Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
BAB 57 : Menjalankan Misi


Satu bulan kemudian....


Zefon berjongkok membantu mengenakan sepatu boots di kaki Yura. Memastikan istrinya dalam kenyamanan, barulah ia menyimpul talinya dengan sangat kuat. Pria itu berdiri, membungkuk hingga wajahnya saling berdekatan. Satu tangannya membelai pipi Yura, senyum tipis terurai dari bibirnya. Menatap wajah cantik sang istri berbalut make up bold, semakin membuatnya terlihat sexy di mata Zefon.


“Kamu siap, Sayang?” tanya Zefon merapatkan pinggang Yura.  


“Siap, Om  Suami!” balas Yura tegas dan penuh percaya diri. Ia beranjak berdiri, gaun mewah berwarna gold membalut tubuh sexy nya. Bagian depan setinggi lutut, namun bagian belakang menjuntai hingga tumit. Di paha, terlilit tali khusus yang terselip sebuah revolver khusus yang ia pelajari selama satu bulan ini.


Jika dulu Zefon selalu kesal dengan panggilan itu, lain halnya sekarang yang justru senyum-senyum sendiri. Panggilan spesial dari gadis belia.


“Baiklah, kita harus berpisah beberapa menit ah mungkin hitungan jam,” ucap Zefon meraih kedua tangan Yura agar berdiri, lalu memeluknya erat.


“Setelah itu, kita akan hidup tenang selamanya,” tandas Yura melingkarkan kedua lengannya di leher kokoh sang suami.


“Yeaah, kali ini pasti berhasil,” tutur Zefon.


Tengah malam, mereka harus beroperasi di luar wilayah. Keduanya menuruni anak tangga dengan langkah pelan namun tegas. Sangat elegan.


Sederet mobil jeep telah berjajar di pelataran mansion. Zefon mengantar sang istri menuju mobil sport yang berada di paling depan. Membukakan pintu untuk Yura hingga memasangkan sabuk pengaman untuknya. Calvin hanya menelan saliva tanpa berani menatapnya.


“Jaga dia melebihi nyawamu, Cal!” titah sang bos menopang lengan pada pintu yang tertutup rapat. Atap mobil terbuka sepenuhnya.


“Tentu, Tuan! Tanpa perintah pun saya akan menjaga Nona, seperti saya menjaga Anda,” sahut Calvin yang sudah bersiap dengan setelan jas mewahnya.


“Jangan macam-macam!” tegas Zefon dengan mata menatap nyalang.


Berat, harus berpisah dengan sang istri dalam misi berbahaya ini. Tapi, rencana harus segera berjalan. Semakin ditunda, kehidupannya tidak akan menemukan kedamaian.


“Aku berangkat ya,” pamit Yura membelai pipi Zefon.


“Aku di belakangmu!” sahut Zefon mengecup tangan Yura begitu lama, hingga mobil mulai berangkat.


Jalanan tengah malam itu dipadati dengan iring-iringan mobil klan Black Stone. Zefon turut bergabung dengan salah satu anak buahnya. Tapi mata dan telinganya fokus pada kamera Yura, kamera mobil dan kamera CCTV yang berhasil diretas, di sekitar rumah mewah yang akan menjadi tempat transaksi mereka.


\=\=\=\=000\=\=\=\=


Tidak seluruh mobil ikut masuk. Hanya beberapa saja yang mengekori mobil Calvin, sedangkan yang lain menyebar di seluruh penjuru rumah untuk mengepung dan bersiap dengan senjata masing-masing.


Sebuah koper berwarna gold kini dibawa oleh Yura. Ia turun setelah dibukakan pintu oleh salah satu bawahan Zefon. Menampilkan wajah yang tegas, sadis dan dingin, Yura mulai melangkah diiringi oleh Calvin di sampingnya.


“Tunjukkan identitas Anda!”


Yura tersenyum miring, memberikan sebuah kartu nama yang memang sudah disiapkan. Ia menyerahkannya pada pria yang menyambutnya itu.


Setelah mengeceknya, pria itu mengembalikannya, “Anda sudah ditunggu, silakan naik ke lantai dua,” ujar penjaga itu membungkuk.


Tanpa berucap apa-apa, Yura melangkah bersama Calvin. Tidak ada suara apa pun selain entak kaki mereka saat berpijak pada setiap anak tangga.


Pintu sebuah kamar dibuka, mempersilakan Yura dan Calvin untuk masuk diantar oleh dua pria bersenjata. Yura sama sekali tidak gentar melihatnya, masih menunjukkan tatapan dan raut wajah yang dingin.


Tak berapa lama, langkah mereka terhenti. Seseorang duduk di kursi putar yang tinggi membelakangi mereka.


“Kami sudah bawa uangnya, Tuan! Bisa kita mulai transaksi?” Yura mengeluarkan suaranya tanpa basa basi.


Ia meletakkan satu koper uang di meja besar, lalu membuka kuncinya. Setumpuk uang langsung terlihat menyilaukan.


Kursi besar itu berputar, menampilkan seorang lelaki dengan wajah bengis, rahang tegas dan kumis yang dipenuhi bulu. Mata tajamnya langsung menyorot Yura dengan dalam. Bibirnya tersungging senyum miring. Lalu beralih menatap Calvin yang memberikan tatapan sama.


“Haha! Selamat datang, Nona. Aku kira, kau akan datang sendiri. Rupanya bawa kacung juga!” tutur lelaki itu mulai melihat-lihat lembaran uang yang sangat banyak di hadapannya.


“Bisa saya terima barangnya?” tanya Yura malas berbasa basi.


“Kenapa buru-buru sekali, Cantik?” Nada suara pria itu mulai berubah. Tatapannya menilik tubuh Yura dari atas hingga ke bawah. Tangannya mengusap-usap dagu berulang.


Yura mengepalkan tangannya, ia sudah tidak tahan ingin segera menyerang lelaki tua itu. Namun, ia juga tidak ingin menggagalkan rencana yang disusun rapi oleh Zefon.


“Tuan Boris, mana barang itu?” Yura bertanya sekali lagi.


Di luar sana, darah Zefon sudah mendidih. Tangannya mengepal dengan kuat. Dia bersumpah akan membunuh lelaki mesum itu karena telah berani menatap istrinya seperti itu.


 


Bersambung~