Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
Bab 76 : Kekalutan Dua Ibu


Suasana dalam mobil begitu menegangkan. Deru mesin mobil bersahut-sahutan dengan teriakan Zeva yang tengah kesakitan.


Yura bingung, satu tangannya mencengkeram pegangan mobil, ia sudah pernah berada di posisi seperti ini. Tangan lainnya ingin merengkuh bahu Zeva yang merunduk sedari tadi, tapi buru-buru ditepis oleh adik iparnya itu, ia tidak ingin disentuh siapa pun. Yura lebih panik melihat kondisi Zeva.


“Sabar, Sayang! Sabar!” gumam Cheryl yang hampir menitikkan air mata. Tapi segera ditahan, tidak ingin cairan bening itu menghalangi pandangannya. Tenggorokkan Cheryl serasa tercekik, dadanya sesak melihat dua putrinya dalam kondisi seperti itu.


Mobil melesat dengan cepat, lampu hazzard dan klakson dinyalakan sedari tadi. Gesit, menyalip dan masuk ke setiap celah-celah jalan yang kosong. Bahkan sampai menerobos lampu merah.


Beruntung tidak terjadi sesuatu sampai decit mobil memekik tepat di depan UGD. Cheryl keluar, berteriak pada satpam yang berjaga di depan pintu.


“Pak! Dua brankar tolong. Cepat, Pak!” teriak Cheryl menggelegar membuka pintu belakang.


Cheryl menyentuh bahu Zeva yang bergetar hebat, “Sayang, tenanglah. Ini Mama, Nak.”


“Aaaarrghh! Sakit, Ma!” jerit Zeva menutup kedua telinganya rapat-rapat. Kepalanya berdentum begitu hebat. Suara jeritan dan teriakan ketika kecelakaan beberapa waktu silam, silih berganti menyelusup pendengaran.


“Bagi sakit itu sama Mama! Ayo, yang kuat, Nak,” ajak Cheryl dengan air mata yang terburai begitu deras. Akhirnya setelah sekian lama ditahan, jebol juga air mata Cheryl.


Yura sudah dibawa masuk oleh petugas medis. Ia masih setenang itu berada di atas brankar, mengatur napasnya, berusaha agar tidak panik. Perutnya terasa menegang, ia mengusap-usap permukaan perut yang membuncit dengan lembut. Ketakutan mulai merayap di sekujur tubuhnya.


Dua dokter datang dengan satu unit mesin USG di belakangnya, dibawakan oleh salah satu tenaga medis lain. Dokter kandungan sekaligus spesialis anak langsung turun tangan untuk memeriksa.


“Dokter, bagaimana dengan bayiku?” panggil Yura dengan lirih.


Dokter tengah fokus pada layar USG, menggerakkan doppler untuk memastikan kondisi bayinya. Wanita berjas putih itu beralih menatap Yura. “Sebenarnya kandungan Anda baru 28 minggu, tapi air ketuban sudah habis. Ini bisa menyebabkan bayi Anda keracunan. Saya suntik antibiotik dulu untuk pematangan parunya ya. Setelah itu, kami harus mengambil tindakan operasi caesar,” izin dokter tersebut mempersiapkan suntikannya.


Hati Yura bak diremas tangan-tangan tak terlihat. Sesakit itu rasanya ketika mendengar kabar buruk mengenai anaknya. Dua wanita, dua ibu di rumah sakit tersebut tengah kalut luar biasa mengkhawatirkan buah hati masing-masing. Cheryl dan Yura, sama-sama berjuang untuk anaknya.


“Baik, permisi ya, Bu,” tutur perawat tersebut mencari ponsel Yura dan mengeluarkannya. Ia sempat menyerahkan pada Yura untuk membuka kunci, lalu menekan kontak suaminya.


Dokter segera menyuntik antibiotik terlebih dahulu. Kemudian menghubungi tim bedah untuk menyiapkan ruang operasi sembari menunggu suami Yura.


\=\=\=000\=\=\=


Tak menunggu lama, Zefon yang dilanda kepanikan bergegas menyusul istrinya ke rumah sakit setelah dikabari oleh salah satu perawat melalui ponsel istrinya.


Pria itu berkendara secepat kilat, hingga mendapat berbagai umpatan dan teriakan dari pengendara lain. Zefon tak peduli, yang terpenting, ia bisa segera sampai di rumah sakit. Zefon berhenti di depan UGD, tanpa memarkirkan kendaraannya di tempat yang seharusnya. Satpam berteriak menghentikannya, tapi Zefon sama sekali tak acuh menerobos Unit Gawat Darurat itu.


“Pasien bernama Yura Afsheen! Di mana?” teriak Zefon dengan napas terengah-engah.


“Mari saya antar, Tuan,” sahut suster yang kebetulan tadi membantu menangani Yura. Sesampainya di sana, Zefon segera menghambur pada wanitanya.


“Sayang! Apa yang terjadi? Di mana Mama, hah?” pekik lelaki itu panik menggenggam jemari lentik istrinya.


Zefon semakin terpukul ketika melihat air mata mulai mengalir di kedua sudut matanya. Ia merunduk, menyeka air mata Yura sesekali menciumi pipinya. “Kenapa, Sayang? Kamu kesakitan? Mana yang sakit?” tutur lelaki itu semakin panik.


Bersambung~


mampir juga ke novel keren ini ya, Best😘