Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Pernikahan yang kacau


"Mi-mike...


A-aku bisa menjelaskannya"


"Aku tak butuh penjelasan mu lagi. Pernikahan kita batal!


Aku akan menikahi wanitaku hari ini." hardisk Mike dengan tatapan sinis.


"Jadi, Anggun sedang hamil?" ujar Wira pada Anggun.


"Nggak, Ma. Itu nggak ben-"


"Jangan percaya omongan Mike, Wira Frans. Itu hanya fitnah." ujar papa Anggun membela anaknya.


"Will, jika kau hanya ingin menjalin hubungan yang baik dengan keluarga ku dengan pernikahan politik ini, aku masih bisa menerimanya.


Namun, bagaimana dengan anak yang dikandung oleh putrimu itu? Kau ingin menghancurkan masa depan putraku dengan anak itu?" ujar Frans menatap kolega bisnisnya itu.


"Tidak! Jangan percaya itu.


Anggun tak hamil, dia-"


"Lalu bagaimana dengan bukti-bukti ini, Om?


Bukankah sudah jelas?" sambung Mike, dia melemparkan amplop cokelat dilantai dengan kasar.


Frans mengambil amplop itu, membukanya lalu mengeluarkan isinya.


Terlihat di gambar itu, Anggun sedang bersama seseorang pria didalam club malam.


Difoto yang berikutnya terlihat Anggun yang sedang meneguk wine ditemani pria itu.


Foto berikutnya lagi Anggun bersama pria itu memasuki salah satu kamar yang berada di club itu.


Dan foto-foto berikutnya lebih vulgar lagi, terlihat Anggun yang melayani pria itu diatas ranjang dengan keadaan tanpa sehelai benangpun ditubuhnya.


Terlihat begitu banyak foto-foto, dan foto yang terakhir adalah dimana Anggun memegang taspack dengan wajah terkejut, dan ada pula foto taspack itu dengan dua garis biru.


Frans benar-benar marah, matanya sampai melotot melihat semua foto-foto itu.


Wira yang penasaran dengan apa saja yang dilihat oleh suaminya mendekat, ia merampas semua foto-foto itu lalu melihatnya.


"Apa-apaan ini, Anggun?!" bentak Wira marah.


"Ma-"


"Jangan percaya dengan semua foto-foto itu, Wira, Frans!


Itu hanyalah foto editan!" bela papa Anggun.


"Itu adalah kebenaran, Om.


Aku membatalkan pernikahan ini dan juga kerja sama perusahaan kita.


Pergi kalian dari sini!" ujar Mike menunjuk luar rumah.


Wira tak sanggup lagi, dia sudah sangat terkejut dengan apa yang terjadi saat ini.


Kesadaran nya menghilang, wanita itu pingsan ditempatnya saat itu.


"Mama!" Frans dengan cepat menggapai tubuh istrinya sehingga tak sampai menimpa lantai.


"Saya benar-benar kecewa sama kalian.


Pernikahan ini batal, pergi dari sini sekarang juga!" usir Frans, ia segera membopong tubuh istrinya pergi dari sana.


Bruggg..!


Tubuh Anggun tak dapat lagi ia kendalikan, tubuhnya lemas dan tak dapat lagi berdiri dengan tegak.


"Mike. Aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi.." pinta Anggun dengan penuh permohonan.


"Untuk apa? Bukankah sejak awal aku sudah menolak perjodohan dan pernikahan ini?


Lalu mengapa aku harus memberikan kesempatan lagi pada j@lang seperti mu?" sinis Mike.


"Hari ini juga, aku akan menikahi wanita ku sendiri. Jadi, jangan pernah berharap aku akan menikahimu." sambung Mike lagi, ia segera membawa Zahra pergi dari sana.


Dalam waktu 1 jam 30 menit, Zahra telah selesai dengan semua persiapannya. Wanita itu telah mengenalkan gaun pengantin, wajah yang didandani dengan sangat natural, dan mahkota yang berada diatas kelapanya.



Jangan heran jika hanya dalam waktu singkat Zahra bisa berdandan seperti itu, biasanya setidaknya membutuhkan waktu lebih dari 2 jam untuk merias pengantin wanita, namun tidak dengan Zahra yang memang mempunyai wajah yang manis dan terlihat imut itu.


Mike telah mempersiapkan semua ini sejak kemarin sore, saat dimana setelah ia memutuskan untuk menjadikan Zahra sebagai istrinya.


Zahra sendiri tak tahu harus berkata apa, tiba-tiba saja bos nya memintanya untuk menjadi pengantin wanitanya di atas altar pernikahan. Itu lebih seperti perintah dari pada permintaan.


Bahkan ia juga tak percaya ketika Mike tiba-tiba telah berada didepan rumah kontrakan nya bener jam yang lalu, menjemput nya dengan menggunakan pakaian resmi untuk pernikahan sendiri.


"Apa yang bapak lakukan disini?" tanya Zahra yang sangat terkejut, ditambah para tetangga yang sudah keluar dari rumah mereka karena melihat mobil mewah yang terparkir didepan rumah tetangga mereka, dan lebih terkejut lagi pria tampan yang sedang menunggunya disana.


Wajah Zahra memerah, "Pak, saya pikir bapak hanya bercanda kemarin?"


Mike mengeluarkan kotak dari dalam jas nya, cincin yang sama yang ia gunakan untuk melamar Axila namun ditolak itu.


"Apakah saya harus berlutut lagi disini dan mengatakan nya?


Baiklah jika seperti itu," Mike mulai menurunkan sebelah kakinya agar bisa berlutut untuk melamar Zahra, namun langsung ditahan oleh wanita itu.


