
“Tuan! Markas di Palembang diserang!” pekik seseorang di ujung telepon.
Zefon memutar pandangannya tepat pada sang istri yang meringkuk di bawah selimut tebalnya. Tangannya mengepal dengan kuat mendengar laporan dari anak buahnya di Palembang. Bahkan sesekali masih terdengar ledakan kecil di ujung sana.
“Aku segera ke sana!” tegas Zefon mematikan ponselnya.
Berpikir sejenak sembari menatap istrinya, lalu bergerak untuk mendekatinya. “Ayo ikut!” ajak Zefon tepat di telinga Yura.
“Jangan ganggu aku dulu,” rengek Yura menutup telinganya.
Akan tetapi, Zefon tidak akan menyerah. Ia tidak ingin meninggalkan istrinya sendirian. Sekalipun di sini sangat aman, ia tetap akan membawa Yura agar selalu di sisinya.
Zefon menyibak selimut hingga tubuh polos Yura kembali terpampang jelas. Meski harus mati-matian menahan gejolak dalam tubuhnya yang kembali ‘on'.
“Aduh, masih sakit. Jangan sekarang!” rengek Yura merebut selimutnya walaupun tidak bisa. Ia benar-benar panik sekarang. Kedua netranya langsung terbuka sempurna.
“Tidak!” sahut Zefon singkat meraup tubuh wanita itu dalam gendongannya.
Tidak berani menatap lelakinya, Yura menundukkan kepala dalam. Bersembunyi di dada bidang sang suami yang sudah menguarkan aroma khas menyegarkan.
Mendudukkan perlahan di dalam bath up, lalu menyalakan krannya, mengatur suhu agar hangat. Tidak terlalu panas maupun dingin. Perlahan lelaki itu mengguyur puncak kepala Yura, menggosoknya lembut hingga benar-benar basah seluruh tubuhnya.
“Aku bisa sendiri!” tolak Yura hendak merebut spons yang sudah dipenuhi sabun.
Namun, Zefon justru menekan pergelangan tangan Yura dan menggosok seluruh bagian tubuh wanitanya tanpa tertinggal sedikit pun. Yura semakin malu, perlahan menengadahkan pandangan hingga bisa melihat keseriusan suaminya saat ini.
“Masih sakit?” tanya Zefon lembut, yang hanya dibalas anggukan oleh Yura.
“Maaf ya,” ungkapnya menyeka pipi Yura yang terkena busa sabun.
Yura menautkan kedua alisnya, ia menemukan sosok yang berbeda dalam diri Zefon. Pemaksa memang, tapi yang membuatnya terkejut adalah sikap manis dan lembut yang ditunjukkan saat ini.
“Anda tidak salah makan?” gumam Yura menatapnya lekat.
Yura sedikit terbiasa, tidak terlalu terkejut dengan sikap tiba-tiba suaminya itu. Kini ia duduk di tepian ranjang, sedangkan sang suami sibuk mencari pakaian di walk in closet.
“Pakai ini!” Zefon menyodorkan satu set pakaian untuk Yura. Ia kembali lagi untuk mengganti baju. Karena sedari tadi hanya menggunakan bathrobe.
“Bukankah ini harusnya kebalik? Dia justru yang melayaniku. Suamiku memang beda,” gumam Yura terkekeh menatap punggung Zefon yang semakin menghilang. Ia segera mengganti pakaiannya di sana.
Tak berapa lama, Zefon keluar dengan pakaian serba panjang dan sebuah jaket anti peluru juga terpasang di badan.
Zefon juga membawa sepatu dan jaket anti peluru yang langsung dipakaikan untuk istrinya.
“Pakai ini!” titahnya dengan wajah serius, memasang dengan benar.
“Kita mau perang?” tanya Yura asal.
Zefon berjongkok, memasangkan sepatu boots hitam di kaki Yura. Ia sampai merasa tidak enak. Tapi, ia sadar, percuma menolak karena tidak akan bisa.
“Apa pun yang terjadi, tetap di sampingku. Aku akan melindungimu!” tegas Zefon beranjak berdiri membelai puncak kepala Yura. “Ikat rambutmu. Kita ke Palembang sekarang juga!” sambungnya beralih pada sebuah laci dan mengambil sebuah revolver kesayangan, lalu diselipkan di pinggangnya.
“Buat aku mana?” tanya Yura yang ternyata berdiri tepat di belakang Zefon sembari mengintip.
Pria itu berjingkat kaget, membalik tubuhnya sembari bersandar di nakas. Menatap istrinya dengan alis saling bertaut.
Bersambung~
rekomendasi novel keren selanjutnya cuss kepoin ya best! karya kak melisa yang berjudul Syakir dan Syakira.