Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
Bab 65 : Tidak Ingin Berpisah


Yura bergegas menghampiri Luna yang tengah merapikan alat-alat medis di ruang tengah. Ia duduk berhadapan dengan dokter cantik itu.


“Eee, Dokter, bagaimana kondisi Zeva?” tanya Yura merasa kaku.


Senyum terurai dari bibir Luna, “Panggil aja Aunty. Jangan kaku begitu,” ujarnya. Ia menunjukkan sebuah botol kecil berisi sampel darah Zeva. “Ini harus aku tes dulu, sementara masih tidur dan aku beri obat penenang. Seandainya dia bangun dan masih memberontak lagi, biarin aja dulu. Takutnya menyakitimu. Aku akan usahakan hasilnya secepatnya keluar. Dugaanku, dia mengalami amnesia,” tutur Luna memasukkan sampel darah itu ke dalam tas kerjanya.


“Aku benar-benar tidak mengerti,” ucap Yura menyugar surai panjangnya ke belakang.


“Sama, aku juga tidak mengerti, Yura. Kita tunggu hasil tesnya. Aku langsung ke rumah sakit sekarang. Jangan terlalu lelah ya, biar cepet tumbuh benih di rahimmu,” tukas Luna tersenyum lalu beranjak dari duduknya.


Sontak saja wajah Yura memerah, “Eeem, Iya, Dok. Eh! Aunty,” ujar Yura segera merevisi panggilannya. Ia turut beranjak, meraih tangan Luna lalu menciumnya.


Luna tersenyum, menepuk bahu wanita itu dengan pelan. Menatapnya dengan sayang. “Aku pamit ya. Tidak usah antar.”


“Hati-hati, Aunty.”


Sepeninggalnya Luna, Yura bergegas ke kamarnya. Kekhawatirannya pada sang suami tak terbendung, menyibak selimut dan mengobrak-abrik bantal. Lupa meletakkan gawainya.


...\=\=\=000\=\=\=...


Di sisi lain, mobil yang dikendarai oleh Calvin telah terparkir gagah di depan ruang instalasi gawat darurat rumah sakit yang dituju, diikuti oleh para pengawal dan seluruh jajaran anggota klan Black Stone.


Kedua kaki Zefon melangkah dengan cepat dan begitu panjang. Meski kedua lututnya begitu lemas dan gemetar sedari tadi. Pintu IGD didorong sekuat tenaga, hentakan yang begitu kuat menarik atensi semua petugas medis di sana.


“Di mana, Cal? Di mana Opa dan Oma sekarang?” seru Zefon tidak sabar. Matanya mengedar ke seluruh penjuru ruangan, di mana setiap brankar tertutup tirai berwarna biru yang menjuntai hingga ke lantai, menutup setiap pasien yang ada di dalamnya.


Zefon tampak sedang mengatur napasnya, matanya enggan berkedip dan mempertajam pandangannya. Hingga ketika Calvin membuka sebuah tirai, tubuh Zefon seketika membeku. Seluruh tulang-tulangnya serasa terlepas dari anggota badannya, lemas tak bertenaga. Manik matanya yang hitam mengkilap mulai berlapis cairan bening, memburamkan pandangan. Buliran-buliran bening itu berjatuhan tanpa diminta.


“O ... Oma, Opa....” Tenggorokan Zefon sangat sakit, tercekat dengan dada yang terimpit beban berat.


Wanita tua yang sedari tadi menggenggam tangan suaminya kini menoleh, menggerakkan kepala perlahan. Memperlihatkan wajah sendu dan kesakitannya. Tidak dapat berucap apa pun, bahkan untuk menarik sudut bibirnya saja tak mampu. Tubuh renta itu gemetar hebat. Napasnya mulai tersengal melihat kedatangan cucunya.


BRUGH!


Zefon menjatuhkan tubuhnya di lantai, bersimpuh di kaki omanya. Mencium tangan renta itu bertubi-tubi lalu memeluk tubuh lemah itu dengan sangat erat. “Maafin Zefon, Oma! Maaf! Maaf terlambat menemukan Oma!” ucap Zefon dengan sesal yang membuncah.


Jihan menangis tersedu, ia tidak mampu membalas pelukan cucu kesayangannya. Hanya air mata yang menjawab isi hatinya. Raungan itu memenuhi seisi ruangan, hingga seorang perawat menghampiri.


“Nyonya tidak mau dirawat, Tuan. Beliau sedari tadi hanya ingin menemani suaminya. Padahal tubuh beliau sangat lemah dan butuh perawatan intensif,” lapor perawat tersebut.


Zefon meregangkan pelukannya, menyeka air mata di kedua pipi sang nenek, “Oma, diperiksa ya. Biar sehat lagi,” bujuk Zefon menatap penuh permohonan. Masih dengan air mata yang berlinang begitu derasnya.


Jihan menggeleng dengan sangat pelan, “Ti ... tidak. Oma mau menemani Opa saja. Oma tidak mau berpisah dengan Opa.” Untuk pertama kalinya Jihan bersuara meski sangat lirih dan serak.


Zefon beralih menatap pria tua yang kini tergolek lemas di atas brankar. Selang oksigen sudah terpasang rapi di hidungnya, berikut infus yang menancap di punggung tangannya. Manik biru lelaki itu yang biasanya menyorot tajam, kini tertutup dengan rapat.


“Apa yang terjadi, bagaimana kondisi Opa saya?” seru Zefon beranjak berdiri, menatap perawat yang berdiri di hadapannya.


Bersambung~