Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
BAB 45 : CEMBURU


Teriakan Yura beriringan dengan timah panas yang melesak pada sasaran. Sengaja memberi kode agar suaminya tidak bergerak, mempertahankan posisinya. Tubuh wanita itu terpelanting setelah melesakkan satu peluru. Meskipun benda itu kecil, tekanannya begitu besar. Apalagi, ini adalah pertama kali Yura menggunakannya.


Syok, tentu saja. Bahkan jantungnya serasa ikut meledak. Yura merintih, buru-buru beranjak. Namun, tiba-tiba sensor kalungnya menyala merah.


“Kakak ipar, belakangmu!” teriak Gala pada alat komunikasinya.


Yura segera meraih pisau di saku dan membuka lipatannya dengan cepat. Berguling beberapa kali untuk mendekat sekaligus menghindar dari serangan. Tepat dengan jarak yang sangat dekat dengan kaki musuhnya, Yura menusuk kedua kaki lelaki itu lalu berdiri dan menendang senjata laras panjang beserta dada hingga sosok itu tumbang.


Ia segera mengambil senjata itu dan memicingkan matanya tajam. Hanya menodongkan saja, tidak menarik pelatuk. Dia tidak mengerti cara menggunakannya. Bermaksud ingin menggertak saja.


“Ah, Zefon!” seru wanita itu teringat dengan sang suami. Telesor, menghempaskan senjata di tangannya begitu saja.


Yura berlari menghampiri suaminya. Pria itu tampak tengah membekuk Max, dan memborgol kedua tangan di belakang tubuh, sembari menindihnya.


“Aaa! Kamu terluka? Pelurunya nyasar? Aduh gimana ini? Kamu harus segera ke rumah sakit, Ze!” teriak Yura panik melihat kening Zefon penuh cairan kental berwarna merah.


Yura menangkup wajah pria itu dengan tangan gemetar, netranya sudah berlapis cairan bening dan mengalir dengan deras di kedua pipinya.


“Maafin aku, maaf! Kamu pasti kesakitan!” jerit Yura menangis meraung, berhambur ke pelukan Zefon. Membenamkan wajahnya di sana dengan derai air mata dan memeluknya dengan sangat kuat.


Jemari Zefon membelai puncak kepala Yura yang menegang dan sesenggukan. Tangisnya pecah di dadanya penuh penyesalan. “Hei, aku tidak apa-apa,” gumam lelaki itu membalas pelukan Yura.


“Tidak apa-apa gimana? Peluruku nyasar di kepalamu!” Yura memekik dan semakin mengeratkan pelukannya. “Pasti sakit banget! Maaf,” tambahnya sesenggukan.


“Ini bukan darahku, Yura. Tapi darah bajingann ini!” balas Zefon menundukkan pandangannya. Melihat tangan Mark yang berlubang dan terus mengeluarkan darah segar.


Tembakan Yura tepat mengenai tangan Mark, pisau yang mengancam Zefon terlepas. Darahnya menyembur tepat di kening Zefon.


Mendengar penuturan itu, barulah Yura mengurai pelukannya, menangkup kedua pipi Zefon dan menatapnya lekat-lekat. Jemari lentiknya menyeka cairan merah di kening itu, mulus, licin dan tidak ada bekas luka. Ia menghela napas lega sembari memejamkan mata.


“Iya, dong! Istri siapa dulu! Nanti harus dikasih reward!” Yura menepuk dadanya dengan sombong.


“Tentu! Katakan saja mau apa!” sahut Zefon menyingkirkan tubuh Yura dan membangunkan Max, dengan mencengkeram kerah lelaki itu dari belakang. “Cih! Klan Ganesha!” geram lelaki itu.


Yura menatap nanar pada wajah Max yang dipenuhi luka, raut tak terduga sekaligus kecewa berpendar dari wajah cantiknya. “Kamu....”


Max mendongak, matanya membeliak menatap Yura yang berkaca-kaca. Dada Yura sesak mengingat lelaki itu pernah mengisi hatinya.


“Bukankah kamu menjadi pengirim paket? Kenapa malah masuk ke dunia terlarang ini? Oh, jangan-jangan kurir hanya kamu jadikan kedok. Biar bisa mengirim obat-obatan terlarang itu, iya?” jerit Yura menghantam dada Max dengan kuat.


Max diam saja, ia sendiri tidak menyangka akan bertemu dengan Yura dalam situasi seperti ini. Tatapannya masih sama, penuh kehangatan jika untuk Yura.


“Kamu mengenalnya?” Suara dingin menyelusup pendengaran. Yura menoleh pada sumber suara. Terlihat jelas wajah pria tampan yang menjadi suaminya itu memancarkan amarah. “Jawab!” sentaknya lagi hingga wanita itu memejamkan mata.


Yura menelan salivanya, air matanya mengalir semakin deras hingga tak sadar liontinnya berkedip. Begitu pun dengan Zefon, karena ia dikuasai dengan kecemburuan saat melihat tatapan mata dua orang di hadapannya.


 


Bersambung~


BTW aku slow update ya... udah seminggu drop. Dan ga bisa lama-lama mantengin layar. pasti pusing. harap maklum. tapi diusahain.


sambil nunggu mampir di karya keren ini ya.. karya Mom Al.