
Di bandara internasional SH, banyak orang yang sedang berlalu-lalang ataupun sekedar menunggu dan mengantar kepergian teman ataupun kerabatnya.
Beberapa pramugari/a dan pilot juga tak luput, mereka berjalan keluar masuk area penerbangan.
Begitu juga dengan salah satu keluarga yang saat ini sedang menanti kedatangan putri angkat mereka yang hari ini kembali dari luar negeri.
Sang ibu terlihat sangat bahagia, rasa rindunya sudah tak tertahankan lagi. Meskipun gadis itu tak lahir dari rahimnya dan baru menjadi putrinya beberapa bulan ini, dia sangat menyayangi gadis itu.
Begitu juga dengan sosok pemuda tampan yang adalah kakak nya, dia terus melirik arloji yang melekat pada punggung tangannya. Mereka sudah menunggu sejak sejam yang lalu, karena saking rindu dan sayangnya mereka sampai menunggu selama itu.
Sedangkan pria disamping istrinya hanya terus menenangkan istrinya, Michael terus menjawab pertanyaan istrinya yang entah sudah berapa kali diulang. "Pa, kenapa Lila sangat lama?"
dan pasti jawaban adalah.
"Sayang, tenanglah. Ini bukan dari kota J ke sini yang hanya membutuhkan waktu 1 1/4 jam agar sampai. Nanti juga Lila akan sampai, tenanglah."
Mereka bernafas lega setelah mendengar pengumuman pesawat yang membawa putri mereka tiba dan mendarat dengan aman.
Mereka terus menatap kearah pintu keluar, menunggu gadis itu keluar dari sana dengan tak tenang.
Akhirnya, setelah menunggu selamat hampir dua jam, gadis itu muncul juga. Penantian mereka sejak tadi terbayar juga dengan melihat wajah gadis yang sudah menghilang tanpa kabar sejak sebulan ini.
"Lilaa..." pekik Maria meneriaki nama putrinya dengan perasaan sangat gembira.
Axila yang baru saja mengangkat wajahnya segera mengarahkan pandangannya pada sang ibu, dengan senyum merekah dia berjalan mendekat.
Maria dan yang lainnya juga berjalan semakin mendekat, bahkan wanita itu sedikit berlari dengan tak sabaran.
"Aghhh... bunda sangat merindukanmu.." ujarnya sambil memeluk erat gadis yang saat ini berada dalam rangkulannya.
"Aku juga merindukan bunda." Balas Axila sambung mengelus punggung wanita yang memeluknya dengan erat.
Putra mengelus kepala Axila dengan perasaan rindu yang teramat sangat
"Dek, kakak kangen banget sama Lo." ujarnya.
Maria melepaskan pelukannya, memberikan kesempatan pada putra dan suaminya agar memeluk Axila. Setelah terlepas dari sang ibu, Putra langsung mengambil alih pelukan Axila sambil sesekali mengecup puncak kepala Axila yang sedikit lebih pendek dari.
Michael mengelus bahu putranya, lalu ikut memeluk Axila juga.
"Papa juga merindukan mu, kau membuat kami panik dengan kepergian mu, Lila." ujar Michael.
"Maafin aku yah semuanya, aku mempunyai urusan pribadi yang harus ku selesaikan disana." balas Axila
Maria juga ikut bergabung dengan memeluk mereka. Terlihat mereka seperti keluarga yang bahagia dan sangat lengkap, Putra dan Axila saling berpelukan ditambah Maria dan Michael yang memeluk keduanya dari arah yang berbeda.
Mereka berjalan meninggalkan bandara, menaiki mobil yang dikendarai oleh Putra dan disampingnya terdapat Axila, sedangkan di bangku belakang ada kedua orang tua mereka.
Karena hari sudah malam, mereka mampir makan malam di salah satu resort yang cukup terkenal dengan makanan nya. Kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke rumah, sepanjang jalan sejak dari bandara mereka selalu diawasi oleh orang suruhan Michael, dia tak ingin terjadi sesuatu pada keluarganya terlebih istri dan anak-anaknya.
Axila merebahkan tubuhnya yang kelelahan di atas kasur Queen size berwarna abu-abu, kamarnya dominan dengan abu-abu dan hitam layaknya anak cowok padahal dia adalah anak cewek.
Michael ataupun Maria tak pernah mempermasalahkan tentang hal ini, yang terpenting adalah Axila merasa nyaman tinggal di rumah mereka dari pada dirumahnya sendiri.
