
Zefon sedikit lebih tenang setelah mendengar suara istrinya. Ia sempat hampir memukul dokter yang menangani opanya, karena dianggap lambat dalam penanganan.
Andai tidak ada Calvin yang mencegah dan berusaha melerainya, bisa jadi IGD itu sudah antah berantah tak berbentuk, berikut dengan semua petugas medisnya.
Jihan hanya bisa menangis menggenggam jemari suaminya. Terus mengelak berbagai penanganan untuk dirinya sendiri. Padahal tubuhnya terlihat lemah dan gemetar.
Bagaimana tidak, puluhan tahun lalu, tepat kelahiran putri pertamanya—Cheryl, Tiger mengalami kecelakaan hebat bahkan koma dan menjalani pengobatan selama bertahun-tahun. Ketakutan tentu menyergap hatinya, tidak pernah menyangka akan mengalami hal paling menakutkan dalam hidupnya. Trauma, itulah yang membuat Jihan enggan beranjak sedetikpun dari sang suami. Jihan tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Sungguh, tidak ada yang ia takutkan selain berpisah dengan suami tercinta.
“Sayang, gimana? Aku nyusul sekarang ya,” ujar Yura penuh kekhawatiran. Wanita itu segera menghubungi sang suami ketika berhasil menemukan ponsel di atas meja rias.
Sebisa mungkin Zefon menetralkan deru napas dan emosinya. Matanya memejam, meraup oksigen sebanyak-banyaknya hingga dadanya yang sedari tadi sesak merasa sedikit lebih baik. “Sa ... sayang, tolong tunggu Mama dan Papa. Aku akan menghubungi mereka agar segera menjemputmu. Zeva bagaimana?” tanya lelaki itu balik.
“Zeva amnesia,” balas Yura tanpa basa-basi.
“Sudah aku duga, baiklah tunggu kedatangan Mama dan Papa. Jangan bilang apa-apa dulu ya. Biar aku yang jelasin di sini. Dan kalau bisa jangan sampai bertemu Zeva dulu.”
“Aku akan bersiap sekarang.” Yura mematikan sambungan ponselnya.
Belum sempat mengabari orang tua, terlihat notifikasi email masuk dari Gala. Buru-buru lelaki itu membukanya. Broadcast pesan juga dikirim pada Calvin. Kedua lelaki itu membuka salah satu video yang dilampirkan oleh Gala.
Zefon mencengkeram benda pipih di tangannya, sembari memasang pandangan begitu tajam. Ia benar-benar siap, apalagi setelah melihat kondisi sang kakek. Amarah kian memuncak hingga ubun-ubun. “Akan aku hancurkan siapa pun kalian yang terlibat,” geram Zefon tanpa memalingkan pandangannya.
Durasi video terus berjalan hingga tepat saat hantaman keras itu terjadi, Zefon sempat menahan napasnya sesaat. Dadanya pun bertalu kuat. Tanpa sadar pipinya basah dengan bulir bening yang mengalir tanpa diminta dan juga tidak bisa ditahan.
Hancur, mobil yang ditumpangi Tiger, Jihan dan Zeva berguling beberapa kali sampai hancur. Zefon mencengkeram dadanya yang berdenyut nyeri. Bahunya naik turun dengan cepat.
“Tuan,” panggil Calvin merasa khawatir. Ditepuknya bahu sang bos dengan pelan. Bahu kokoh yang kian mengeras.
Zefon hanya mengangkat sebelah tangannya. Meminta asistennya itu untuk diam. Matanya masih fokus melihat benda pipih itu. Harusnya ia lihat di layar monitor besar di ruang kerjanya. Kabar ditemukannya kakek serta neneknya, membuat Zefon harus hengkang dari kediamannya.
Tidak ada ambulans yang datang, tidak ada yang berani menolong, mereka hanya berkerumun dan saling membicarakan korban yang entah selamat atau tidak.
“Sial!” desis Zefon mengepalkan kedua tangannya. “Lalu siapa yang mengirim jenazah dengan identitas Opa, Oma dan Zeva? Siapa yang berani mempermainkan kami! Siapa yang berani melakukannya, Calvin? Akan aku bunuh mereka sekarang juga!” geram Zefon mengamuk di depan IGD.
Teriakannya sampai mendapat peringatan dari satpam. Lagi-lagi Calvin harus turun tangan menghadapinya. Calvin segera kembali pada sang bos, setelah sedikit berdebat dengan satpam rumah sakit.
“Mungkinkah Boris?” tanya Calvin membuyarkan lamunan Zefon.
Zefon menggeleng, “Tidak! Orang itu terlalu lemah. Aku yakin di belakangnya masih ada lagi. Tolong periksa semua. Aku harus selesaikan administrasi agar Opa segera masuk ruang rawat dan juga harus menghubungi Mama sekarang!” ujarnya memasrahkan tugas besar itu pada Calvin. Tanpa diperintah pun, lelaki itu akan menjalankannya sebaik mungkin.
\=\=\=\=ooo\=\=\=
“Ma, Zefon butuh Mama dan Papa sekarang juga. Tolong, ini penting. Jemput Yura di mansion ya, Ma. Nanti Yura akan tunjukkan tempatnya,” ucap Zefon pelan dalam sambungan telepon, usai sang kakek masuk ke ruang ICU.
“Ada apa, Sayang? Kenapa kamu tinggal istrimu sendirian?”
“Karena itu Mama harus ke sini. Tolong jemput istriku ya, Ma. Hati-hati,” balas Zefon singkat langsung mematikan ponsel itu.
Pandangannya menembus sebuah kaca yang memperlihatkan Tiger terbaring lemah di atas brankar dengan segala jenis alat penunjang kehidupan. Ditemani sang istri yang setia di sampingnya. Tidak ada air mata, sorot matanya nampak sendu. Tidak begitu memperhatikan sekelilingnya.
“Oma, Opa, bersabarlah. Opa tunjukkan padaku kalau Opa tidak selemah itu," gumam Zefon mengepalkan kedua tangannya.
Bersambung~
Btw yang nunggu Babang Icad. aku udah up sejak tanggal 17 gaes.. tapi gak tau kenapa belum lolos sampai sekarang . chat editor ga ada bales. mungkin udah cuti. jangan2 lolosnya abis lebaran 👽💩💩💩💩💩😪😫😫
ngomong2 selamat libur panjang ya, Best. Yang Mudik, hati-hati di jalan. semoga selamat sampai tujuan. Minal Aidzin wal Faidzin 🙏 Mon Maaf lahir dan batin. Ngucapin sekarang takutnya gak sempet up. 💖💖💋💋