Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
BAB 56 : Kebahagiaan Yura


Yura segera beranjak, ia meraih satu helai handuk kecil yang berjajar, untuk menyeka keringatnya. Cukup lelah, tetapi sangat menyenangkan baginya. “Aku ke kamar Ayah boleh?” tanya Yura berbalik pada suaminya, untuk mengalihkan pembicaraan.


“Mau kabur?” sahut Zefon merentangkan kedua tangan di ambang pintu. “Ayah belum sadar, masih ada waktu satu jam lagi,” imbuhnya menatap jam yang menggantung di dinding.


Yura mendesah kasar, kalau sudah mode seperti itu, suaminya tidak akan bisa dialihkan lagi. Ia menjulurkan kedua tangannya ke depan, “Gendong, mandi dulu ya,” pintanya dengan manja.


“Siap!” Pria itu segera meraih sang istri di belakang punggungnya, melangkah dengan santai menaiki anak tangga menuju kamar.


\=\=\=\=000\=\=\=\=


Tepat satu jam berlalu, sepasang suami istri itu sudah mandi dua kali pagi ini. Yura bergegas ke kamar sang ayah dengan tak sabar. Ia bahkan sampai berlari kecil. Sedangkan Zefon memilih ke ruang kerjanya. Sibuk berkutat dengan setumpuk pekerjaan yang harus ia periksa.


“Ayah,” panggil Yura semakin mendekat.


Sepasang netra Rehan berkaca-kaca, lama kelamaan bulir bening berjatuhan dari kedua sudut matanya saat bertemu dengan putri yang selalu ia salahkan dan pojokkan.


"Yura.” Suara berat itu terdengar jelas di telinga Yura. Mampu menarik kedua sudut bibir Yura dengan lebar, ia sungguh lega dan sangat bahagia.


Yura segera mengambur ke pelukan sang ayah. Sekalipun ayahnya pernah menyakitinya, demi wanita iblis yang menjelma sebagai ibu tirinya, Yura tetap tidak bisa membenci sang ayah. Dalam darahnya, mengalir darah yang sama.


“Maafin semua sikap Ayah selama ini," sesal Rehan memeluk erat putrinya. “Maaf karena tidak pernah mempercayaimu dan selalu menyudutkanmu, Nak,” sambungnya mengusap-usap kepala Yura dengan tangan gemetar.


Yura meregangkan tubuhnya, tersenyum sembari menyeka air mata ayahnya. “Yang penting sekarang, Ayah sudah tahu semuanya. Dan Ayah juga harus segera sembuh,” ucap wanita itu.


Melihat kebingungan sang ayah, Yura beranjak duduk di tepi ranjang, menggenggam jemari ayahnya. “Ini di rumah Zefon, Yah. Suami Yura,” jelasnya.


Rehan mengangguk, da)m hati bersyukur karena putrinya terlihat sangat bahagia dengan pernikahannya. Apalagi mau merawatnya sampai menyediakan semua peralatan medis. “Bagaimana dengan rumah kita, Yura? Apa mereka berhasil merebut semua harta kita?”


“Ayah tenang aja, mereka tidak akan berani datang ke rumah lagi. Dan Ayah tahu? Ada racun yang mulai menyebar dalam tubuh Ayah. Itu semua ulah wanita itu! Beruntung Paman Zefon seorang profesor yang memiliki laboratorium besar untuk menciptakan anti-dote.” Tampak jelas raut keterkejutan yang berpendar dari wajah Rehan.


“Jangan banyak pikiran, Ayah Mertua. Fokuslah pada kesembuhan Anda. Selain itu, serahkan tanggung jawab atas Yura pada saya,” tukas Zefon yang menyelonong masuk.


Semua mata tertuju padanya, pria tampan pemilik mata setajam elang itu melangkah dengan pelan. Berdiri di belakang istrinya, sembari menumpukan dagu di puncak kepala Yura. Dua tangannya melingkar di bahu sang istri.


“Tuan, terima kasih banyak atas bantuannya,” ujar Rehan.


“Jangan sungkan, Ayah Mertua. Apa pun akan aku lakukan demi kebahagiaan putrimu. Dan satu lagi, tolong jangan panggil aku Tuan. Apa Anda tidak menganggapku sebagai menantu?” cebik Zefon menaikkan sebelah alisnya.


Yura mendongak, hatinya bak dialiri air yang begitu menyejukkan. Hingga kini sebuah kecupan jatuh di keningnya. Rehan ikut tersenyum haru, turut bahagia melihat kehidupan putrinya bersama sang suami.


 'Terima kasih, Zefon. Kamu telah mengubah seluruh hidupku,' gumam Yura dalam hati.


Bersambung~