
“Iya, Ma!” jawab Zefon mengangguk berulang. Ia mencium telapak tangan sang mama berulang kali. Kemudian memapahnya berjalan keluar kamar.
Tiba di kamar Yura, wanita itu masih menangis menoleh ke samping membelakangi pintu. Bahkan isaknya masih terdengar.
“Ze?” tanya Cheryl pada putranya.
“Salahku, Ma,” aku Zefon menunduk.
Cheryl bergegas mempercepat langkah. Berdiri tepat di hadapan menantunya. Membungkuk lalu menyeka air mata wanita itu dengan lembut.
“Sayang?” panggil Cheryl.
“Ma. Mama baik-baik aja, kan?” tanya Yura, tangisnya semakin deras.
Cheryl mendudukkan tubuhnya di kursi. Menggenggam tangan sang menantu, senyum lembut terurai dari bibirnya. “Iya, Sayang. Mama baik-baik aja. Terima kasih ya, sudah melahirkan cucu untuk Mama,” ucap Cheryl mencium kening Yura cukup lama.
Wanita yang baru saja mendapat gelar seorang ibu itu tersenyum, kelopak matanya terpejam sesaat. Rasa hangat menjalar dalam tubuhnya.
“Selamat Yura, Zefon, tanggung jawab kalian semakin bertambah!” ujar Jourrel.
“Iya, Pa. Terima kasih,” sahut Yura tersenyum pada ayah mertua yang jarang sekali bicara itu.
“Kak,” panggil Zeva.
Yura mengerjapkan mata, Cheryl beralih mundur untuk memberi tempat pada putrinya.
“Maafin aku ya, Kak,” tutur Zeva menggenggam tangan Yura.
“Kamu ....”
“Aku sudah mengingat semuanya. Mama, Papa, Kak Zefon dan ... Oma, Opa!” Zeva menoleh kilat. Wajahnya pucat pasi mengingat kedua kakek neneknya. "Kak, Oma dan Opa?" tanya gadis itu pada sang kakak.
“Tenang aja, Oma dan Opa sekarang sudah di rumah. Mereka selamat, berkat kekasihmu!” cetus Zefon seketika membuat wajah Zeva merona merah.
Jourrel dan Cheryl serempak melebarkan mata dan menatap putrinya. Mereka berdua langsung mencecar gadis itu dengan segudang pertanyaan.
“Mau cerita sendiri apa Kakak yang cerita?” tawar Zefon menggodanya.
“Sendiri aja. Tapi janji, Mama dan Papa jangan marah.” Zeva menatap kedua orang tuanya.
Mereka semua terdiam, Cheryl bergeming dalam keterkejutannya. Hingga Jourrel menyenggol lengan istrinya sembari mengangguk.
“Iya, Mama janji,” ucap Cheryl menatapnya serius.
Zeva menarik napas dalam-dalam sebelum membuka suara. Mengembuskannya kasar lalu mulai bercerita awal ia sadar dari kecelakaan dan dipertemukan dengan Boris. Kebersamaannya setiap waktu, ditambah Boris yang turut merawat dan mengajarinya banyak hal membuat Zeva yakin jika pria itu adalah kekasihnya. Hingga lama kelamaan rasa itu pun tumbuh di hatinya.
Zeva tidak menceritakan seluruhnya, hanya mengenai bagaimana hubungannya dengan Boris. Takut sang mama akan syok dan terjadi sesuatu yang buruk.
“Ah, Ya Tuhan. Lalu di mana lelaki itu sekarang? Mama mau ketemu sama dia!” tanggap Cheryl setelah Zeva menyelesaikan ceritanya.
Zeva langsung menoleh pada sang kakak. Ia tahu jika Boris masih berada di bawah tekanannya.
"Ada, Ma. Nanti Zefon minta ke sini,” ujarnya setelah mendapat tatapan maut adiknya.
Zeva tersenyum tipis, jika sudah seperti itu berarti restu sang kakak sudah dikantongi. Tinggal kesan mama dan papanya setelah bertemu dengan lelaki pujaannya itu.
