Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Siapa yang berani menyentuh mu?!


Keadaan didalam sana semakin memanas, dengan cepat sekretaris Kang segera mendekat dan berdiri dihadapan Azka dengan menutupi nya dibelakang bahunya yang lebar.


Wanita itu menatap sekretaris Kang dengan mata yang melotot, tanpa mengucapkan sepatah kata pun pipinya menjadi panas.


*Plakkk!!!*


Bunyi tamparan yang begitu keras membuat siapapun terkejut, siapa lagi yang sudah turun tangan. pikir mereka.


"Berani-beraninya kau menampar-"


*Plakkk!!!*


Kembali pipinya panas lagi, tangannya terangkat ingin menampar balik sekretaris namun dihentikan oleh seseorang.


"Siapa lagi huh?!" bentaknya, ingin menghempas tangan itu namun cengkraman nya semakin kuat saja, membuat wanita itu mengaduh kesakitan.


"Ahh.. ahhh.. Lepas tanganku, jal@ng!" dia terus berusaha melepaskan tangannya dengan sekuat tenaga.


Soo-Ah yang memang pelakunya segera melepaskan tangan itu dengan cepat saat tenaga wanita itu semakin bertambah.


*Bruggg!!*


Tubuh wanita itu terhempas dan punggungnya membentur meja kasir lalu terjatuh dan terduduk dilantai.


"Upsss.." tangan Soo-Ah menutupi mulutnya, "maaf. Aku sengaja." ujar Soo-Ah, senyum ejek terlihat dari bibirnya.


"Arghh!!!.... Dasar jal@ng!!" bentak ibu tiri Azka, yang sebenarnya bernama Nam-Joo.


"Kau bilang apa? Jal@ng?" ulang Soo-Ah, ia mendesah kasar. "Hei wanita tua, aku bukan jal@ng seperti mu, yah.


Merebut suami temannya sendiri, dasar tak tahu malu." ujar Soo-Ah pedas.


Kakinya langsung berjalan kearah pintu, namun kembali berjalan mendekat dan menarik tangan Azka agar pergi dari sana.


"Hei! Kau belum membayarnya!" teriak Nam-Joo pada Azka dan Soo-Ah, namun tak dipedulikan oleh Soo-Ah dia terus berjalan dan menarik tangan Azka keluar dari sana.


Min-Hyuk dan lainnya segera menyusul tanpa mau membayar tagihan mereka, Jin-Woo berjalan mendekat lalu memberikan 10 Won.


"Aku hanya membayar minumku, kau seharusnya sadar. Jika Caffe yang kau kelola ini milik bocah itu" ujarnya lalu pergi dari sana.


Kekesalan Nam-Joo semakin bertambah, ingin rasanya dia membunuh mereka semua. Kakinya beranjak berdiri dan ingin mengejar, namun kalah cepat dengan sekretaris Kang yang sudah menarik tubuhnya dengan kasar kebelakang.


"Apa lagi Huhh?!.. apa maumu?!" bentak Nam-Joo.


"Jangan berani mengejar mereka, nyonya. Jika anda tak ingin saya bertindak kejam pada anda." ujarnya, ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkan disalah satu meja terdekat.


"Ini bayaran ku." ujarnya dan beranjak mengambil laptopnya yang berada di meja pojokan.


"Jangan berani datang kesini kau!!" pekiknya, ia menghentak kakinya dengan kesal.


Para pengunjung yang merasa tak nyaman segera pergi dari sana, mereka meletakkan uang diatas meja yang mereka tempati tanpa mau pergi ke kasir. Entah lebih atau kurang, namun mereka segera pergi.


Hal itu membuat Nam-Joo semakin kesal, semua pengunjung nya pergi dan membuat tempat itu menjadi sepi.


"Arghh!!... Dasar anak pembawa s!al!!" pekik Nam-Joo.


Beralih pada Azka, setelah keluar dari sana dia masih bersama dengan kakak-kakaknya, namun hanya sesaat sebelum mobil hitam berhenti didepan mereka.


Seorang pria keluar dari sana dan membungkuk pada Azka.


"Selamat Siang, Tuan muda." sapanya, "Nona menyuruh Anda untuk pulang segera." ujarnya.


