
Zefon dengan telaten memasangkan sabuk pengaman pada tubuh istrinya. Sedangkan Yura sibuk sendiri dengan revolver miliknya.
“Gini ‘kan tadi?” tanya Yura setelah Zefon duduk di sampingnya, sembari menarik tuas senjata apinya. Menumpukan benda berbahaya itu di pangkuan sang suami.
Pasangan pengantin baru itu sudah mengenakan helm yang terdapat intercome untuk berkomunikasi dan meredam kebisingan baling-baling helikopter.
“Ays! Jangan diarahkan ke sini! Praktiknya langsung di lokasi saja.” Zefon panik, takut tiba-tiba timah panas itu nyasar di bagian terpenting dalam hidupnya.
“Ih takut banget. Tenang aja, aku bisa fokus kok! Terus isi amunisinya gimana?”
Zefon meraihnya, menunjukkan cara untuk mengisi amunisi. Dalam dua kali percobaan, Yura memekik kegirangan karena langsung paham dan bisa.
“Jadi markasmu ada berapa?” Kesempatan bagi Yura untuk mengenalnya lebih dalam lagi.
“Dua! Di Palembang peninggalan kakek,” tutur Zefon sembari menghirup udara dalam-dalam, mengembuskannya dengan kasar. Dadanya tiba-tiba merasa sesak.
“Apa kita langsung ke sana?”
“Tidak! Ke tempat sepupuku dulu. Kalau masih ada penyerangan, kita turun langsung!”
Yura mengangguk, kembali menyisipkan senjatanya. Lalu meraih tangan Zefon dan memasukkan jemari lentiknya di sela jari besar suaminya.
Zefon langsung menoleh, netra elangnya menangkap senyum yang berpendar dari sang istri. Seketika langsung menghangatkan hatinya. Andai saja tidak sedang menggunakan earphone dan intercome yang mengganggu, pasti sudah habis bibir mungil itu karena ulahnya.
“Semangat!” tutur Yura.
Beberapa bawahan Zefon langsung terjun ke lokasi. Setelah 4 jam perjalanan, heli yang ditumpangi Yura dan Zefon turun di roof top gedung bertingkat. Hanya pasangan itu, dengan tiga pengawal saja seperti yang sudah diperintahkan oleh Zefon.
Genggaman tangan mereka semakin erat. Yura pun bisa menyesuaikan langkah panjang sang suami, meski masih kepayahan. Feelingnya mengatakan, bahwa ini ada hubungannya dengan Sarah juga. Mengingat, tim Zefon kesulitan mencari jejaknya. Apalagi sebelumnya memang sudah jelas, dengan siapa Sarah berlindung.
“Gala di dalam?” seru Zefon berhenti di lantai teratas gedung tersebut.
“Iya, Tuan. Mari saya antar. Anda sudah ditunggu,” tutur seorang wanita bergegas mengantarnya ke ruang meeting.
“Terima kasih,” ucap Yura sopan setelah dibukakan pintu oleh wanita itu.
"Sama-sama, Nona. Permisi."
Sedangkan Zefon hanya diam saja dengan raut yang menyeramkan. Tangannya sama sekali tak melepas genggaman sang istri. Bahkan semakin kuat.
“Gala!” panggil Zefon sembari memperpanjang langkahnya agar lekas sampai pada sepupunya itu.
“Situasi saat ini, Kak. Sepertiga bangunan hancur, mereka sepertinya sudah meracik bom yang bisa menembus setiap kaca bangunan! Apalagi yang diserang adalah gudang bahan baku perakitan senjata api. Karenanya ledakan dahsyat langsung terjadi. Bahkan ratusan anggota tidak sempat menyelamatkan diri.” Gala menjelaskan beberapa sisi gedung yang hancur.
Api masih menyalak-nyalak di beberapa bagian. Bahkan terlihat jelas ratusan anggota klan terluka parah, kemungkinan ada yang meninggal.
Tangan Zefon mengepal dengan sangat kuat. Darahnya mendidih melihat kekacauan di markas pertamanya. “Sial!” teriaknya mengentak kepalan tangan di meja Gala.
Yura terperanjat, memejam sesaat lalu mengusap lengan suaminya perlahan. Netranya juga menyaksikan sendiri hancurnya bangunan beserta para anggota klan.
“Apa ini ulah dari Klan Ganesha?” tanya Zefon dengan suara sedingin salju.
“Kita bisa usut nanti. Satu km arah barat daya dari markas, sepertinya masih ada anggota musuhmu yang di sana. Cepatlah bergerak sebelum mereka kabur! Aku pantau dari sini!” desak Gala memperbesar salah satu gambarnya, yang memang menunjukkan beberapa orang bersenjata tengah tertawa puas.
Zefon mengangguk, lahar amarah sudah mulai memuncak dan hampir disemburkan.
“Kak!” panggil Gala melempar alat komunikasi dan kunci mobil. “Pakai itu saja biar cepat!” titahnya.
Zefon mengangguk mendapat dua handy talki dan sebuah kunci mobil. Ia serahkan pada Yura satu dan satu lagi untuknya. Saat hampir melenggang, suara Gala menghentikannya.
"Kak Ze, kalau sudah beres kembali ke rumah! Kamu belum mengenalkan wanitamu!" teriaknya.
Zefon hanya mengangguk menoleh pada Yura kemudian segera berlari keluar ruangan tanpa mengucapkan apa pun. Yura menatap benda yang mirip telepon di tangannya. “Ini gimana cara menggunakannya?” teriak wanita itu dengan panik, turut berlari. Ia bahkan sampai lupa dengan rasa sakit yang tadi masih mengganggunya.
“Nanti aku jelaskan sambil jalan!” Satu langkah Zefon, merupakan dua langkah kaki Yura. Meski napasnya terengah-engah, Yura masih mampu mengejar suaminya hingga kini sampai di basemen.
Zefon menyalakan alarm mobil sambil terus berlari. Suara dan lampu yang berkedip tentu menarik perhatian mereka.
“Di sana!” teriak Yura yang menemukan lebih dulu.
Melalui puluhan mobil yang berjajar, sampai keduanya masuk di posisi masing-masing secara bersamaan. “Pakai seatbeltnya!” titah Zefon langsung melajukan mobil keluar dari perusahaan dengan kecepatan tinggi.
Bersambung~
next rekomendasi seru guys...karya Alya Lii berjudul Melawan Restu. Mampir yak...