
Best! Babang Icad up lagi minggu depan ya. Karena harus nunggu konfirmasi editor dulu 🙏
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Khansa tersenyum sembari memeluk Yura. Dalam hati tertawa karena tingkah dua sejoli itu. Apalagi  melihat Yura yang memang masih labil. Ia menaksir seusia Zeva—adik perempuan Zefon.
“It's Ok, luapin aja marahmu sekarang. Dan sementara bisa tinggal di sini sama Grandma.”
“Iya, Grandma! Aku nggak mau pulang! Mau di sini aja. Biarin dia sendirian!” ketus Yura mengerucutkan bibirnya.
Sifat keibuan dan kelembutan Dokter Psikiater itu, memang mampu meluluhkan Yura dalam sekejap. “Pintu rumah ini selalu terbuka untuk anak-anak dan cucu Grandma. Tinggallah sepuas kamu, Sayang!" ucap Khansa menggenggam kedua tangan Yura.
“Terima kasih, Grandma,” balas Yura mulai tersenyum.
\=\=\=\=000\=\=\=\=
Kaki Zefon melangkah dengan perlahan. Tarikan napasnya begitu berat melihat puing-puing satu ruangan yang cukup besar. Diikuti beberapa anak buahnya yang menatap iba pada rekan-rekannya yang menjadi korban.
“Beri pengobatan terbaik untuk semua luka mereka, kubur dengan layak untuk mereka yang sudah meninggal. Antarkan jenazah mereka yang masih memiliki keluarga. Jangan lupa beri santunan pada keluarga korban, buatkan data segera, aku akan langsung menandatanganinya,” papar Zefon secara runtut.
Lemah, seperti tidak bertenaga. Matanya masih memerah dan menatap sendu puing-puing bangunan. Kecewa dengan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga amanat sang kakek dengan baik.
“Baik, Tuan!” Mereka segera memecah beberapa tim untuk menjalankan tugas-tugas yang diberikan oleh sang bos.
“Kak!” panggil Gala menepuk bahu Zefon.
Pria itu enggan menjawab, kekecewaan yang mendalam mampu menggerogoti seluruh tenaganya. Pandangannya kosong, tetapi kepalan tangannya begitu kuat. Sesak, oksigen di sekitarnya seolah terkikis habis.
“Aaarggh!” Zefon menerjang jendela dengan kepalan tangannya. Kaca yang didesain anti peluru itu, nyatanya hancur berkeping-keping akibat hantaman kuat dari kepalan tangan Zefon. Tetesan darah mengalir dari punggung tangannya.
“Aku harus membunuhnya, Gala! Dia juga yang telah mengakibatkan Zeva, Kakek dan Nenek pergi,” geram lelaki itu, dadanya naik turun dengan kasar. Giginya bergemeletuk dengan sangat kuat.
“Kamu sudah berjanji pada paman dan bibi, Kak. Polisi bahkan tidak menemukan bukti apa pun dalam kecelakaan itu,” ungkap Gala dengan ragu. Khawatir keselamatannya akan terancam setelah mengatakannya.
Zefon menoleh dengan cepat, kilat tajam kini seakan menusuk bola mata Gala. Hingga lelaki itu menelan salivanya susah payah.
“Polisi? Cuih! Polisi sama sekali nggak berguna! Dipupuk uang langsung kalap. Tidak bisa melihat dengan jernih, mana yang salah dan mana yang benar. Aku sama sekali tidak mempercayainya!” lanjut Zefon menekankan setiap kalimatnya.
Sudah satu tahun berlalu sejak kejadian pahit menimpa keluarganya, Jourrel menahan putranya agar tidak bertindak gegabah hingga berakibat pada keturunannya kelak. Selama ini Zefon memang diam dan menurut. Tetapi setelah kejadian ini, jiwa Zefon seolah baru bangkit dari tidur panjangnya.
Ponsel Zefon berdering. Panggilan segera dijawab, ternyata dari Sean—paman mereka berdua.
“Ya, Paman?” tanya Zefon menurunkan emosinya. Menghela napas panjang.
“Kamu di mana? Bisa ke mansion sekarang? Aku di sini!” ucap Sean di ujung telepon.
“Apa antidot-nya sudah jadi? Paman membawanya? Atau....”
“Datang saja!” potong Sean sebelum semakin banyak pertanyaan yang akan terlontar.
Zefon memejamkan matanya. Pilihan yang sulit. Pulang ke mansion atau tetap tinggal di sana? Hatinya gamang, lagi pula sang istri juga masih di kota itu. Tetapi di sisi lain, ia juga penasaran dengan perkembangan kondisi ayah mertuanya.
Â
Bersambung~