
“Calvin!” teriak Yura agar pria itu menoleh padanya. Yura menggerakkan pandangan pada gadis di bawahnya.
Saat Calvin mengikutinya, matanya membelalak dengan lebar. Tubuhnya menegang, dengan bibir bergetar. “Nona Zeva,” gumamnya.
Merasa lengah, Boris segera memberontak. Ia terbebas dari kungkungan Calvin dan memberi pukulan bertubi-tubi. Sempat terkejut, bahkan senjatanya terlempar. Beberapa detik kemudian, Calvin menangkis serangan-serangan Boris.
Begitu pun dengan Yura, fokusnya terbagi hingga kini diserang oleh gadis berpakaian panjang yang ketat dan serba hitam itu. Make up wajahnya terlihat dark vibes. Tapi Yura sangat mengenali mata dan garis wajah pewaris ibu mertuanya.
Yura terjengkang karena mendapat pukulan di dada ditambah bogem di sebelah pipinya. Buru-buru Yura menendang meski lawannya berhasil menghindar. Ia segera bangkit, melompat hingga bisa berdiri tegap dan berhadapan dengan gadis itu. “Zeva hentikan!” seru Yura waspada. Napasnya terengah-engah. Sudut bibirnya juga sobek karena pukulan telak gadis itu.
“Diam! Aku tidak mengenal nama yang kamu sebut!” sentak gadis itu dengan dingin kembali menyerang membabi buta. Yura tidak menyerang lagi, hanya menangkis serangan dan pukulan yang mengarah padanya.
Sedangkan, lima anggota Boris yang ada di ambang pintu berhadapan dengan Zefon. Pria itu berlari saat mendengar Yura menyebut nama Zeva. Dadanya berdegup hebat ingin segera naik ke lantai dua.
Sesampainya di sana, Zefon mengikat leher salah satunya hingga kehabisan napas. Keempat lainnya melepaskan tembakan. Namun, Zefon semakin mendekat dengan menjadikan pria di tangannya sebagai tameng. Ia melempar pria itu melintang, tepat pada kawan-kawannya. Keempatnya berjatuhan, Zefon merebut salah satu senjata dan menembaki mereka satu per satu.
Zefon menekan alat suara, “Habiskan yang di bawah!” titahnya mengizinkan bawahannya menggunakan senjata untuk menghabisi para anggota klan Ganesha yang berjaga di luar maupun di lantai bawah. Beberapa anggota Klan Black Stone juga menyusul ke atas, menjaga sang bos dari serangan susulan.
Zefon segera melangkah masuk, Calvin tengah bergelut dengan Boris dengan senjata api di tangannya. Calvin terdesak, mengelak tangan Boris yang mengarahkan moncong pistol ke kepalanya. Melihat itu, Zefon langsung melepaskan tembakan tepat di tangan Boris. Calvin segera membalik keadaan, meraih borgol untuk mengikat kedua tangan Boris. Tidak peduli tangannya bersimbah darah.
Erangan kesakitan Boris yang menggema, mengundang atensi Zeva, gadis itu melihat bosnya terluka. Lalu melemparkan tatapan tajam ke arah Zefon yang membeku saat melihatnya. Gigi gadis itu bergemeletuk kuat, matanya semakin tajam menatap Zefon. Kakinya melangkah panjang hingga melayangkan sebuah tendangan pada perut Zefon.
Kedua kaki Zefon terasa melemas, ia tak mampu memberi perlawanan pada adiknya. Napasnya tersengal dan membiarkan gadis itu menyerangnya bertubi-tubi.
Tapi Yura tidak tinggal diam, ia berlari lalu menarik kerah jaket kulit wanita itu kemudian memberi pukulan balik. Tidak peduli gadis itu adik iparnya atau bukan. Yang pasti, Yura tidak akan tinggal diam melihat suaminya terdesak.
“Jangan kurang ajar, Zeva! Dia kakakmu!” sentak Yura setelah melihat reaksi Zefon saat menatap adiknya.
Masih sulit percaya, sekujur tubuh Zefon meremang sekaligus terasa tak bertenaga. Kelemahannya sama seperti pendahulunya, yaitu keluarga. Ia tak berkutik, derap jantungnya menggema bak lari marathon di dalam dadanya.
“Saya sama sekali tidak mengenal kalian semua!” teriak Zeva masih bersemangat untuk menyerang.
“Nona, maaf!” gumam Calvin memejamkan mata, menghantam tengkuk Zeva sekuat tenaga. Barulah gadis itu terjatuh, pingsan seketika.
“Bawa Boris ke markas. Bawa Nona muda ke mansion!” perintah Calvin pada anak buahnya yang siap siaga.
“Baik, Tuan!”
“Hati-hati, dia berbahaya.” Calvin memperingatkan pada dua pria yang membawa Zeva. Mereka mengangguk paham, cepat-cepat membawa gadis itu ke mobil.
Sedangkan Yura segera berlari menghampiri suaminya. Berjongkok lalu melingkarkan lengan Zefon di bahunya. Calvin segera membantu, ia juga memapah Zefon di sisi yang berbeda.
“Zeva, dia benar-benar Zeva,” gumam Zefon, wajahnya pucat pasi.
“Saya meminta mereka membawa Nona ke Mansion, Tuan,” ucap Calvin.
“Pelan-pelan,” ucap Yura yang mengerti betapa syok sang suami saat ini.
“Haruskan kita hancurkan rumah ini, Tuan?” tanya Calvin meminta pendapat.
Pria itu menggeleng, napasnya masih tersengal-sengal. Kakinya gemetar saat menuruni anak tangga. “Tidak! Feelingku mengatakan, jangan hancurkan rumah ini. Jaga saja, jangan sampai ada anggota Ganesha lain yang masuk. Dan turunkan beberapa anak buah kita untuk menggeledah setiap ruangan di rumah ini! Jangan sampai ada yang ketinggalan!” perintah Zefon bertubi-tubi.
Bersambung~