
Pertemuan antara Zeva dengan kekasihnya harus berlangsung singkat. Karena Zefon kembali memberi tugas pada Boris. Setidaknya, Zeva bernapas lega karena pria itu baik-baik saja.
Luna segera membawa Zeva kembali, diantar Calvin menuju kediaman Sebastian. Kebetulan Cheryl dan Yura baru saja keluar hendak pergi ke Mal ketika mereka sampai di pelataran yang luas itu.
Tubuh Cheryl membeku, kedua netra birunya seketika memburam karena air mata yang merebak. Dadanya naik turun dengan kasar. “Zeva!” teriaknya berlari menghambur pada putrinya. Dia memang masih selincah itu, umur hanyalah angka. Jiwa dan semangat Cheryl masih membara.
Cheryl memeluknya sangat erat, menangis tersedu-sedu. Zeva hanya mematung, tapi air matanya juga turut berlinang dengan deras.
“Kak, Zeva masih belum ingat masa lalunya. Maaf, aku sudah berusaha semaksimal mungkin,” tutur Luna menyentuh bahu Cheryl.
Wanita itu meregangkan pelukannya, menangkup kedua pipi Zeva. Gadis itu memang sama sekali tak merespon pelukannya, meski air mata bergulir deras di kedua pipinya.
“Maafin Mama!” ucap Cheryl membenamkan ciuman begitu lama di kening Zeva. “Terima kasih sudah kembali!” Tidak peduli bagaimana ceritanya, Cheryl tidak ingin mendengarnya. Yang terpenting sekarang, mereka bisa berkumpul kembali.
Zeva masih bergeming, meski merasa ada kehangatan yang menjalar di hatinya. Dadanya bergetar menerima semua sentuhan wanita itu.
“Yasudah, tidak apa-apa. Pelan-pelan saja, Sayang. Jangan dipaksakan,” ucap Cheryl pasrah menerima kenyataan bahwa putri kesayangannya sama sekail tidak mengingatnya.
Cheryl menoleh pada Yura, menarik lengan menantunya itu. “Zeva, ini kakak iparmu, istri Zefon,” ucapnya memperkenalkan.
“Kami sudah saling mengenal kok, Ma,” ucap Yura tersenyum, menyodorkan tangannya untuk menjabat tangan Zeva, “Apa kabar, Adik Ipar?” sapanya semakin melebarkan senyum.
Zeva memindai tubuh wanita di hadapannya. Perempuan yang dulu pernah bersitegang dengannya, tapi masih sabar menghadapinya. “Kamu hamil?” Kalimat pertama yang keluar dari bibir Zeva.
“Ya, seperti yang kamu lihat. Ponakan kamu sangat kuat. Dia hadir sejak pertemuan pertama kita,” sahut Yura memeluknya.
Zeva menunduk, “Maaf atas semua sikapku dulu ... Kakak Ipar,” ucapnya meski terbata.
“Enggak apa-apa. Ayo ikut belanja untuk keperluan calon ponakan kamu. Aku sama Mama tadinya mau ke Mal!” ajak Yura merangkul bahu Zeva.
Ia mengangguk, meski belum mengingat apa pun, sudah banyak perubahan pada diri Zeva. Semuanya tak lepas dari usaha Luna.
“Kalau begitu, aku permisi dulu ya, Kak!” pamit Luna pada Cheryl.
“Terima kasih banyak, Luna,” balas wanita itu.
Ketiganya segera masuk ke mobil setelah pintu dibukakan oleh salah satu pengawal. Cheryl sama sekali tak melepas pandangannya dari Zeva. Ia menggenggam jemari Zeva. Rasa syukur berulang kali terucap dari hatinya. Ia sampai bingung melampiaskan kebahagiaannya saat ini. Hanya air mata yang terus menetes dari kedua pipinya.
“Ma,” panggil Yura menyeka kedua pipi Cheryl dengan tisu.
“Mama hanya bahagia, Mama tidak pernah menyangka kalau bisa berkumpul lagi dengan Zeva dan kakek neneknya,” ucap Cheryl di tengah isakannya.
Cheryl memang emosional, mudah marah, namun mudah pula menangis. Jika sudah seperti itu akan sulit dihentikan.
Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata. Cheryl selalu mengingatkan pada sopir keluarganya. Apalagi kini membawa menantunya yang tengah mengandung.
“Kamu, banyak berubah, Sayang,” ucap Cheryl mengamati penampilan putrinya, Zeva hanya bergeming tak menjawab. Gadis yang dulunya anggun, suka berdandan dan feminim kini berubah 180°. Celana dan kaos oblong dilapisi jaket kulit, dandanan ala mafia dengan rambut kuncir kuda. Ia sampai tidak berani menanyakan bagaimana kehidupan putrinya selama ini.
“Ma, tanda-tanda mau melahirkan itu bagaimana?” tanya Yura memecah keheningan.
“Ini air apa ya, Ma? Kok banyak banget. Padahal aku enggak lagi buang air,” ucap Yura polos menunduk ke bawah. Cairan bening mengalir dari kedua pahanya.
“Lho! Ya Tuhan! Pecah ketuban kamu, Sayang! Pak, cepat sedikit kita ke rumah sakit sekarang!” teriak Cheryl panik.
Zeva juga turut panik melihat sang mama ketakutan. Padahal Yura biasa saja, tanpa ekspresi. Ia sama sekali tidak merasa kesakitan.
“Ma, jangan panik.”
“Sayang, pecah ketuban dini itu bahaya. Bagi kamu maupun bayi kamu.” Cheryl mengentakkan kedua kakinya. Ia merasa mobil melaju dengan sangat lamban. Ketakutan menjalar di seluruh tubuhnya.
“Ze, tolong jagain kakakmu ya,” pinta Cheryl menoleh pada putrinya.
Zeva bingung, hanya mengerutkan keningnya. Mereka ‘kan satu mobil, kenapa harus minta Zeva untuk menjaga yura?
Cheryl menepuk bahu sopirnya, ia benar-benar tak sabar. “Pak, minggir. Geser ke sebelah!”
“Tapi, Nyonya....”
“Pelankan saja lajunya. Atau berhenti sekalian kalau tidak berani!. Cepat, Pak ini darurat!" teriak Cheryl.
Sopir tersebut menepikan mobil, melepas seatbelt, lalu turun dari mobil bermaksud berpindah ke jok sebelahnya. Akan tetapi, kalah cepat dengan Cheryl yang sudah berpindah duduk di balik kemudi.
Belum sempat sopir tersebut naik kembali, Cheryl sudah melajukannya dengan kecepatan tinggi. Setelah sekian lama tidak memacu kendaraan, skill-nya kembali bisa dipakai dalam kondisi darurat.
“Ma, hati-hati,” tutur Yura, mencengkeram erat tangan Zeva.
Yura menatap adik iparnya, gadis itu menunduk dalam. Salah satu tangannya menekan kepalanya yang berdentum hebat.
“Ze, kamu ....”
Zeva mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Yura. Kepalanya memang terasa sakit luar biasa. Akan tetapi, ia juga khawatir dengan kondisi Yura.
“Aaaarrghh!” jerit Zeva semakin kesakitan. Pandangannya berputar-putar, ia seolah terbang ke awang-awang. Sekilas ingatannya mengenai kecelakaan itu kembali melintas di pikirannya. Tubuhnya menegang hebat, bahkan bulir keringat mulai memenuhi seluruh tubuhnya.
“Ma!” Yura ketakutan, berusaha menenangkan Zeva tapi selalu ditepis oleh gadis itu. Satu tangannya melindungi perutnya yang membesar.
Zeva meringkuk, menekan kepala dengan kedua tangannya. Sesekali menjerit kesakitan ketika sudah tidak tahan lagi. “Aaarrgghh!” Kecelakaan satu tahun lalu terlihat jelas di matanya.
Gemuruh di dada Cheryl berdentum begitu hebat. Matanya fokus pada jalan. Klakson terus dibunyikan sepanjang jalan. Cengkeraman pada setir mobil itu sangat kuat. Pedal gas semakin diinjak begitu dalam. Meski hatinya carut marut, Cheryl tetap fokus mengemudi.
Bersambung~
Mampir juga di novel keren ini ya Best...