Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
Bab 68 : Bukan Fatamorgana


“Hati-hati!” seru Jourrel merengkuh pinggang istrinya saat wanita itu hampir terjatuh akibat tergesa-gesa.


Yura sendiri segera mempercepat langkah untuk mengikis jarak dengan mertuanya. Dua wanita itu saling berpelukan erat.


“Kenapa, Sayang? Ada apa? Kamu baik-baik saja ‘kan?” cecar wanita separuh baya itu menangkup kedua pipi Yura.


“Aku baik, Ma. Kita berangkat sekarang ya.”


“Jelasin dulu! Kita mau ke mana? Di mana Zefon? Kenapa tidak bersamamu?” tambah wanita itu dengan panik.


Yura menghela napas panjang, menahan diri agar tidak menangis saat ini juga. “Sabar sebentar ya, Ma. Ayo kita susul Zefon. Dia baik-baik saja kok,” ajak wanita itu kembali meniti anak tangga helikopter. Yura bersikap setenang mungkin. Duduk di sebelah ibu mertuanya, mengenakan seatbelt lalu menggenggam jemari Cheryl yang terlihat gusar.


“Anda sudah tahu tujuan kita ‘kan, Pak?” tanya Yura pada pilot yang kini mengangguk padanya. “Kita berangkat sekarang,” tambah Yura.


Perjalanan ditempuh dalam waktu singkat. Helikopter mendarat di roof top sebuah rumah sakit. Detak jantung Cheryl semakin tak karuan saat melihat sekelilingnya. Kepanikan serta ketakutan mulai menyergapnya.


Yura menuntun wanita itu, diikuti oleh Jourrel di belakang, yang sigap jika dua wanita itu membutuhkan bantuan.


“Mama tangannya dingin sekali,” Yura mencoba membuka obrolan, mencairkan suasana.


Cheryl sampai tidak bisa menjawabnya, bibirnya terkatup rapat, perasaannya semakin berat, seperti diimpit beban yang begitu besar. Oksigen di sekelilingnya terkuras habis hingga Cheryl harus menghela napas berat berulang kali.


Pintu lift terbuka, Yura memapah langkah Cheryl yang semakin berat. Pandangannya lurus ke depan, hingga di ujung koridor matanya menangkap putra kesayangannya, duduk menunduk di kursi tunggu bersama Calvin.


“Ze!” panggil Cheryl mempercepat langkah kakinya.


Mendengar namanya mengudara, Zefon beranjak berdiri. Berlari memeluk wanita yang melahirkannya itu dengan sangat erat.


“Kamu baik-baik saja ‘kan, Nak? Mama khawatir, takut terjadi sesuatu sama kamu. Kamu tidak terluka ‘kan?” tanya Cheryl yang entah mengapa sudah menitikkan air mata. Pernah merasakan kehilangan yang teramat menyakitkan membuatnya trauma. Bahkan sekujur tubuhnya saat ini bergetar hebat.


“Ma, aku baik-baik saja.” Zefon meregangkan pelukannya, menangkup kedua bahu ibunya, menyeka air matanya yang membasahi pipi. “Tunggu di sini sebentar,” ucap Zefon beralih pada Calvin. Ia langsung mengenakan pakaian steril, mendorong pintu ICU hingga tubuhnya tenggelam sempurna di ruangan itu.


“Oma, tolong keluar sebentar ya. Ada Mama dan Papa yang sangat merindukan Oma,” tutur Zefon lirih di telinga neneknya.


Jihan menoleh dengan perlahan, “Ta ... tapi Opa?” balas Jihan dengan bibir bergetar.


“Tenang saja, Zefon akan menjaga Opa di sini. Tolong Oma temui Mama sebentar ya,” pinta Zefon lagi.


Wanita itu mengangguk, dibantu Zefon berdiri lalu dipapah hingga keluar dari ruangan bersuhu dingin itu. Jihan kembali menoleh ke belakang, “Jaga Opa ya, Ze. Bangunkan opamu,” lirih Jihan menitikkan air mata.


Pintu terbuka seluruhnya, Zefon masih membimbing omanya berjalan hingga duduk di kursi. Tubuh Cheryl membeku, mata dan bibirnya terbuka lebar. Bulir bening yang sedari tadi menetes kini semakin deras berjatuhan. Sesak di dadanya kian menjadi, melihat sosok yang mustahil baginya.


“Ma ... Mama!” setelah sekian lama, Cheryl baru bisa mengucapkannya.


Wanita itu berlari lalu bersimpuh di kaki Jihan. Memeluk lutut wanita tua itu dengan raungan tangis yang memekakkan telinga. Ini nyata bukan fatamorgana, ia bisa merasakan kehadiran sang mama setelah setahun lalu dikabarkan meninggal dunia.


Jourrel ikut bersimpuh di samping istrinya, mencium punggung tangan Jihan bertubi-tubi. Memeluk Cheryl yang bergetar hebat karena tangis dan rasa tak percayanya.


“Maa!” rengek Cheryl beralih memeluk ibunya, menumpukan dagu di bahu sang mama.


Tangan Jihan gemetar, ia kesulitan membalas pelukan putrinya. Jihan juga tidak bisa bersuara selain menangis terisak.


Yura terharu melihatnya, Zefon mengirim kode agar istrinya ikut masuk menunggu kakeknya. Calvin segera menyerahkan pakaian steril yang sudah disiapkan beberapa waktu lalu sebelumnya.


"Sayang,” ucap Zefon memeluk istrinya ketika mereka sampai di ruangan. Denting monitor detak jantung yang menggema membuat Yura merinding.


“Ze, tadi Zeva menjelaskan banyak hal sewaktu sadar. Sayangnya aku tidak membawa ponsel untuk merekamnya. Ada campur tangan Boris, tapi aku masih belum mengerti Boris sebenarnya musuh, atau sebaliknya.”


Zefon menautkan kedua alisnya. Ia meregangkan pelukannya. Terdiam sejenak lalu menatap kalung berlian yang menggantung di leher Yura.


“Tidak masalah. Aku bisa melacaknya.” Zefon bergerak duduk, mengeluarkan ponselnya dan mengotak-atiknya sebentar. Sinyal di ruangan itu cukup sulit. Tidak mungkin menggunakan wifi rumah sakit, karena banyak data penting yang muda bocor jika ia menyambungkannya.


“Lepaskan kalungmu sebentar,” titah Zefon menengadahkan satu tangannya pada Yura.


“Hah? Maksudnya?” tanya Yura tak mengerti.


“Lepaskan saja, Sayang.”


Yura menurut, melepaskan kalungnya lalu memberikan pada sang suami. Zefon mencabut sebuah chip lalu memasukkan ke ponselnya. “Jam berapa kalian mulai mengobrol?”


“Eee... Enggak lihat, mungkin satu jam yang lalu,” sahut Yura.


Setelah beberapa saat, chip tersebut mentransfer data yang dipilih oleh Zefon. Menatap Yura yang masih kebingungan, lalu menekan tombol play. Sebuah video pun berputar dengan jelas.


“Hah? Jadi kalung itu ada CCTVnya? Selama ini kamu melihatku mandi, ganti baju dan di semua aktivitasku?” seru Yura memukul bahu sang suami, yang seketika lupa dengan ketegangan yang menyergapnya sedari tadi.


Bersambung~