“Enggak sekarang. Kalau kamu sudah pulih saja! Mama mau lihat cucu dulu. Mama tinggal enggak apa-apa ‘kan, Sayang?” tanya Cheryl pada menantunya.
“Iya, Ma. Enggak apa-apa,” sahut Yura.
“Zefon, kamu harus jaga Yura baik-baik. Dia sudah kesakitan mengandung dan melahirkan buah hatimu. Jangan tambah lagi rasa sakitnya!” titah Cheryl memperingati putranya.
“Siap, Ma!” Zefon langsung memeluk istrinya, menciumi pipinya berulang-ulang.
“Yaudah Mama pamit dulu. Dan kamu Zeva kembali ke kamar. Dokter belum periksa sudah kelayapan ke mana-mana!” Cheryl menggerutu sembari melenggang keluar.
Zeva berbisik pada sang papa, segera diangguki oleh lelaki paruh baya itu. Mereka juga turut keluar dari ruangan Yura dan membiarkannya beristirahat.
\=\=\=\=000\=\=\=\=
“Lho, kok kalian ke sini?” tanya Cheryl saat menemukan suami dan putrinya di belakangnya.
“Bentar, Ma. Mau lihat ponakan aku dulu,” pinta Zeva melongokkan kepala ke sana ke mari mencari nama sang kakak.
Cheryl mendengkus, mereka belum diperkenankan masuk. Hanya mengintip dari balik jendela bening yang besar. Senyum mereka merekah kala menemukan bayi atas nama Zefon dan Yura di dalam inkubator. Tubuh mungil yang terus bergerak meski banyak alat-alat yang menempel di tubuhnya.
“Kecil sekali cucuku. Lekas sehat, Sayang. Biar Oma bisa peluk kamu,” ucap Cheryl meraba dinding kaca yang mengarah pada cucunya.
\=\=\=\=000\=\=\=\=
Keesokan paginya, sesuai janji, Zefon membiarkan Boris datang ke rumah sakit. Pertemuan singkat antara Boris dengan orang tua Zeva cukup menegangkan.
Tidak banyak kata, cukup tatapan intimidasi membuat Boris langsung mengungkapkan kesungguhannya. Ia yang hanya sebatang kara ingin mempersunting putri mereka.
Ketegangan baru berakhir ketika Cheryl dan Jourrel memberikan jawaban sepenuhnya pada Zeva. Dua sejoli itu tentu sangat bahagia. Bagi Cheryl maupun Jourrel, yang penting putrinya bahagia. Semua keputusan ada di tangannya.
\=\=\=\=000\=\=\=
Zeva sudah membaik, sore itu ia berangkat ke mall bersama Boris untuk berbelanja segala keperluan keponakannya. Gadis itu sangat bersemangat sekali diberi mandat oleh sang kakak dan kakak iparnya.
“Aku tidak menyangka, impianku sebentar lagi akan terwujud,” ucap Boris mendorong trolly yang penuh dengan barang-barang bayi. “Ini bisa dibilang simulasi kalau kita belanja untuk bayi kita kelak,” sambung lelaki itu.
Zeva terkekeh mendengarnya, “Emmm anggap aja begitu. Ah ini udah larut malam. Besok kita lanjutkan lagi kalau masih ada yang kurang. Udah dulu yuk,” ajak Zeva merangkul lengan kekasihnya menuju kasir.
Selesai pembayaran, mereka makan malam terlebih dahulu. Banyak sekali yang mereka bicarakan, Zeva banyak bertanya apa yang terjadi pada Boris selama mereka tidak bertemu.
“Aku takut banget kalau kakakku akan membunuhmu,” ucap Zeva.
“Tidak! Kakakmu sangat menyayangimu. Karena itu, dia justru memberi aku kesempatan untuk membuktikan cintaku padamu,” tutur lelaki itu.
“Emmm ... yaudah yuk. Pulang!” ajak Zeva, malam sudah semakin larut.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada beberapa mobil yang mengikutinya. Bahkan ada pula yang melepaskan tembakan, hingga Zeva menjerit karena terkejut.
“Kencangkan sabuk pengaman!” tutur Boris fokus mengendalikan mobilnya.
Bersambung~