Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
Bab 78 : Kau Kembali?


Luka yang diderita seorang anak, merupakan luka yang juga dirasakan oleh ibunya. Itulah yang dialami Cheryl saat ini. Raungan kesakitan dari Zeva membuat hatinya babak belur.


Cheryl terduduk di lantai koridor depan ruangan Zeva. Tangannya gemetar menghubungi suaminya yang masih berada di Medan.


“Jou,” panggil Cheryl setelah tak lama telepon mereka tersambung.


“Kenapa, Sayang? Kok kamu menangis?” tanya lelaki itu.


“Cepat pulang sekarang. Zeva ada di rumah sakit,” rengeknya memeluk kedua lututnya sendiri. Ia sangat ketakutan. Hari pertama bertemu dengan putrinya, tapi harus berakhir dengan kesakitan seperti itu. Cheryl benar-benar takut. Takut kehilangan untuk yang kedua kalinya.


“Apa? I ... iya! Aku pulang sekarang!” seru Jourrel yang langsung mematikan sambungan ponselnya.


Cheryl langsung memberi tahu alamat rumah sakitnya. Setelah itu memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam tas. Melanjutkan tangisnya, memeluk tubuhnya sendiri.


\=\=\=\=000\=\=\=\=


Beberapa waktu berlalu, di tengah kesendiriannya Cheryl bangkit ketika pintu ruangan telah dibuka.


“Dokter! Bagaimana kondisi putriku?” teriak Cheryl.


“Pasien sedang beristirahat, tensi darahnya sangat tinggi. kami akan kembali untuk memeriksa pasien. Sepertinya ada sesuatu yang memicu dia seperti itu. Permisi, Nyonya,” ucap sang dokter meninggalkan Cheryl.


Ia bergegas masuk, ditatapnya wajah pucat putrinya yang terlelap. Cheryl memeluknya dengan erat. “Jangan pergi lagi, Nak,” ucapnya dengan pelan.


\=\=\=000\=\=\=


Tanpa sadar, Cheryl juga tertidur sambil duduk dan memeluk putrinya. Hingga sebuah tangan besar kini menyentuh bahunya.


“Sayang,” bisik Jourrel di telinga istrinya.


Cheryl mengerjapkan mata, ia menoleh. Ternyata bukan mimpi, sang suami benar-benar berada di depannya saat ini. Wanita itu segera beranjak, memeluk suaminya dengan sangat erat.


“Zeva, Jou. Zeva selamat. Putri kita kembali!” seru Cheryl dengan kebahagiaan meledak.


“Iya, Sayang.” Jourrel menghela napas lega. Ia sangat bahagia akan kembalinya putri kesayangannya. Sayangnya lelaki itu tidak bisa berekspresi. Maniknya berkaca-kaca memeluk erat istrinya, membelai punggung wanitanya dengan lembut.


Lenguhan dari brankar pasien menarik atensi mereka berdua. Zeva mulai mengerjapkan mata, menggerakkan kepala yang terasa pusing.


“Sayang, kamu dengar Mama?” tanya Cheryl di dekat telinga putrinya.


“Ma,” ucap Zeva dengan lirih, “Mama,” sambungnya lagi sembari membuka kelopak matanya dengan cepat. Dadanya naik turun dengan kasar, napasnya memburu.


Cheryl menggenggam jemari putrinya, menunggu respon dari anak gadisnya itu. Perlahan Zeva menggerakkan manik birunya hingga bertumbukan dengan netra yang sang ibu.


“Ma,” panggil Zeva kembali dengan air mata yang mulai menyembur.


“Kamu inget Mama, Nak? Apa kamu sudah mengingat semuanya? Coba ini siapa? Tebak ini siapa, Nak?” tanya Cheryl terisak, menarik lengan suaminya yang berkaca-kaca.


Bibir Zeva bergetar, tangisnya semakin merebak, “Pppa,” panggilnya dengan dada yang sesak.