"Nggak perlu, Pak. Bapak nggak pantas untuk berlutut seperti itu." larang Zahra.


"Kalau begitu, menikahlah dengan ku Zahra." ujar Mike dengan suara yang sedikit keras sehingga orang-orang disana mendengarnya. Bahkan adik dari Zahra sendiri melongo tak percaya dikala kakaknya dilamar oleh seorang pria tampan.


"Terima aja, Nak Zahra."


"Iya, bener tuh. Terima aja, udah ganteng, tajir lagi."


Banyak tetangga yang memberikan saran agar Zahra menerima lamaran Mike.


"Zahra, saya tak main-main lagi dan waktu saya tinggal sedikit." ujar Mike datar.


"I-iya, Pak. Saya mau." balas Zahra dengan muka yang sudah memerah bagaikan tomat busuk.


"Baguslah. Ayo, kita tak punya banyak waktu." Mike segera menarik tangan Zahra, ia memasangkan cincin itu lalu memasukkan Zahra kedalam mobilnya.


"Ehh Ehh... mau dimana kakak saya?" tahan adik Zahra.


"Mau langsung bawa ke gereja buat nikah. Sebentar lagi ada yang jemput kamu buat dibawa kesana, segeralah siap-siap." balas Mike lalu masuk kedalam mobil, segera saja mobil itu meluncur dan meninggalkan semua orang yang masih dalam tanda tanya termasuk adik dari Zahra.


Didalam mobil, Mike menjelaskan apa yang terjadi. Ia meminta Zahra untuk tetap diam dan membiarkan dia yang bicara untuk menghadapi orang tua dan calon istrinya itu.


Ketika turun dari mobil, Zahra sangat terkejut dengan rumah yang ia datangi. Ia bahkan sungkan untuk masuk kedalam sana, terlalu mewah untuk dirinya yang sangat sederhana bahkan hidup dalam kesusahan tersebut.


Ketika Mike membuat keributan dirumahnya, Zahra hanya bisa terdiam tanpa bisa mengatakan apa-apa.


Wajahnya juga memerah saat Mike mengatakan jika mereka menghabiskan malam yang panjang diatas ranjang.


Kesadaran Zahra terganggu saat mobil yang ia tumpangi terhenti didepan Gereja.


"Silahkan, Nona." ujar Supir yang membawanya kemari.


Zahra ragu, namun ia tetap turun dan keluar dari dalam mobil yang membawanya kemari. Dilihatnya banyak mobil mewah yang berada disekitar parkiran gereja, terlebih dengan tiba-tiba ada kameraman yang mengambil gambarnya dari sana. Bukan hanya satu, melainkan lebih dari itu.


"Pengantinnya sangat cantik."


"Ini bagaikan bidadari."


Banyak pujian yang dilayangkan oleh orang-orang yang berada disekitar sana dan belum masuk kedalam gereja.


Zahra melangkah kakinya dengan ragu diatas rad karpet.


Semua orang bersiaga ditempatnya, ada dua pria yang berdiri didepan pintu utama gereja. Mereka membukanya, mempersilakan Zahra memasuki gereja.


Sementara itu, semua tamu undangan telah menanti kedatangan pengantin wanita, yang juga telah ditunggu oleh pengantin laki-laki didalam sana.


Banyak orang yang hadir, namun itu lebih tertuju untuk keluarga dan para kolega. Cukup banyak yang hadir saat pengucapan janji ini, lebih banyak lagi yang akan hadir ketika wedding party nanti malam.


Saat pintu terbuka, semua orang telah bersiap menyambutnya. Mereka berdiri dari duduknya dan melihat kearah pengantin wanita yang berjalan memasuki gereja.


"Apa yang terjadi? mengapa bukan nona Anggun?"


"Apa mereka mengganti pengantinnya? Dia tak seperti yang terlihat di foto undangan."


"Wanita ya g berbeda?"


Banyak orang yang berbisik bertanya-tanya, namun banyak juga yang mengagumi wajah cantik Zahra.


Zahra, wanita itu terus melangkah tanpa didampingi oleh siapapun. Biasanya jika seperti ini, pengantin wanita akan didampingi oleh ayahnya, namun sepertinya tidak untuk Zahra.


Adik Zahra yang juga hadir disana beranjak dari tempatnya, ia mendekati kakaknya yang baru beberapa langkah dari pintu masuk.


Remaja cantik itu segera meraih tangan kakaknya, ia menaruhnya ditangannya agar kakaknya bisa menggandeng tangannya sendiri.


"Kakak cantik banget sih." puji Adiknya itu.


"Makasih, Dek." balas adik Zahra.


Mereka terus melangkah dengan perlahan, asik Zahra menyerahkan tangan kakaknya pada Pria yang telah menunggunya didepan sana.


Mike menerima tangan Zahra, ia segera menggandeng tangan wanita itu untuk naik keatas altar dan menghadap pendeta.


Keduanya mengucapkan janji suci pernikahan dengan disaksikan oleh semua orang, termasuk orang tua Mike.


Wajah Wira tak semangat dan lebih kearah pucat, ia tak menyangka jika anaknya akan menikahi wanita lain dan bukan pilihannya.


Sedangkan Frans, ia mendukung putranya.


Membiarkan Mike menikahi wanita yang telah dipilih olehnya sendiri. Ia juga tak terlalu menyukai sosok Anggun.


Mike, pria itu mengucapkan janji sucinya pada Zahra, namun hatinya tak tenang. Mengapa hingga akhir Axila tak muncul dan membatalkan pernikahan ini, meskipun ia tak menikah dengan Anggun.