"Siapa kau?" tanya Jin-Woo.


"Perkenalkan, saya sekretaris Nona Axila. Anda bisa memanggil saya sekretaris Kang." ujarnya lagi.


Semua mengangguk paham, tanpa disuruh dua kali Azka langsung membuka pintu mobil dan berdiri didepan sana.


"Maaf, kak. Aku harus pulang, ayo Sehun."


Sehun segera mengikuti Azka, mereka memasuki mobil dan sekretaris Kang menutup pintunya.


Jendela mobil kembali terbuka. "Kami duluan." ujar Azka dan Sehun.


Semua mengangguk, "Tak apa. Kembalilah dan istirahat." ujar Gong-Min dan diangguki oleh yang lainnya. Mereka melambaikan tangan saat mobil itu mulai bergerak maju dan meninggalkan mereka.


Selesai mengantar Sehun sampai di rumahnya, tanpa menyapa ibu Sehun Azka dan sekretaris Kang pergi dan hanya menitip salah untuk ibu Sehun.


Didalam mobil, Azka menurunkan sandaran kursi dan memejamkan matanya.


Bertemu dengan Nam-Joo rasanya seperti mimpi buruk baginya. Mengingat semua perlakuan buruk yang selalu ia terima, Azka semakin kesal dan ingin rasanya dia membakar wanita itu hidup-hidup dalam kobaran api.


Setelah sekian menit berada didalam mobil yang terus melaju, akhirnya mereka tiba di Hotel.


Azka keluar dari mobil dengan tanpa dibuka pintunya oleh sekretaris Kang. Remaja itu segera melangkah kakinya menaiki anak tangga lalu memasuki lobby hotel.


sekretaris Kang segera menyusul Azka setelah menyerahkan mobil itu pada pihak hotel agar di parkirkan. Kakinya sedikit berlari mengejar Azka yang sudah jauh dari Darinya.


Setelah Azka memasuki Lobby, dua wanita yang menjadi resepsionis menundukkan kepala mereka sebagai hormat pada Azka, tak lupa senyum ramah yang diberikan kepada semua tamu hotel.


Azka hanya mengangguk, ia terus melangkah kakinya menuju dimana lift berada.


Sekretaris Kang akhirnya bisa mensejajarkan langkahnya dengan Azka, segera ia menekankan tombol yang berada di samping pintu lift lalu menunggu beberapa detik sampai lift terbuka.


Azka berjalan di lorong hotel, dimana di sanalah kamarnya dengan sang kakak berada. Hanya ada beberapa kamar saja yang berada di lantai itu, yang sudah pastinya adalah very luxurious atau bisa dibilang paling berbeda dari yang lainnya, dan sudah pasti ditujukan untuk para kalangan yang superior atas.


Azka membuka pintu dengan kartu kunci yang ia pegang tanpa menggunakan password nya. Setelah terbuka, remaja itu masuk dan membuang tas nya sembarangan kalau memanggil kakaknya.


"Noona... Noona..." pekik Azka sama seperti ketika berada di hutan saja, Axila yang saat itu sedang berada di kamar mandi karena urusan panggilan alam segera keluar.


Dilihatnya Azka yang saat itu sedang duduk dilantai dengan kaki yang disilangkan, wajah di tekuk dan seragam yang sudah berantakan serta tas yang saat itu dipegang oleh sekretaris nya saat ini.


Kakinya berjalan mendekat, "kenapa? Apa yang membuatmu kesal?" tanya Axila, dia duduk di sofa dengan memangku salah satu kakinya dan menatap Azka heran tapi tak membujuk Adiknya.


Azka tak bangun dan berjalan, dia malah merangkak seperti bayi dan mendekati Axila.


"Noona..." rengek Azka, diangkatnya kepalanya dan menatap wajah kakaknya dari bawah.


Namun bukan itu yang membuat mata Axila terbelalak namun pipi Azka yang terlihat bekas tamparan.


"Siapa?" tanya Axila.


Azka mengerutkan keningnya, "Apa?" Balas Azka.


"Siapa yang berani menampar mu?!" tekan Axila. Darahnya seakan mendidih.


"Noo-"


"Siapa?!" bentak Axila membuat Azka membelalakkan matanya.