Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Ingatan masa lalu


Kehidupan sebelumnya yang sangat keras melatih Axila menjadi pribadi yang dingin, kejam dan tak berperasaan, mematikan dan menakutkan bagi sebagian orang.


Tentu saja, sangat berat untuknya menjalani setiap hari-harinya. Semua itu berawal dari kematian Ibu Suri atau nenek dari Liu Mei atau bisa dibilang Axila yang sekarang.


Ditambah dengan masa lalu pemilik tubuh yang sedikit memperihatinkan membuat Axila semakin dingin saja pada makhluk yang bernama laki-laki.


Di kehidupan sebelumnya ia memang seorang Putri Mahkota kekaisaran, menjalani hari-hari nya dengan normal. Namun ada yang terasa kurang.


Kasih sayang seorang ibu.


Meskipun semuanya ia dapatkan dan miliki, namun tidak dengan seorang ibu. Kaisar juga tak mengambil selir ataupun gundik, sehingga tak ada masalah salah Harem kaisar.


Sikap Liu Mei yang awalnya hanya tak peduli pada sekitar menjadi dingin bermula ketika usianya menginjak 7 tahun. Saat itu terjadi penyerangan dari pihak musuh, mereka menyelinap dan ingin membasmi anggota keluarga kekaisaran.


Namun semua itu tak berhasil ketika pengawal bayangan dan Jendral mereka menggagalkan rencana itu.


Semua mulai tak tenang, rakyat menjadi lebih menderita. Semuanya tak lagi normal seperti sebelumnya.


Jika sebelumnya mereka hidup dengan normal dan sejahtera, kini menjadi ketakutan. Seakan kegelapan akan menguasai kekaisaran mereka, terjadi banyak hal yang berada diluar dugaan.


Liu Mei yang melihat bagaimana ayah dan seluruh pasukan mereka berjuang memiliki tekat untuk mengembalikan semua itu seperti sedia kala.


Ia dan kakaknya mulai berlatih, berlatih dan terus berlatih. Satu tahu kemudian putra mahkota turun ke daerah konflik dan mendapatkan luka serius yang membuat Liu Mei semakin dendam.


Ditambah ketika usianya menginjak 10 tahun, Ibu Suri meninggal akibat diracuni oleh salah seorang pelayan di kediamannya. Yang sebenarnya adalah mata-mata dari pihak musuh.


Sebenarnya Liu Mei bisa saja menyelamatkan neneknya, namun dilarang oleh neneknya sendiri. Karena menurut neneknya, sudah saatnya ia pergi. Ia juga memberikan kalung berbentuk teratai pada cucu nya, dan membiarkan Liu Mei mengambil elemen cahaya miliknya. Setelah itu, ia meninggal dengan tersenyum pada anak dan cucunya.


Dendamnya semakin merajalela,


Ia melatih dirinya hingga kuat. Disaat usianya menginjak 13 tahun, ia mulai pergi ke daerah perbatasan, membantu para prajurit dengan tindakan-tindakan kecil yang membuat prajurit nya semangat.


Disaat usianya menginjak 14 tahun, ia mulai mengikuti peperangan, menumbangkan setidaknya 100 orang dalam peperangan tersebut.


Disaat usianya hampir mendekati 15 tahun, ia dan pasukannya berhasil memukul mundur musuh dan memenangkan peperangan yang sudah terjadi selama bertahun-tahun itu.


Dari sanalah dia mulai mendapatkan gelar sang "Dewi Perang"


Seorang wanita pertama yang mengikuti perang dan memenangkan peperangan itu. Gelar itu sangat pas dengan wajahnya yang cantik dan mempesona, namun mematikan.


Berbeda dengan Axila.


Gadis itu adalah idola di sekolahnya.


Gadis yang mempunyai paras yang cantik, lembut dan pandai.


Menjadikannya sebagai seorang idola di sekolah tempatnya menempuh pendidikan.


Otaknya yang mempunyai IQ diatas rata-rata membuatnya sangat pandai, ditambah ia sangat suka belajar membuatnya sangat kepandaian nya berada ditingkat paling atas di sekolah.


Dari SD sampai SMA dia menerima beasiswa, hal itu membuatnya semakin giat dalam belajar. Salah satu bidang yang ia sukai adalah IT.


Ilmu IT adalah pelajaran kesukaan nya, ia selalu belajar dari sang ayah yang adalah seorang programmer disalah satu perusahaan terkemuka di kotanya.