“Tuhan! Terima kasih!” teriak Cheryl menangis histeris. Ia langsung mengambur ke pelukan putrinya. Diikuti oleh Jourrel yang juga pecah tangisnya. Pria itu memeluk istri dan putrinya dengan erat. Ketiganya hanyut dalam tangis haru dan kerinduan.


Jourrel dan Cheryl serentak menegakkan punggungnya, menoleh pada sumber suara yang ternyata adalah putranya. “Zefon,” panggil Cheryl dalam isak tangisnya.


Pria itu terus melangkah, sampai akhirnya berhenti tepat di samping ranjang adiknya. Ia hanya melipat kedua tangan di dada, menatap Zeva tanpa kata.


Tanpa diduga, Zeva justru langsung beranjak bangun. Menarik ujung jas sang kakak dengan kedua tangannya. Memeluk lelaki itu dengan sangat erat.


“Kak!” panggilnya dengan suara serak.


Akhirnya, penantian berbulan-bulan kini berbuah manis. Zefon sampai tidak bisa berkata-kata saking bahagianya. Ia menepuk bahu adiknya berulang, lalu memeluknya begitu erat.


“Kau kembali? Adik kecilku telah kembali?” gumam Zefon yang tenggorokannya tercekat.


“Maafin aku, Kak!” ucap Zeva penuh sesal.


“Hei, kau lebih bersalah pada kakak iparmu!” ujar Zefon mengingatkan.


Zeva meregangkan pelukannya. Mendongak, menatap sang kakak dengan kedua manik yang basah, “Di mana Kakak Ipar? Bagaimana kondisinya?”


“Ze, gimana Yura dan bayinya? Mereka baik-baik aja ‘kan, Ze?” cecar Cheryl dipenuhi kekhawatiran yang membuncah. Ia tidak sempat melihat menantunya karena fokus dengan Zeva yang kesakitan.


“Yura baik-baik saja, Ma. Dia telah berhasil melahirkan bayi laki-laki yang sangat kuat dan tampan. Meskipun saat ini, harus berada di NICU untuk pematangan paru,” tutur Zefon.


Kabar gembira yang dibawa Zefon membuat Cheryl berteriak histeris. Ia langsung memeluk suaminya dengan sangat erat, kembali menangis histeris saking bahagianya. Ya, bahagia. Berkat skill menyetirnya, ia berhasil menyelamatkan tiga nyawa sekaligus. Bahkan bisa mengembalikan ingatan Zeva kembali.


“Kak, aku mau lihat! Ayo ke ruangan Kakak Ipar!” ajak Zeva paling bersemangat.


“Ze, kamu harus istirahat dulu! Biar Mama yang ke sana!” sergah Cheryl.


“Enggak, Ma. Zeva sudah baik-baik saja! Please, Kak. Antar aku ketemu Kakak Ipar!” rengek gadis itu menggoyangkan lengan kakaknya.


Jourrel langsung sigap mengambilkan kursi roda untuk putrinya. “Jangan ngeyel!” ucapnya menggendong Zeva dan mendudukkan pada kursi tersebut.


“Papa memang terbaik! Selalu!” tutur Zeva merangkul leher sang ayah memberikan kecupan singkat di pipi. Pria yang selalu memanjakannya, menjadi tameng dari kerasnya sang mama dan juga kakaknya.


“Hemm ... si anak papa!”


Cheryl menghela napas panjang, lalu mematung sembari memegang dadanya yang berdebar-debar, ia tidak menyangka telah memiliki seorang cucu.


“Ma, ayo!” ajak Zefon yang menemukan sang mama tak kunjung beranjak. Pria itu kembali mundur merengku pinggang sang mama.


“Mama punya cucu, Ze? Kamu jadi ayah?” ucap Cheryl berkaca-kaca. Satu tangannya menyentuh pipi Zefon agar menatap ke arahnya.


 


Bersambung~


Hayyah... Kok gak gantung ya 😂