Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
BAB 46 : HANYA BONEKA


Di tengah ketegangan pasangan itu, Max mengembuskan napasnya dengan kasar. Saat menaikkan pandangan, matanya membeliak lebar mengetahui anak buahnya bersimpuh sembari mengarahkan senjata pada Yura.


Pegangan Zefon yang melemah karena tidak fokus, membuat Max mudah melepaskan diri. Tubuhnya memberontak dan berlari cepat untuk berdiri di belakang Yura.


DOR!


Suara tembakan menggelegar di pelataran luas itu. Zefon yang tanggap segera menghabisi pria itu dengan revolver miliknya.


Yura menoleh, tubuh Max luruh ke tanah. Peluru bersarang di dadanya, darah segar menyembur begitu deras dari sana. “Max!” panggilnya dengan suara bergetar.


Ia berjongkok dan membalik tubuh lelaki itu. Tangisnya semakin pecah melihat senyum pucat dari bibir lelaki tampan di pangkuannya.


“Jangan sentuh dia, Yura!” pekik Zefon yang kini justru menodongkan senjata pada kepala Yura. Api seakan melahap seluruh tubuhnya. Sedangkan Yura hanya bergeming tidak berani bergerak lagi.


“Ja—ngan sakiti Yura. Izinkan aku bicara dengannya sebentar. Kumohon,” ucap Max terbata-bata. Napasnya mulai tersengal. Ia segera mencari tangan Yura dengan tangan kirinya yang tidak terluka. “Maaf mengecewakanmu. Cukup dengarkan, tidak perlu jawab atau balas.”


Max tampak mengatur napasnya yang semakin berat. Yura menekan dada Max yang masih mengucurkan darah dengan sangat deras.


“Yu—yura, aku terpaksa bergabung dalam dunia hitam ini. Mereka akan membunuhku kalau tidak menurut.” Max menelan salivanya dengan berat. “Yura, aku ... men ... cintaimu!”


DOR! DOR!


Ungkapan itu menjadi penutup usia Max. Tidak boleh ada lelaki lain yang mencintai istrinya. Berani mengucapkannya, maka nyawanya siap melayang saat itu juga di tangan Zefon. Dua kali Zefon menarik pelatuknya tepat pada jantung lelaki itu.


“Max!” jerit Yura dengan dua tangan terkepal di dada Max yang berlumuran darah. Tubuh lelaki itu terbujur kaku seketika, sepasang matanya terpejam dengan rapat.


Hati Yura campur aduk, sedih, sesak, kecewa dan takut bercampur menjadi satu. Tubuhnya melemas, terjatuh tepat di samping tubuh Max.


“Kak! Apa yang kamu lakukan?” seru Gala yang menyaksikan perdebatan saudaranya itu. Bahkan gurat kemarahan masih terlihat jelas dari wajah tampan Zefon.


Kedua bahu kokoh Zefon naik turun dengan cepat. Emosinya menanjak dengan begitu cepat, ketika melihat respon Yura pada lelaki asing yang menjadi musuhnya. Namun, segera tersadar bahwa ia telah menakuti wanitanya sendiri. Bahkan sempat membentaknya.


“Berarti bukan dia ketua Klan Ganesha!” gumam Zefon mengepalkan tangannya erat-erat. “Jadi mereka hanya mengirim bonekanya saja?” sambungnya lagi.


“Maaf, aku lepas kendali,” gumamnya menciumi kening Yura. “Maaf, aku tidak sengaja membentakmu, Yura,” lanjutnya penuh sesal. Menyeka air mata Yura dan merapikan anak rambut yang berantakan.


“Kamu milikku! Tidak ada yang boleh merebutmu. Meski hanya sekedar ucapan!” Zefon mengeratkan pelukannya. Ia segera membawanya kembali ke mobil. Sepertinya, tidak akan baik jika ia harus membawanya ke markas, sebelum semua dibereskan.


“Kak, bawa saja ke Villa Anggrek. Sepertinya kakak ipar syok berat. Nanti aku hubungi grandma,” ucap Gala bicara sendiri.


Zefon tak menyahut, memapah istrinya hingga mendudukkan di mobil. Sebelum ada serangan lagi, Zefon segera duduk di balik kemudi dan melajukan mobilnya.


\=\=\=\=ooo\=\=\=\=


Sementara itu di tempat yang berbeda....


“Sial! Bodoh sekali mereka!” umpat seorang pria kekar dengan tato gajah di lengannya. “Tapi tidak masalah! Karena sudah berhasil menghancurkan markas itu. Hahaha! Kita impas!” sambungnya mengepalkan kedua tangan dengan sorot mata yang tajam.


“Hahaha! Uhuk-uhuk!” Sarah ikut tertawa, akan tetapi tiba-tiba batuk dan tidak bisa dikendalikan.


“BRAK!”


Pria itu menendang kursi yang diduduki Sarah hingga wanita itu terjengkang dari kursi. Batuknya tak kunjung reda.


“Pembawa virus!” cibir lelaki itu menatap Sarah dengan tajam.


Sudah jatuh tertimpa kursi, Sarah merangkak dan menjauh. Ia beralih ke toilet karena tidak tahan dengan dadanya yang kian sesak. Darah pun mengalir dari kedua lubang hidungnya.


Bersambung~


Novel Keren Kak Desy Puspita nih. Mampir yaak sambil nunggu up lagi