Saat usianya yang menginjak usianya yang ke 17, kedua orang tuanya membawanya ke suatu restoran yang cukup mahal.


Disana Mereka bertemu dengan seorang wanita paruh baya dan seorang pria, yang sepertinya berpengaruh di sana.


Mereka membincangkan perjodohan, antara kedua anak mereka, yaitu Alex dan Axila.


Alex menerima perjodohan itu karena memang terpaksa, namun ia juga sedikit tertarik dengan wajah Axila yang cantik dan mempunyai tatapan yang sangat lembut.


Seiring berjalannya waktu, mereka mulai dekat, Alex sering menjemput Axila ketika pulang dari sekolah, namun disana Axila tak sendirian. Ia bersama sahabatnya, Indri.


Dari sanalah permulaan penghianatan, Indri menggoda Alex hingga mereka tidur dalam apartemen Alex. Semakin hari sikap Alex semakin berubah, Indri seakan menjadi istrinya. Tak ada hari tanpa Se*s bagi mereka, layaknya itu adalah kewajiban disetiap hari.


Indri selalu saja berpakaian seksi, sedangkan Axila selalu saja mengenakan pakaian yang sopan.


Pernah sekali Alex meminta Axila untuk tidur dengannya, dengan alasan Axila adalah calon istrinya.


Namun Axila menolak dengan keras, membuat Alex semakin tak menyukai Axila dan lebih memilih untuk terus bersama Indri.


Meskipun hubungan itu mereka lakukan dibelakang Axila.


Selama itu pula, Alex selalu saja menghindari Axila, menganggapnya seakan tak pernah ada.


Hingga puncaknya, dimalam itu.


Ketika ulang tahun Alex, ia menemukan tunangannya dan sahabatnya sedang berhubungan intim.


Mereka awalnya terkejut, namun didetik selanjutnya Alex malah menyalahkan nya. Mengatakan jika ia juga pria normal yang harus dipenuhi kebutuhan itu, membentak, menampar bahkan memukul Axila dengan rayuan dari Indri.


Kesadaran Axila seolah ditarik kembali, ia mendengar suara yang terus memanggilnya.


Saat matanya terbuka, dilihatnya Vano yang berada disampingnya, terlihat pria itu sedang membangunkan nya.


"Nona, anda melewatkan makan siang anda. Maaf jika saya membangunkan Nona." ujar Vano memberikan alasan saat mata tajam Axila menatapnya.


'Ternyata hanya mimpi.' batin Axila. Jadi sejak tadi ia terus tertidur?


Sungguh mimpi yang membuatnya sedikit bersedih, apa lagi ketika mengingat kembali neneknya yang memilih untuk pergi dan bertemu dengan Kakek nya.


Ia juga merindukan ayah dan kakaknya, namun semua itu tak akan mungkin bisa diulang lagi. Ia sekarang sudah menjadi orang yang berbeda dengan tugas yang berbeda pula.


Ia juga geram pada Alex, ingin sekali membunuhnya dengan cara yang sangat kejam.


Namun sepertinya semua itu harus ia pendam. Perasaan benci pada pria juga terselip dihatinya, mungkin ini adalah respon dari Axila yang asli.


Sangat kecil kemungkinannya, bahkan bisa dibilang tak ada.


Vano datang dan memberikan makan siang untuk Axila, meletakkan makanan itu diatas meja tak lupa minumnya.


Saat menoleh kesamping, terlihat Exsel yang juga tertidur pulas.


"Tuan Exsel tertidur sejak sejam yang lalu." Vano seakan bisa membaca pikiran Axila, tentu saja karena Axila menoleh kearah Exsel.


"Bagaimana dengan Justin?" balas Axila.


"Kami baru saja selesai makan siang, Nona." balas Vano lagi, Axila mengangguk tanda ia tahu.


Vano berlalu kearah ruang kendali, menemui Justin untuk mengobrol agar si pilot itu tak merasa bosan, itu juga perintah dari Axila.


Sementara Axila ia menikmati makan siangnya dengan nikmat tanpa ada gangguan dari siapapun.


Di bandara, seorang pria berpakaian jas kasual berjalan kearah ruang tunggu. Ia akan menjemput atasannya, karena sudah dikabari.


Dua puluh menit berlalu, seorang gadis cantik beserta seorang pemuda berjalan keluar dari area penerbangan.


Seorang pria langsung saja menemui mereka dan memberikan salam.


