Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
BAB 54 : Pengaduan Yura


“Sayang, udah jangan digodain lagi! Nanti Yura enggak nyaman,” sergah Khansa menyentuh bahu suaminya.


Leon langsung mengatupkan bibirnya, melanjutkan santap pagi itu dengan tenang. Yura beralih menatap suaminya, menaikkan sepasang alisnya seolah tengah bertanya. Namun, Zefon hanya menjawab dengan mengedikkan bahunya. Hening, hanya denting sendok yang mulai beradu.


“Oiya, Ze, mamamu enggak pernah pulang?” tanya Leon usai sarapannya selesai.


“Pulang waktu kami nikah aja, Grandpa. Terus balik lagi, ke Medan kayaknya,” sahut pria muda itu.


“Pulang-pulang nanti bawa adek buat kamu, Ze. Saingan sama Yura!” celetuk Leon membuat Yura tersedak ludahnya.


Khansa mencubit pinggang suaminya dengan gemas. Bicaranya selalu ngawur. Leon hanya meringis menahan sakit.


“Biarin aja, Grandpa. Yang penting Mama seneng dan bisa mengalihkan kesedihannya,” balas Zefon dengan entengnya.


“Brak!”


Tiba-tiba Leon menggebrak meja makan hingga membuat semuanya terperanjat kaget. Tatapannya berubah serius dan mengintimidasi. “Kamu ini kurang ajar sekali. Menikah tapi tidak mengundang kami!” sembur Leon dengan suara tegas.


Zefon mengelus dadanya, khawatir jika ada sesuatu yang menyinggung pengganti kakeknya itu. “Astaga, Grandpa. Bisa nggak jangan bikin kejut jantung?” protes Zefon mendengkus kesal.


“Ya habisnya kamu melupakan kami di hari bahagia kamu!” seru lelaki tua itu berkacak pinggang.


“Mendadak, Grandpa. Kami nggak ada persiapan apa pun. Dia aja ngajak nikah kaya ngajak berantem.” Bukan Zefon yang menimpali, melainkan Yura. Wanita itu melirik sang suami yang hanya mengusak rambutnya, salah tingkah. “Masa dia bilang gini, ‘Menikahlah denganku! Tidak menerima penolakan. Aku akan mengurus semuanya,’ gitu. Terus seminggu setelahnya cuma nikahan aja, Grandpa. Enggak ada acara apa-apa,” papar Yura sambil menirukan cara suaminya saat mengajaknya menikah beberapa waktu lalu.


Khansa dan Leon sampai saling pandang. Suara Yura memang lembut, tapi benar-benar membuat keduanya terkejut.


“Astaga, Zefon!” Khansa menghela napas panjang sembari menggeleng.


“Kamu itu ngajak nikah apa ngajak dinner, Ze? Ck! Enggak romantis sama sekali. Dasar cucu Tiger!” umpat Leon menyandarkan punggungnya.


“Cucu Grandpa juga ya!” sungut Zefon menautkan alisnya.


“Masih mending Zefon ada kata-kata ajakan. Dari pada kamu, mau nikah malah ngajak berantem,” sinis Khansa memicingkan mata pada suaminya.


Leon langsung meraih tangan istrinya, “Ya, kita ‘kan beda, Sayang!”


“Beda apanya? Kamu lebih enggak romantis! Mana nggak hadir pula! Udah gitu, pake ngancem-ngancem segala pas udah nikah!” protes Khansa.


“Buahahaa!”


Zefon tertawa terbahak-bahak mendengar perdebatan tidak penting dari pasangan lawas itu. Yura sampai mengalihkan pandangan demi bisa mengulas senyuman.


“Apa ketawa-ketawa?”


“Enggak, Grandpa,” elak Zefon. “Ehm! Makasih sudah menerima Yura di sini, Grandma, Grandpa. Setelah ini kami mau pamit. Karena ayah mertua sakit,” sambungnya kembali serius.


“Yah, padahal kami masih pengen Yura ke sini. Semoga lekas sembuh ya, Sayang,” tutur Khansa.


“Terima kasih, Grandma.” Yura tersenyum menanggapi.


Menjelang siang, pengantin baru itu telah tiba di markas Klan Black Stone. Suasana masih cukup berisik karena masih ada perbaikan di gudang. Yura sedikit kesulitan saat menyamakan langkah suaminya yang panjang dan cepat. Mau tak mau, tangannya meraih ujung jas suaminya.


Seketika langkah Zefon terhenti, ia berbalik dan Yura menabraknya. Dua insan itu pun saling berpelukan, karena Zefon segera meraih pinggang Yura agar tidak terjatuh.


“Pelan-pelan aja bisa nggak sih jalannya?” seru Yura mencebikkan bibirnya.


Sudah menjadi kebiasaan Zefon, melakukan segala hal dengan cepat. Ia sampai lupa jika istrinya mengekori.


“Maaf, aku lupa,” ucap Zefon mengecup bibir Yura.


Wanita itu mendelik, apalagi setelah sadar ada beberapa anak buah Zefon yang standby di sana. Meskipun mereka semua menunduk, tidak berani menatap sang bos.


“Zefon!” geram Yura kesal karena menciumnya tanpa melihat situasi dan kondisi.


Zefon hanya terkekeh, mengacak rambut Yura yang wajahnya memerah. Lalu kembali masuk dan mengumpulkan para anggota klan.


“Perhatian semuanya! Perkenalkan, ini Yura, wanitaku! Hormati dan lindungi dia seperti kalian melindungiku!” tegas Zefon menatap mereka satu persatu.


“Siap, Tuan!” sahut mereka serentak.


Yura sempat bergidik melihat sekaligus mendengar para pria berperawakan kekar, penampilan sangar dan suara serentak mereka yang menggema. Namun, ia berusaha tetap berdiri tegak. Memantaskan diri di samping Zefon, mengingat semua yang telah dilakukan untuknya.


Yura bergerak ke sana ke mari mengekori Zefon yang sibuk mengamati dan memberi instruksi pada para bawahannya. Sesekali ia menguap, karena mengantuk. Tapi dikejutkan suara Zefon yang terkadang berteriak jika melihat kesalahan. Hingga menjelang malam, mereka baru beranjak menuju bandara untuk melakukan penerbangan.


\=\=\=oooo\=\=\=


Calvin sudah bersiap di bandara menjemput sang bos setelah mendapat kabar bahwa Zefon sudah lepas landas. Tidak peduli malam yang telah larut, ia tetap setia berdiri tegap di samping mobil, menunggu pesawat pribadi tuannya landing.


Senyum mulai terulas di bibirnya ketika pintu pesawat telah terbuka. Menampakkan sang bos yang menuruni anak tangga bersama Yura, dengan kedua tangan saling bertautan. Buru-buru ia membukakan pintu mobil.


“Selamat datang kembali, Tuan dan Nyonya muda,” sapa Calvin menundukkan kepala.


“Mmm ... Bagaimana persiapan?” Zefon menepuk bahu asistennya setelah sang istri masuk.


“50%, Tuan. Mungkin sekitar satu bulan lagi kita siap menyerang.”


Zefon mengangguk, lalu segera menyusul sang istri yang sudah duduk tenang di kursi penumpang. Yura masih terjaga, dan tidak bisa tidur sedari tadi. Ia tidak sabar ingin segera bertemu ayahnya.


“Langsung ke mansion, Cal!” titah Zefon.


“Baik, Tuan!”


 


 Bersambung~