Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
BAB 38 : RESMI MENIKAH


“Astaga, Zefon!” sungut Yura setelah pagutan mereka terlepas. Ia memukul-mukul dada Zefon dengan kesal. Mukanya merah padam, bahkan sudah tidak menyematkan panggilan ‘Tuan’ saking kesalnya.


Zefon hanya terkekeh lalu turun dari mobil dan melenggang masuk ke markas underground.


“Ditinggal pula! Enggak ada akhlak om om satu itu!” geram Yura berlari kecil menyusul calon suaminya. Di samping itu, ia tidak sabar ingin memberi pelajaran untuk Tora atas apa yang menimpa sang ayah.


Desain interior maupun eksterior yang sangat menakjubkan. Pandangan Yura terus mengeliling, di mana hampir keseluruhan bangunan sangat aesthetic, unik dan kokoh.


“Kaya jaman purba. Tinggal di dalam goa,” gumam Yura mengekori Zefon yang masuk dengan berbagai sistem keamanan. Salah satunya scan retina, untuk membuka setiap pintu yang mereka lalui. Dan di setiap pintu mereka disambut beberapa pengawal dengan senjata laras panjang, serentak membungkukkan tubuh ketika sang bos melalui mereka.


Yura menelan salivanya, tanpa sengaja menarik ujung jas milik Zefon. Detak jantungnya bak lari maraton, memasuki area yang menurutnya sangat kaku dan menegangkan.


Setelah beberapa pintu terlewati, sampailah mereka di sebuah ruangan khusus untuk penjara. Tidak ada suara apa pun, hanya benturan sepatu mereka yang menggema di sepanjang lorong.


“Di mana dia?” tanya Zefon pada Calvin yang masih stanby di sana.


“Mari, Tuan. Silakan.” Calvin mendahului sang bos, menunjukkan kamar tempatnya menyekap Tora. Lelaki itu diikat sama seperti saat mereka menemukan Rehan.


Yura meminta izin pada Zefon melalui sorot matanya. Lelaki itu mengangguk tanpa harus bertanya. Ia sangat mengerti isi kepala Yura saat ini.


Tentu saja gadis itu sangat bersemangat melalui sebuah pintu jeruji besi menghampiri Tora yang meringkuk dengan mulut tertutup rapat.


Tora mendongak saat melihat kaki  jenjang seorang perempuan, matanya membeliak menemukan Yura yang menatapnya dengan tajam. Sebuah bogem mentah langsung mendarat di pipi kiri dan kanan lelaki itu.


Tora tak berkutik, merasakan nyeri yang menjalar di kedua pipinya. Bahkan kini Yura membungkuk, mencengkeram kuat kerah kemejanya.


“Brengsek kamu, Tor! Apa yang kamu lakuin ke ayah, hah? Bajingann! Ayah sudah memberikan segalanya buat kamu sama ibu sundelmu itu. Tapi apa yang kalian perbuat? Kurang ajar!” teriak Yura mengamuk memukuli Tora sampai puas. Sakit sekali hatinya mengingat penjelasan dokter. Racun, disiksa, tidak diberi makan. Ya Tuhan, sesak sekali hatinya.


Merasa belum puas, Yura membuka ikatan tali yang melilit di tubuh Tora. Emosi yang menguasai, seolah menaikkan kekuatannya berkali-kali lipat. Ia membangunkan Tora dari cengkeraman kerah kemeja, menatapnya dengan nyalang. Gerahamnya mengetat dengan kuat.


Pukulan demi pukulan menghujani wajah dan perut Tora. Ia sempat melawan, tapi Yura sudah brutal. Tidak bisa dikendalikan bahkan sulit untuk ditumbangkan.


“Setan kalian berdua!” teriak gadis itu mengakhiri sebuah tendangan di perut hingga membuat Tora terlempar dan menabrak dinding. Ia tergeletak tak berdaya di lantai yang dingin dan begitu lembap itu. Darah mulai mengalir dari wajah dan mulutnya. Napasnya berubah pendek-pendek bahkan sangat berat.


Zefon hanya melipat kedua tangannya sembari memperhatikan dari luar. Tatapannya tampak datar. Berbeda dengan Calvin yang membeliak lebar, terkejut melihat Yura ketika dalam mode mengamuk seperti itu.


