Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
Bab 63 : Mengingatkan


Zefon mendaratkan bokongnya di atas ranjang, tepat di hadapan Zeva, tanpa melepas tautan mata mereka. Yura meraba bahu Zefon, merunduk hingga bibirnya sejajar dengan telinga suaminya. “Aku tinggal ya, tolong yang sabar,” gumam Yura meninggalkan kecupan di pipi Zefon. Ia percaya sepenuhnya pada sang suami.


Yura melenggang pergi, meninggalkan kamar yang antah berantah. Sebelum menutup pintu kamar, Yura sempat menatap dua kakak beradik yang masih saling beradu pandang. Menghela napas berat lalu merapatkan pintu itu.


“Nyonya, Anda tidak apa-apa?” tanya kepala pelayan merasa khawatir. Hendak melesak masuk, tidak berani. Karena Zefon sudah berada di sana.


“Tidak apa-apa, Paman. Tolong nanti kalau mereka sudah bicara langsung bersihkan kamar Zeva ya. Aku mau mandi dulu,” ujar Yura lalu melenggang ke kamarnya. Ia sempat menoleh pada Calvin yang terlibat pembicaraan serius. Sedari tadi sibuk menerima telepon dari anak buahnya. Merasa risih, Yura segera naik untuk membersihkan diri.


...\=\=\=ooo\=\=\=...


Di kamar Zeva....


“Lepasin aku, brengsek!” geram Zeva memberontak. Tapi Zefon segera menekan kedua kaki Zeva. Menatapnya lekat-lekat.


“Hai, cucu kesayangan Opa yang paling manja.” Zefon menahan nada suaranya agar tidak bergetar. Meski tenggorokannya tercekat, lelaki itu menekan kesabaran dan emosinya yang ingin meledak.


“Apa kamu lupa, cita-citamu ingin menjadi desainer hebat seperti Oma? Kamu lupa ketika mama menangisimu berhari-hari ketika kamu harus belajar di Korea? Kamu lupa menagih janjimu, ketika pulang dari pendidikan kamu ingin ke markas bersama Kakak? Kamu juga selalu marah setiap Papa memanggil kita dengan nama yang sama, Ze? Tidakkah kamu ingat semua itu Zeva?” tambah Zefon dengan mata berkaca-kaca.


Tidak ada respon apa pun, sorot mata Zeva memendarkan amarah. Cengkeraman tangannya semakin kuat dengan geraham yang mengetat.


Zefon menjulurkan tangannya hendak membelai puncak kepala Zeva. Tapi dengan sigap gadis itu mundur, enggan disentuh oleh lelaki itu. Lengan Zefon masih menggantung di udara, napasnya berembus dengan berat. “Apa yang terjadi padamu, Zeva?”


“Saya tidak mengenal Anda maupun keluarga Anda!” tegas Zeva dengan nada ketus.


Zefon beranjak berdiri, ia bergegas keluar dari kamar. Zeva hanya memutar bola matanya malas. Namun, tak berapa lama Zefon kembali dengan sebuah bingkai foto berukuran lumayan besar. Ia memeluk foto itu dan memperlihatkan pada Zeva.


Tak dapat dipungkiri, gadis itu tercengang. Terlihat jelas dari kedua netranya yang membelalak, mulutnya menganga. Tapi pandangannya tertuju pada sepasang pria dan wanita yang terlihat sudah berumur. Keningnya berkerut dalam.


Ketukan pintu membuyarkan ketegangan di antara keduanya. Zefon mendesah kasar, ia beranjak untuk membuka pintu.


“Ze,” panggil Dokter Luna yang datang atas perintah Zefon.


“Aunty, dia nggak ingat apa-apa. Tolong periksa kondisinya. Atau kalau perlu, beri dia obat penenang dulu. Takutnya dia menyakiti Aunty,” ujar lelaki itu.


Luna melongokkan kepala, meski sudah dijelaskan Zefon sebelumnya, tetap saja dia terkejut melihat keberadaan Zeva secara langsung. “Baiklah, aku akan memeriksanya,” tutur Luna melenggang masuk.


Saat Zefon hendak mengikuti, suara Calvin menghentikannya. “Tuan! Mereka menemukan beberapa mayat di kediaman Boris dan ....”


 


Bersambung~


 Rindu sekaliii dengan Couple ini... maapken lama beud baru up. pun cuma seuprit. kemarin baru nginep di hotel beberapa hari, cuma bisa ngetik dikit doang di sebelah 😂 bengkak soalnya tangannya.