Michael dan sekeluarga tak lagi kumpul di ruang keluarga, mereka langsung masuk kedalam kamarnya masing-masing dan mengistirahatkan tubuh agar bisa menyambut hari esok dengan tenang, mereka juga tahu jika Axila kelelahan dari perjalanannya yang memakan waktu lebih dari lima enam jam perjalanan sehingga tak memaksa gadis itu untuk berkumpul dulu.
"Sedang apa disana? sudah puas melihatku?" ujar Axila tanpa membuka matanya, matanya masih terpejam lalu dari mana ia tahu jika Putra memasuki kamarnya? pikir Putra.
Kaki Putra melangkah mendekati tempat tidur Axila dan duduk diatasnya, "dari mana kau tahu jika aku memasuki kamar mu?" balas Putra.
"Pintu, langkah kakimu dan bau parfum yang kau gunakan, Kak." ujar Axila, dia menggerakkan tubuhnya mendekati Putra dan membaringkan kepalanya diatas salah satu kaki Putra yang dilipat sedangkan kaki lainnya dibiarkan tergantung dan menginjak lantai.
Tanpa diperintah, Putra mengelus kepala Axila dengan sayang, menyisir rambut Axila dengan jemarinya.
"Lo pergi tanpa ngasih tahu kita, Lo tahu nggak sih? kita tuh panik dan khawatir banget sama Lo, Dek." ujar Putra dengan bahasa yang lebih santai dari pada biasanya.
"Sorry." balas Axila, hanya kata itu saja yang keluar dari bibirnya yang tipis itu.
"Emangnya Lo kemana sih, Dek?" tanya Putra menatap wajah Adiknya.
"Seoul." balas Axila singkat.
"Seoul? Kau pergi ke Korea Selatan?" pekik Putra dengan keras.
"Jangan becanda dong, Dek." sambung Putra dengan suara yang lebih lembut lagi.
"Hmmm." balas Axila.
"Tuh bibir ngomongnya kok irit banget sih, Dek. Panjang dikit napa?" protes Putra.
"Azka diperlakukan dengan kasar oleh ibu tirinya, dan aku sebagai kakak tak mungkin membiarkan hal itu terjadi. Lihat saja di situs, aku melakukan apa disana." ujar Axila dengan lebih panjang lagi, dari pada mendengar kakaknya itu protes lagi.
"Az- siapa tadi?"
"Azka Leon Remanov, adik sepupu ku yang berada di Seoul." sambung Axila, tangannya diulurkan agar Putra memijat jemarinya.
Putra yang tahu jika Axila ingin dipijat tangannya segera menyambut tangan halus itu dengan segera, memijatnya dengan pelan dan penuh kasih sayang.
"Lo punya adek di sana, Dek?" tanya Putra lagi.
Axila mengangguk.
"Trus kenapa nggak bawa dia kesini?" tanya Putra.
"Dia bakal ujian Minggu depan, Kak.
Lagi pula, aku kesini karena diminta oleh Letkol untuk menangani masalah yang harus aku tuntaskan. Jika tidak, masa cuti ku masih panjang dan aku ingin bersantai dulu." ujar Axila panjang lebar tanpa diminta oleh Putra.
Putra mengangguk paham, "ya udah kalo gitu. Lo tidur gih, gue balik ke kamar gue dulu." pamit Putra, mengangkat kepala Axila lalu meletakkan diatas bantal lalu mengecup kening Axila dan berlalu dari kamar gadis itu.
Axila yang merasa Putra sudah tak berada didepan pintu kamarnya segera melanjutkan tidurnya yang tertunda, badannya sedikit pegal karena duduk selama berjam-jam diatas pesawat.
Sedangkan Putra, dia memasuki kamarnya dan menutup pintu tak lupa menguncinya dari dalam. Berjalanlah mendekat kasur king miliknya dan berbaring diatasnya.
Sebenarnya, Putra memiliki alasan lain lagi selain merindukan Adiknya, yaitu tentang hubungan keduanya yang telah berakhir antara Axila dan Mike.
Memang benar, Mike memberitahu kan hal itu pada Putra dan meminta bantuannya agar mereka bisa kembali bersama, namun melihat wajah Adiknya yang kelelahan Putra tak ingin mengganggu lagi, mereka bisa bicarakan hal ini besok.
"Lebih baik gue tidur aja deh, besok aja ngomong sama Lila nya." gumam Putra, segera ia memasuki alam mimpinya.