
Kebetulan salah seorang perawat yang bertugas di lantai tersebut mendengar teriakan Zefon, wanita itu mempercepat langkah mendekati mereka.
“Loh, Nona ini ‘kan yang tadi bolak balik ke toilet. Beliau muntah-muntah terus sedari tadi, permisi, Tuan,” tutur wanita berseragam rumah sakit tersebut.
Ia segera memeriksa tensi dan denyut nadi Yura. “Sebaiknya segera dibawa ke UGD, saya khawatir Nona kehabisan cairan. Sempat saya tawarkan antar ke UGD, tapi menolak.”
Cheryl tersentak dengan pernyataan suster tersebut. Tanpa berucap atau bertanya apa pun, Zefon segera menggendong istrinya. Melangkah cepat meninggalkan sang mama yang mematung. Suster bahkan diabaikan ketika menawarkan kursi roda.
Calvin juga sigap berlari membukakan pintu lift sampai tuannya masuk. Keduanya terlihat cemas. Tiba di UGD, Zefon berteriak sembari berlari menuju brankar kosong.
Perlahan ia meletakkan Yura di atas ranjang pasien itu, napasnya masih terengah-engah, beberapa kali menepuk pipi Yura sambil memanggil namanya, namun sama sekali tak ada jawaban.
“Silakan tunggu di luar, Tuan,” ucap salah satu dokter jaga. “Suster, tolong pasang selang oksigennya,” tambah dokter tersebut.
Calvin membawa sang bos keluar, pandangannya tak lepas dari sang istri. Maniknya berkaca-kaca, ia takut terjadi sesuatu dengan Yura. Teringat sebelum pergi tadi, Yura sudah enggan ia tinggalkan. Bahkan sampai menangis karena tidak mau sendirian.
“Bodoh banget!” umpat Zefon pada dirinya sendiri. Duduk dengan kasar di sebuah kursi tunggu, mengusap wajahnya kasar. “Harusnya aku nggak ninggalin Yura sendirian. Tadi dia sampai menangis, Cal. Mungkin sudah merasa tidak enak badan. Aku saja yang bodoh tidak bisa memahami keadaan,” sambung pria itu mengalahkan diri sendiri.
“Tenanglah, Tuan. Kita tunggu hasil pemeriksaan,” ucap Calvin mencoba menenangkan. Walaupun percuma, karena Zefon sama sekali tak mendengarnya, terus menyesali keputusannya meninggalkan Yura sendirian.
“Tuan, silakan daftar untuk rawat inap dulu. Dokter menyarankannya, karena nyonya kekurangan cairan. Setelah sadar nanti, akan dirujuk ke dokter kandungan,” jelas salah satu perawat menyampaikan pesan dokter.
“Dokter kandungan?” Zefon beranjak berdiri dengan cepat.
Dokter yang menangani istrinya kini berjalan ke arahnya, tersenyum sembari berkata, “Betul, Tuan. Menurut analisis saya, istri Anda hamil. Tapi untuk lebih jelasnya, biar diperiksa oleh dokter spesialis,” tuturnya dengan ramah kemudian pamit undur diri karena harus menangani pasien lain.
Zefon masih mematung, matanya mulai berkaca-kaca. Napasnya pun memburu, “Hamil? Cal, aku akan jadi seorang papa? Istriku hamil, Cal? Aku akan jadi seorang papa!” teriak Zefon tanpa peduli semua atensi yang kini mengarah padanya.
Calvin merasa tidak enak dengan pasien maupun tenaga medis di sana. Ia mengangguk beberapa kalo, sebagai permintaan maaf. “Benar, Tuan. Mari, kita isi dokumen rawat inap dulu. Biar Nyonya muda segera mendapat ruangan.”
“Kita? Aku aja, Cal. Karena aku suaminya! Aku yang akan menjadi papa! Enak aja sebut kita!” sentak Zefon melotot tajam padanya.
Zefon melenggang dengan gurat kebahagiaan yang memancar dari wajahnya. Segera melengkapi administrasi, memilih kamar terbaik untuk sang istri.
\=\=\=\=ooo\=\=\=\=
Cheryl mondar mandir di depan ruang ICU. Matanya terus tertuju ke arah lift. Ia benar-benar khawatir dengan kondisi Yura. Sama sekali tidak bermaksud membentaknya tadi. Ia hanya terlalu panik dan takut akan kondisi sang papa.
“Kak!” Axel berlari padanya.
“Astaga! Dari mana saja kamu?! Kenapa baru sampai?” pekik Cheryl berkacak pinggang.
“Maaf, Kak. Penerbangan delay. Di mana Mama dan Papa sekarang? Bagaimana kondisinya?” cecar Axel.
“Papa baru aja sadar. Ada di dalam. Sedangkan Mama, dalam perawatan intensif di kamar VIP. Aku mau ketemu Yura dulu, tadi dia pingsan,” pamit Cheryl hendak melenggang pergi.
“Kak!” Axel memutar tubuhnya.
Cheryl berbalik, mengedikkan dagunya. Ia sudah tidak sabar ingin melihat menantunya. Khawatir terjadi sesuatu. Karena sempat melihat kondisinya yang begitu pucat tadi.
“Kalau Mama dan Papa ditemukan, bagaimana dengan Zeva?” teriak Axel teringat dengan keponakannya.
DEG!
Cheryl baru menyadarinya. Manik matanya mengeliling dan berkaca-kaca. Benar, jika kedua orang tuanya ditemukan, lalu di mana putrinya. “Zeva?” gumamnya kebingungan.
Bersambung~
mampir juga yuk Best... di novel keren ini...