
“Bisa tolong berikan telepon pada Kak Zefon?” pinta Gala pada Calvin.
Calvin mengangguk, meski sama sekali tak terlihat di mata Gala di seberang sana. Ia segera beranjak dan menghampiri bosnya, “Tuan,” ujarnya menyodorkan ponsel pada Zefon.
Zefon mendesah kasar, meletakkan benda pipih itu di telinga, “Ya Gala!” Suaranya terdengar lemah tak bertenaga.
“Kak, Kakak yakin itu Kak Zeva? Bukankah hari itu Kakak melihatnya secara langsung saat pemakaman?” cecar Gala. Karena saat itu semua keluarga Palembang terlambat datang. Ada kendala pada pesawat yang mereka tumpangi. Sedangkan pemakaman tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
“Saat itu aku baru pulang dari luar negeri, tidak kuat melihat mereka secara jelas. Semua wajah mereka sudah tertutup. Aku hanya melihat foto mereka di atas peti mati itu, Gala. Tubuhku sudah luruh ke lantai. Tak kuasa melihatnya. Apalagi aku dengar dari Calvin, katanya mendapati luka bakar juga di tubuh mereka. Tidak ada yang sanggup melihatnya. Mama sendiri pingsan berkali-kali, papa harus menenangkannya,” papar Zefon menjelaskan situasi sebelum pemakaman.
Gala terdiam sesaat mencerna semua perkataan sepupunya. “Kak, rumah sakit mana yang saat itu memberi keterangan?” sela pria itu.
“Kalau tidak salah RS Sejahtera.”
“Dokter yang menangani dan memberi keterangan waktu itu harus kita periksa, Kak! Rekaman ini sepertinya butuh waktu untuk memulihkannya. Karena file asli sudah dirusak, Kak! Tidak bisa tersedia saat ini juga,” tukas Gala menyuarakan apa yang ada di otaknya.
Kening Zefon mengerut dalam, ia baru bisa menangkap keterangan dari sisi lain. Ya, tugasnya kini bertambah untuk mengumpulkan bukti-bukti itu. Panggilan mereka akhiri. Zefon kembali pada asistennya, menopang kedua lengan di meja melayangkan tatapan tajamnya. “Cari tahu Dokter yang menangani kematian Oma, Opa dan Zeva waktu itu. Lalu, bagaimana dengan rumah Boris? Apa sudah menemukan sesuatu?” cecar Zefon dengan wajah serius.
Belum sempat menjawab, sebuah ketukan pintu membuyarkan ketegangan di ruangan kedap suara itu.
\=\=\=000\=\=\=
Beberapa menit yang lalu ....
Sembari menunggu Zeva lebih tenang, Yura beranjak ke dapur untuk mengambil sarapan. Beberapa pelayan sudah merapikannya di meja.
“Nyonya, ada yang bisa saya bantu?” tawar salah satu pelayan.
“Eee ... bisa minta tolong siapkan sarapan untuk Zeva, Bi?” Yura celingukan saat mencari peralatan dapur. Dia memang belum terlalu mengetahui detail lokasi di Mansion itu.
“Biar aku aja, Bi.” Yura mengambil alihnya. Meski ragu, senyum dan tatapan Yura seolah meyakinkan.
Makanan berpindah ke tangan Yura. Ia menghela napas panjang menatap nampan tersebut, barulah melangkah tegap menuju kamar Zeva yang sudah berhenti berteriak. Mungkin sudah merasa lelah.
“Pagi, Zeva,” sapa Yura dengan suara lembut.
Zeva langsung melemparkan tatapan tajam padanya. Giginya terdengar bergemeletuk hebat. Kedua tangannya pun mengepal dengan kuat.
“Lepasin aku!” tegas Zeva dengan suara tajamnya.
“Tenanglah, kami tidak akan menyakitimu selama kamu menurut,” tutur Yura semakin dekat. Ia sedikit was-was. Tetapi, Yura mencoba menutupinya dan menutup perasaan itu dengan kelembutannya. “Makanlah dulu, kamu pasti lapar. Kata Bibi, ini makanan kesukaan kamu,” tambahnya menunjuk nampan di depan dengan manik matanya. Senyum terus terurai dari bibirnya. Sangat berbeda jauh dibanding pertemuan pertama mereka.
Zeva terhenyak, menatap makanan itu bergantian dengan Yura. Beberapa detik kemudian, kaki Zeva justru menendang nampan tersebut dari bawah. Semua makanan, berhamburan, serpihan piring dan gelasnya pun pecah setelah mengenai tubuh Yura. Suaranya menggelegar hingga terdengar keluar kamar.
“Gue enggak butuh dikasihani!" seru Zeva memicingkan mata dengan tajam.
Seseorang mengetuk pintu ruang kerja Zefon, mengabarkan bahwa Zeva mengamuk pada Yura. Mendengar itu, Zefon dan Calvin segera bergegas turun ke lantai satu. Meninggalkan Gala yang masih berperang dengan teknologi canggih yang ia kuasai seorang diri.
“Yura!” pekik Zefon segera menarik lengan Yura, menatapnya khawatir dari ujung rambut hingga ujung kakinya. “Kamu terluka?” tanya Zefon menangkup kedua pipi Yura.
“Enggak,” sahutnya menggeleng.
Zefon mengalihkan pandangan pada Zeva. Dua pasang netra itu saling beradu, tatapan yang sama-sama tajam. Namun, mampu menggetarkan hati mereka masing-masing.
Bersambung~