 “Enggak laki, enggak perempuan sama saja,” gumam Calvin dalam hati meneguk salivanya dengan berat. Tidak dapat membayangkan jika suatu hari nanti ia melakukan kesalahan, bisa-bisa habis di tangan pasangan itu.


“Di mana ibumu bersembunyi?” tanya Yura menginjak salah satu tangan Tora. Pria itu memekik kesakitan, tapi Yura seolah menulikan telinganya.


“Aku tidak ... tahu,” rintih Tora di tengah kesakitannya.


Yura semakin memutar injakan kakinya, lelaki itu terus berteriak kesakitan sembari menyerukan ketidak tahuannya. “Dasar tidak berguna!” umpatnya pada Tora lalu meninggalkannya. Ia segera keluar meghampiri Zefon.


Benar, sudah tidak ada waktu lagi. Cheryl memaksa mereka untuk segera datang ke butik, karena sepasang gaun dan jas pengantin telah disiapkan sejak tadi. Kini tinggal fitting saja menyesuaikan ukuran mereka. Zefon pasrah dan percaya dengan pilihan sang mama.


Mereka segera kembali ke mobil. Diikuti beberapa pengawal yang menaiki mobil jeep hitam.


“Bangunannya keren.” Yura berpendapat setelah mobil mereka melalui sebuah lorong panjang, hingga kembali naik ke jalur yang semestinya.


“Itu ide papa, karena di bawah tanah biasanya susah dilacak musuh. Mama yang desain, aku yang realisasikan,” tutur Zefon sudah lebih santai. Tidak secanggung dan sekaku biasanya.


"Keluarga yang hebat semua," puji gadis itu tersenyum getir.


...\=\=\=000\=\=\=\= ...


Tiga hari kemudian, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pemberkatan dilakukan di sebuah gereja dengan pengawalan yang ketat. Yura dengan gaun putih yang simpel nan elegan berdiri berhadapan dengan Zefon, dengan pakaian senada. Tatapan mereka begitu dalam, menyelam hingga ke dasar sanubari pasangan mereka masing-masing.


Untuk pencarian Sarah, telah dilakukan oleh para anak buah Zefon. Karena lelaki itu ingin acara syakralnya berjalan lancar tanpa ada yang mengganggu.


Rehan juga tampak lebih segar, meski belum sepenuhnya sembuh. Sempat terkejut dengan pernikahan dadakan putrinya, akan tetapi Rehan tidak punya pilihan lain. Apalagi kondisi kesehatannya yang sudah menurun. Rehan ingin, Yura ada yang selalu menjaga selain dirinya. Dan ia percaya akan Zefon yang meminang anak gadisnya kala itu.


Janji suci kedua mempelai telah diikrarkan. Cheryl menyodorkan sebuah kotak cincin untuk disematkan oleh pengantin baru itu.


“Selamat ya, Sayang. Akhirnya kamu resmi menjadi bagian dari keluarga kami,” ucap Cheryl memeluk menantunya dengan sayang.


“Terima kasih sudah menerimaku dengan segala kekuranganku ini, Ma,” balas Yura tersenyum canggung.


“Yang penting kalian bahagia. Dan kamu Zefon, Mama tagih janji kamu!” tegas wanita itu menunjuk putranya.


Kening Zefon mengerut dalam, “Apa, Ma?” tanya lelaki itu yang memang tidak mengingatnya.


“Cucu yang banyak!” celetuk Cheryl diiringi tawa yang memekik. Jourrel hanya tersenyum tipis menanggapi. Wajar saja, karena Zefon putra satu-satunya. Mereka selalu merasa kesepian ketika Zefon beranjak dewasa. Karena Zefon sudah asyik dengan dunianya sendiri.


“Hah?” Yura menelan saliva gugup. Belum apa-apa sudah ditagih cucu.


“Tenang aja, Ma. Beres!” sahut Zefon menggenggam jemari istrinya sembari melempar senyum. Yura hanya mendelik dengan wajah memerah. Untung saja tidak ada siapa pun selain mereka dan para pengawal. Setidaknya Yura tidak terlalu malu akan pembicaraan frontal itu.


 


Bersambung~


Besty... Berikut rekomendasi novel keren kali ini. Karya dari Crazy_girls dengan judul Duda Tampan Misterius. Maaciii