Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
BAB 55 : Latihan


Setibanya di mansion, mereka sudah disambut beberapa pengawal yang berjajar rapi di pelataran. Dua orang di antaranya bergegas membukakan pintu untuk tuan dan nyonya mudanya. Mereka membungkuk serentak.


Zefon melenggang mengitari mobil menghampiri sang istri, menyatukan tangan dengan jemari lenti Yura, lalu berjalan beriringan memasuki mansion yang sudah terbuka. Tujuan pertama mereka tentu ruang perawatan sang ayah.


Saat membuka handel pintu, dua perawat yang terjaga langsung menoleh. Anggukan serentak menyambut pasangan suami istri itu.


“Bagaimana kondisinya?” Pertanyaan yang langsung dilontarkan oleh Yura, melepas tautan tangan, melangkah lebih panjang agar lekas sampai pada sang ayah.


“Antidote pertama sudah diberikan, Nona. Beliau memang sempat drop saat antidote itu masuk ke tubuhnya. Tapi sejauh ini, masih bisa dikontrol. Sekitar lima jam lagi, beliau akan sadar,” papar salah seorang suster dengan ramah.


Yura mengangguk dengan senyum tipis, membungkuk lalu mencium kening ayahnya. Air matanya mulai menetes, cepat-cepat menyekanya. “Ayah pasti bisa kuat. Kita akan segera berkumpul kembali, Yah,” ucapnya di telinga Rehan.


Zefon merengkuh bahu sang istri, sembari berbisik, “Kamu juga harus beristirahat.”


Yura menegakkan punggung, menatap suaminya. Senyum tulus terurai dari bibirnya, lalu memeluk tubuh kekar sang suami dengan sangat erat. Tidak tahu lagi bagaimana cara dia berterima kasih pada pria itu, yang sudah memberikan kebahagiaan bertubi-tubi.


...\=\=\=000\=\=\=...


Hanya sekitar dua jam, sudah cukup bagi Yura dan Zefon mengistirahatkan tubuh mereka. Tanpa dipaksa lagi, kini Yura sudah siap dengan pakaian khusus olahraga.


“Mau ke mana?” Zefon menaikkan sebelah alisnya. Ia masih malas-malasan di atas ranjang.


“Ah, kalau lagi enggak pengen aja sampai dipanggul. Kalau udah bersemangat malah dibikin kendor, gimana sih?” gerutu Yura mencebikkan bibirnya.


Zefon terkekeh, ia beranjak dari ranjang mencuri ciuman di bibir Yura sebelum akhirnya ke kamar mandi lebih dulu. Tubuhnya hanya berbalut kaos ketat hitam yang membentuk tubuhnya, dan celana pendek selutut.


Kali ini mereka tidak melakukan di luar mansion, melainkan di ruangan khusus, yang mana terdapat beberapa alat olahraga di sana. Termasuk threadmill.


“Yaampun jadi kenapa kemarin harus keliling mansion sih, padahal lari di sini aja kan bisa?” protes Yura berdiri di samping mesin khusus untuk lari itu.


“Sengaja, pengen ngerjain kamu,” sahut Zefon terkekeh, membuka jendela ruangan agar angin dan cahaya matahari bisa masuk ke ruangan. Yura hanya memiringkan bibirnya, yang justru terlihat lucu di matanya.


Usai pemanasan, Zefon membantu Yura untuk sit up, menduduki dua kaki Yura, memeluk lutut wanita itu sembari memberi semangat. Sesekali iseng, saat Yura dalam posisi duduk, Zefon mendekatkan wajahnya hingga bibir keduanya menyatu. “Biar makin semangat!” ujarnya.


“Tapi seneng ‘kan?” Zefon menimpali.


“Iyalah!” balas wanita itu tertawa.


Setelah beberapa olahraga ringan, Zefon mulai melatih bela diri sang istri, untuk meningkatkan kemampuannya. Latihan serius berbalut keromantisan, membuat Yura salah tingkah sendiri.


“Kalau dikunci dari belakang gini, kamu jangan gerak ke depan,” tutur Zefon melingkarkan lengannya di leher sang istri dari belakang. “Cari celah, agar lenganmu bisa masuk, lalu tepis! Jangan lepaskan, pegang tangannya dan pelintir kalau bisa sampai patah!” sambungnya.


Yura mengangguk paham, ia langsung mempraktikkan ucapan Zefon, menyusupkan kedua tangannya, menepis dan langsung memelintir lengan itu.


“Aaaa! Jangan serius. Ini latihan, Sayang!” teriak Zefon meringis kesakitan, lalu memutar tubuh dan menjatuhkan istrinya ke matras, namun kedua tangannya menumpu kepala Yura agar tidak terbentur dengan keras. Tidak mungkin ia memukul balik istrinya.


Yura mengerjap lembut, matanya saling bertautan lekat. “Kamu panggil apa tadi?” tanya Yura menahan dada Zefon.


“Apa?” Zefon pura-pura lupa.


“Ck! Iiih tadi loh!” decak Yura kesal, mendorong dada suaminya hingga kini posisi mereka berbalik. Yura berada di atas tubuh Zefon.


“Apa sih?” balas Zefon menyeka keringat di kening sang istri.


Yura mengembuskan napas kasar, ia sudah cukup kelelahan. Hendak beranjak namun segera ditahan oleh Zefon, “Iya, iya. Sayang! Gitu aja ngambek!” ucapnya gemas mencium bibir Yura yang menahan senyuman.


Hati Yura bak dihujani ribuan bunga karena dipanggil sayang untuk pertama kali. Wajahnya merona dengan senyum lebarnya. Lalu menjatuhkan tubuh di dada sang suami, memeluknya erat.


“Jangan di sini, keras!” bisik Zefon membuat Yura mendelik dan hendak melepaskan diri.


Bersambung~