Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
Bab 69 : Tiba-tiba Manja


“Aaaa ....” Zefon hanya meringis merasakan pukulan bertubi-tubi yang menghempas bahunya.


“Zefon! Aku sumpahin bintitan!” geram Yura mengentak kedua kakinya. Kekesalan membuncah hingga ubun-ubunnya.


Zefon beranjak, menutup mulut istrinya yang berteriak sedari tadi, “Ssstt, jangan berisik, Sayang. Memangnya kenapa aku mengintip? Bukankah aku suamimu?” bisik lelaki itu di telinga istrinya.


Yura mendorong dada bidang sang suami, wajah cantik itu memerah sepenuhnya, “Kamu memberikan kalung itu sebelum kita menikah, Ze! Dasar mesum!” geram Yura mengepalkan kedua tangan.


Lelaki itu hanya bisa menahan senyum, merengkuh pinggang istrinya dan mencium bibir pink kemerahan wanitanya bertubi-tubi. “Maaf, Sayang. Bukankah ada hal yang lebih penting sekarang? Marahnya ditunda dulu ya,” tutur Zefon dengan suara pelan.


Jika sudah seperti itu, Yura pun hanya bisa menghela napas pelan. Kemarahannya mereda, mau bagaimana lagi? Semua terlanjur. Lagi pula, saat ini mereka sudah menikah.


Zefon meregangkan pelukannya, kemudian fokus dengan percakapan Zeva bersama istrinya.  Keningnya mengernyit dalam, pernyataan Zeva, cukup membuka jalan bagi mereka memecahkan masalah pelik tersebut.


“Aku harus pergi!” tutur Zefon setelah mendengarkan percakapan hingga akhir.


“Ikut!” rengek Yura menggenggam tangan suaminya.


“Kamu belum kenalan sama Oma ‘kan? Temenin Mama dulu, Sayang. Aku mau ke markas menemui Boris. Semoga yang di pikiranku tidak terjadi,” gumam lelaki itu memeluk istrinya.


“Heem. Cepat pulang,” ucap wanita itu manja.


“Seperti bukan Yura ini yang ngomong,” seloroh Zefon terkekeh.


Yura hanya menanggapi dengan mengerucutkan bibirnya. Ia sendiri heran, karena memang sama tiba-tiba merasa ingin selalu berdekatan dengan suaminya. Sedih sekali ketika hendak berjauhan.


“Berangkat ya, Sayang. Aku harus segera selesaikan!” ujar Zefon mencium kening Yura. “Kalau ada pergerakan dari Opa, tekan saja nurse call.”


Zefon tersentak saat istrinya menitikkan air mata. Ia menghela napas berat, “Ayolah, Sayang. Tolong kerja samanya. Enggak lama, aku janji!” ujar lelaki itu tak sabar, sembari menyeka air mata Yura.


Geram, Zefon mengepalkan tangan ke udara. Bingung sendiri dengan istrinya yang tiba-tiba manja seperti itu. Zefon berjalan mundur, sampai pintu terbuka pun Yura enggan menoleh padanya. Beberapa saat kemudian, lelaki itu benar-benar menghilang dari ruangan dingin dan dipenuhi denting monitor detak jantung itu.


“Ma, titip istriku. Dia merajuk. Aku ada urusan sebentar.” Zefon sengaja memotong adegan kangen-kangenan ibu dan anak itu. Melirik pada Calvin yang masih setia berdiri di sana. Calvin bisa menebak dari sorot mata sang bos. Ia mengangguk lalu membantu Zefon melepaskan pakaian sterilnya.


“Iya, Sayang.” Cheryl menanggapi, Zefon mencium tangan ibu dan omanya sebelum meninggalkan rumah sakit.


“Ma, Zefon sudah menikah. Istrinya cantik sekali, masih imut-imut. Nanti Mama kenalan ya. Tapi, Mama juga harus diperiksa dokter dulu. Sebentar aja,” bujuk Cheryl menggenggam jemari ibunya.


“Tapi ... Papamu.” Mata Jihan kembali mengembun, menatap nanar ke arah pintu ICU yang masih tertutup rapat.


Cheryl tersenyum, menggenggam erat kedua tangan renta ibunya, “Mama harus sehat. Papa kalau sadar pasti langsung nyariin Mama. Mau lihat Papa khawatir dengan kondisi Mama? Ada Yura, nanti juga Axel bakal datang. Mama mau ya, dirawat?” tanya Cheryl yang dijawab anggukan kepala oleh Jihan.


Wanita tua itu, akhirnya mau menjalani pemeriksaan. Ia juga mau dirawat inap untuk sementara waktu. Cheryl bersama Jourrel yang menunggunya.


\=\=\=000\=\=\=


Sementara itu, Zefon melesat dengan kecepatan tinggi menuju markasnya. Di jalan, ia juga meminta Gala untuk mencari segala informasi mengenai Rudolf. Lelaki yang ia duga sebagai penyebab semua kekacauan dalam keluarganya.


Butuh waktu dua puluh menit, Zefon segera turun dan melenggang ke penjara menemui Boris. Tangan lelaki itu sudah dibalut perban dan dikeluarkan pelurunya.


Boris tersentak kaget saat pintu terbuka dengan kasar. Apalagi raut wajah Zefon terlihat sangat menyeramkan.


Zefon langsung masuk di balik jeruji besi, mencengkeram kepala Boris dan mengangkatnya hingga kini menengadah padanya. “Apa yang kamu lakukan pada Zeva?” geram Zefon menggertakkan gigi-giginya.


Bersambung~