"Selamat datang kembali, Nona." ujarnya.


"Hmmt." balas gadis itu, mereka berjalan keluar dari bandara. Meninggalkan pilot dan pramugara nya menyusul dari belakang.


Mereka juga sudah tahu letak tempat dimana mereka akan menginap, jadi itu bukan masalah besar bagi gadis itu.


Axila duduk di kursi penumpang sendirian, sedangkan Exsel duduk disamping asistennya Axila. Atau biasa dipanggil asisten Kang.


Ia menatap kota yang masih diterangi oleh cahaya matahari, sudah pukul 4 sore ketika mereka tiba.


Butuh waktu sekitar 30 menit agar sampai di tempat Axila, bilang saja hotel nya.


Ketika tiba, tak ada siapapun yang mengetahui kedatangan Axila.


Melihat pemilik hotel yang datang, Resepsionis segera menekan alarm peringatan bagi semua staf.


Kedua resepsionis itu memberikan salam pada Axila, mereka menundukkan kepalanya pada pemilik hotel itu.


Axila hanya mengangguk, ia berlalu kekamar nya dengan alasan kelelahan dalam perjalanan.


Beralih ke Sekolah Menengah, Azka dan Sehun baru saja meninggal kelas mereka.


Ini sudah pukul 5 sore, seharusnya mereka pulang sejam lagi tapi sepertinya terjadi pertemuan diruang guru sehingga membiarkan siswa pulang sedikit lebih cepat.


Moonbin sudah menunggu mereka diparkiran, membawa keduanya kembali ke rumah. Mengantar Sehun pulang kerumahnya dan kembali mengemudikan mobil itu ke arah tempat tinggal Azka saat ini.


Azka terlihat sangat tak bersemangat, ia selalu saja seperti ini sejak kepergian Axila ke Indonesia.


Setiap pulang sekolah ia selalu saja lesu, sangat kelelahan. Namun ketika sampai ke hotel, ia tetap harus belajar dengan dua guru bimbingannya. Siapa lagi jika bukan Moonbin dan Gong-Min.


Ketika tiba, Azka turun dari mobil. Berjalan melewati Moonbin yang menunggunya agar jalan bersama.


Ia melihat resepsionis yang tersenyum lebar padanya, namun hanya mengangguk lesu dan masuk kedalam lift.


Ketika tiba di kamar nya, ia melihat kedua bodyguard itu tersenyum padanya. Ini tak seperti biasanya, Azka terlihat sedikit curiga.


Matanya membulat, dengan cepat ia berjalan masuk. Membuka pintu kamar kakaknya dan melihat seorang gadis tertidur disana.


"Noonaaaaa..." pekik Azka dengan semangat disertai dengan kesenangan yang luar biasa. Ia seakan kembali mendapatkan energinya.


Axila yang saat itu tertidur hanya mengangkat tangannya lalu melambai, merespon Adiknya yang saat itu sudah masuk kedalam kamarnya.


Azka langsung berhamburan kearah Axila, memeluk Axila yang tertidur.


"Ahh... akhirnya Noona kembali." ujarnya dengan bahagia.


Axila yang sedikit terganggu hanya mengelus rambut Azka, ia tetap memejamkan matanya.


Azka semakin mengeratkan pelukannya, membuat Axila benar-benar terganggu.


"Hei!....


Kau bau apek, sana keluar." usir Axila yang mendorong kepala Azka agar menjauh.


Azka segera melepaskan pelukannya pada Axila yang masih tertidur, ia mencium bajunya.


Memang benar, bajunya juga ikutan bau tak sedap akibat keringat yang keluar dari pori-pori kulit nya. Meskipun memang ditutupi oleh harum parfum yang ia kenakan.


Rasa rindu Azka membuatnya mempunyai ide untuk sedikit mengerjai kakaknya, ia semakin memeluk Axila seolah membiarkan Axila menghirup bau tubuhnya.


Sedikit pertengkaran antara kakak dan adik terjadi, Axila terus mendorong Azka sedangkan remaja itu semakin bersemangat mengerjai kakaknya.


.................


...Note......


Maaf yah, author update chapter terbaru nya lama, soalnya kesehatan aku benar-benar menurun drastis.


Ini aja aku maksain diri buat nulis, agar kalian bisa membaca chapter terbaru.


Mohon maafkan aku yang tak sempurna ini.


Terima kasih untuk kakak sekalian yang selalu menanti chapter terbaru dari aku, Sarange♥️