
Yura beranjak cepat, merangkak ke sisi ranjang lainnya agar semakin jauh dari jangkauan suaminya. Namun ternyata dugaannya salah. Gerakan cepat Zefon mampu meraih kaki Yura dan menariknya.
“Aaaa! Tu ... tunggu! Tunggu! Tuan, Om! Sayang! Jangan dulu!” teriak Yura panik menyebutkan segala macam panggilan. Kedua tangannya mencengkeram kuat tepian ranjang dengan tengkurap. Hendak berontak, sayangnya tidak bisa.
Zefon sudah mencengkeram kedua kakinya, tawanya pecah melihat ketakutan Yura. Suka sekali menggoda wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu. Jemarinya menarik resleting gaun di punggung Yura, sangat pelan. Namun terlihat jelas punggung mulus itu begitu tegang. Napas gadis itu pun sempat tertahan beberapa saat.
Desir darah Zefon semakin kuat ketika ujung jarinya meraba punggung Yura. Panas dingin langsung menyerangnya. Genderang di dadanya merambat hingga membangunkan sesuatu di bawah sana.
Sedangkan Yura sendiri membenamkan muka pada selimut tebal yang ia tindih. Sekujur tubuhnya meremang hebat.
“Kenapa? Kamu takut?” desis Zefon tepat di telinga Yura. Ia membalikkan tubuh wanita itu lalu menindihnya, menatap lekat setiap detail wajah dengan pesona yang luar biasa baginya.
“Emmm....” Yura menggigit bibir bawahnya ketika tangan lebar Zefon mulai bergerak nakal. Hingga wanita itu tak kuasa mengeluarkan suara yang membuat gejolak Zefon semakin membumbung tinggi.
“Aku akan melakukannya dengan lembut, santai saja. Jangan tegang begitu, rileks ya,” ungkap pria itu membelai pipi Yura yang memerah.
Meski ini pertama kalinya bagi pasangan itu, insting mereka bekerja dengan sangat cepat. Sehingga tidak butuh waktu lama, keduanya sudah polos tanpa sehelai benang pun.
Yura memejam sesaat, lalu membuka manik matanya hingga saling menatap lekat dengan sang suami. Sadar, statusnya telah berubah, ia mulai tersenyum. Terhanyut dalam buaian sentuhan pria itu.
“Aaarghh!” Yura memekik sembari menancapkan kuku-kukunya pada bahu kokoh Zefon, ketika sesuatu merobek paksa inti tubuhnya.
Deru napasnya berembus kasar, ingin menangis dan mendorong lelaki itu. Tak Zefon tak membiarkannya lepas begitu saja. Gelombang di dadanya seolah runtuh, karena berhasil menerobos dinding kenikmatan itu.
Zefon mengalihkan kesakitan Yura, membenamkan ciuman bertubi di bibir sang istri. Barulah bergerak perlahan dan lama kelamaan semakin menggila. Tidak peduli cakaran, jambakan, ia terima. Racauan dan desahann saling bersahutan di kamar lengang nan luas itu.
Oh percayalah, Zefon tak sesabar itu jika harus mengikuti setiap racauan istrinya. Sedari tadi Yura berteriak agar berhenti. Tentu saja itu tidak akan terjadi sebelum akhirnya ledakan kenikmatan itu berhasil terburai dalam rahim Yura.
“Jahat banget!” rengek Yura memukuli dada bidang Zefon yang mengkilap dipenuhi oleh peluh usai pergulatan panas itu.
Zefon menarik kedua sudut bibirnya, jemarinya membelai lembut wajah Yura yang berubah pias penuh dengan keringat. “Nanti kamu bakal ketagihan!” gumamnya tersenyum mengejek.
“Karena memang baru pertama kali. Lihat saja nanti, kamu yang akan mendamba untuk selalu aku sentuh!” bisiknya di telinga Yura, lalu mendaratkan ciuman di pipi.
Zefon beranjak, menaikkan selimut untuk menutupi tubuh sang istri yang penuh dengan jejak percintaannya. “Terima kasih,” ucapnya meraih bathrobe dan meninggalkan Yura ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Aku yakin, hidupku enggak akan tenang lagi mulai hari ini!” rintih wanita yang telah kehilangan mahkotanya itu. Ia memiringkan tubuh sembari meringkuk, sama sekali tak menemukan kenyamanan di semua posisinya.
\=\=\=\=ooo\=\=\=\=
Sayup-sayup dering ponsel disertai getar menyelusup pendengaran Yura. Ia yang setengah sadar meraba-raba di semua sisi tubuhnya. Hingga menemukan benda itu, meliriknya sekilas meski tidak begitu jelas lalu menggesernya.
“Hmmm... siapa nih?” tanya Yura masih setengah sadar.
“Tuan! Markas di Palembang diserang musuh!” teriak seseorang di ujung telepon dengan panik.
“Apasih! Ngehalu ya?” cebik Yura mematikan panggilan dan melemparnya ke sembarang arah.
Hingga beberapa saat berlalu, Zefon keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar dan berseri. Kakinya melangkah panjang menghampiri ranjang, menunduk sembari menumpu lengan di antara tubuh Yura, memperhatikannya lekat-lekat. “Kamu milikku!” gumamnya dengan suara pelan.
Lamunannya buyar ketika mendapati suara dering ponselnya. Segera beranjak untuk mengangkat, belum ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya, kini manik matanya membeliak penuh keterkejutan.
Bersambung~
Bebs... mampir yak ke novel keren kak komalasari yang berjudul The Bodyguard 💖