis usai tak sadarkan diri, lalu secara tidak langsung mau menceritakan masa lalunya. Dan ia yakin, kakek dan nenek yang dimaksud adalah Tiger dan Jihan, yang tak lain dan tak bukan adalah kakek neneknya sendiri.


Zeva kembali mengingat masa lalunya, berbicara dengan Yura dari hati ke hati ternyata membuatnya nyaman. Ia mulai bercerita. Baru terbangun dari tidur panjangnya yang entah sudah berapa lama, tiba-tiba Boris membawanya ke rumah. Mengurung bersama sepasang suami istri yang tua renta. Kepalanya masih terbalut perban, bahkan masih mengenakan pakaian pasien.


“Nenek itu sempat histeris melihatku, dia juga memelukku dan menciumku bertubi-tubi. Aku tidak mengenal mereka, tapi merasa nyaman di dekat mereka. Bahkan ketika nenek itu menangis, hatiku ikut tersayat. Suaminya lumpuh, hanya bisa terbaring dan menangis. Tidak bisa bergerak.” Zeva menyeka air matanya yang mengalir semakin deras.


“Tapi tak lama kemudian, Boris mengeluarkanku. Dia mengundang dokter pribadi dan mengobatiku sampai sembuh. Dia bilang, aku kekasihnya. Hanya dia yang aku kenal, aku selalu percaya setiap ucapannya. Dia melatihku dengan keras, katanya agar menjadi kuat dan bisa bergabung bersamanya. Dia juga menyediakan semua pakaian dan make up ku. Dia bilang, aku akan dalam bahaya jika tidak menurutinya.”


Terkejut, jelas saja. Yura terperangah dengan semua penuturan Zeva. Saliva yang ia telan seolah teronggok di tenggorokan. Ingin segera memberitahukan semuanya pada Zefon sekarang. Tapi, di hadapan Zeva, Yura mencoba bersikap biasa saja.


“Baiklah, aku akan bicarakan pada suamiku. Agar dia mau melepaskan Boris. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan kamu makanan. Jangan ke mana-mana,” titah Yura memperingati adik iparnya itu.


“Bisa ke mana aku, rasanya lemas sekali begini. Kalian apakan aku!”


“Tidak ada, kamu lemas karena lapar. Makanya aku ambilkan makanan dulu!” Yura segera beranjak keluar. Kepala pelayan yang selalu mengawasinya kini membungkuk di depan kamar.


“Paman, tolong bawakan makanan bergizi untuk Zeva. Lengkap dengan buah-buahan, susu. Dan, kalau dia tanya-tanya, bilang saja tidak tahu.”


“Baik, Nyonya. Saya juga ingin memberitahukan, Nyonya Cheryl sudah dalam perjalanan. Anda bisa bersiap di roof top sekarang, sudah ada beberapa pengawal yang berjaga di sana,” lapor kepala pelayan dengan sopan.


“Mama naik helikopter?” seru Yura membelalak, namun segera menutup mulutnya rapat-rapat. “Baik, kalau begitu tolong jaga Zeva. Dan kunci pintu kamarnya kalau sudah membawakannya makanan,” sambungnya dengan suara berbisik.


“Baik, Nyonya Muda,” sahut kepala pelayan mengangguk sopan.


Yura menepuk bahu kepala pelayan itu, “Terima kasih, Paman!” ucapnya lalu berlari menuju kamarnya. Mengambil sebuah koper, hanya berjaga saja jika mereka menginap di rumah sakit atau hotel terdekat. Semua keperluan pribadi sudah ia siapkan.


Setelah berganti pakaian, Yura segera naik ke roof top mansion tersebut. Benar, sudah ada pengawal yang berjajar di atas sana. Sampai beberapa waktu berlalu, desing baling-baling helikopter memekakkan telinga. Seluruh pengawal berdiri tegap, sama sekali tak terpengaruh dengan angin besar yang berembus seiring helikopter yang semakin dekat.


Yura mengikat rambut panjangnya, merapatkan mantel pada gaunnya yang mulai berterbangan. Setelah mendarat, pintu terbuka. Diikuti tangga yang juga menjajak hingga menyentuh lantai roof top.


“Sayang!” teriak Cheryl nyaris berlari menuruni anak tangga, ketika melihat menantunya berdiri di hadapannya.


 


 


Bersambung~