
"Nona Axila." panggilnya. Axila mendongkak, menatap tiga orang pria yang sedang berjalan mendekat.
"Apa yang anda lakukan disini?" tanya Woon-soo.
"Kau tahu Jawabannya." balas Axila, matanya kembali tertuju pada ponselnya yang saat itu sedang menampilkan deretan huruf bercampur angka yang tidak dimengerti oleh author sendiri.
Yah, Axila sedang meretas data dari rumah sakit. Tangannya bergerak dengan lincah layaknya sedang bermain game. Data-data disana sudah disimpan dengan rapat, namun bagi Axila masih ada celah untuk membobol pertahanan mereka, tentu saja dengan menggunakan aplikasi dan jaringan program yang diciptakan olehnya sendiri.
Sedangkan Woon-soo, matanya tertuju pada lampu yang menandakan sedang berlangsung operasi oleh salah satu dokter dan timnya, lalu matanya tertuju pada nama si pasien.
"Siapa dia? apa kerabat anda, nona?" tanya Woon-soo.
"Hmm." balas Axila cuek.
"Pergilah, aku tak akan membiarkan pamanku sendirian. Aku akan menunggu hingga operasinya selesai, kembali dan katakan pada si tua bangka jika aku tak mau menemuinya." ujar Axila, matanya terus tertuju pada layar ponsel tanpa melirik sedikitpun pada Woon-soo yang sat ini sedang menatapnya.
"Tap-"
"Pergilah dengan baik-baik sebelum aku mengusir mu dengan caraku." potong Axila cepat. Matanya menatap Woon-soo dengan tajam.
"Baiklah jika anda memaksa, saya permisi." pamit Woon-soo dan berlalu dari sana.
"Huh, merepotkan saja." gumam Axila. Matanya melirik sekitar, merasa aman Axila mengeluarkan beberapa camilan khas Indonesia dan satu botol minuman rasa orange jus.
Kita beralih pada Levi.
Pria tampan dengan mata tajam saat ini sedang menatap layar monitor laptop nya, ia sedang mencari orang yang beberapa waktu lalu membuatnya penasaran.
Hanya mengandalkan foto yang di zoom, dia mencari gadis itu.
Yah, dia adalah Levi Alexander.
Pria angkuh dan dingin, tak pernah menunjukkan senyumnya pada siapapun. Namun beberapa waktu lalu tersenyum hanya karena melihat aksi seorang gadis dijalanan.
Akhirnya, dia menemukan apa yang dia inginkan.
Namun data itu tak lengkap sesuai dengan yang dia inginkan.
Sorotan mata Levi begitu tajam, saat mendapati nama gadis itu yang disingkat, tempat tanggal lahir juga tak ada, alamat pun sama. Namun negara kependudukan tertera disana "Indonesia"..
"Kau membuatku jadi semakin tertarik kucing liar." gumamnya, matanya tertuju pada foto dan nama gadis itu.
"Axila Lian R, kau membuatku penasaran siapa dirimu sebenarnya." sambung Levi lagi.
Berbanding terbalik dengan yang saat ini terjadi pada Mike.
Pria itu semakin tak tersentuh saja, matanya selalu tajam pada siapapun yang ingin mendekatinya entah wanita atau pria.
Hanya Jack saja yang masih bisa berdiri disisinya, namun tetap menjaga jarak dengan Mike.
Sudah beberapa hari Axila menghilang dari sisinya, gadis itu bagaikan ditelan bumi. Mike belum mengetahui kemana gadisnya pergi, apa lagi pihak bandara juga tak mempunyai data jika Axila menumpangi pesawat milik perusahaan swasta yang bekerja sama dengan bandara.
"Sepertinya Nona pergi dengan kendaraan pribadinya, Tuan muda. Kita bahkan tak menemukan jejak apapun yang ditinggalkan oleh Nona."
Perkataan Jack kemarin membuat pria itu semakin menggila.
Ini semakin sulit untuk menemukan kekasihnya. Ditambah hari dimana Axila pergi, ada beberapa jet pribadi yang juga meninggalkan bandara selain jet milik Axila.
Pria itu semakin menggila, setiap malam ia akan pergi ke club malam dan meneguk wine atau Vodka hingga mabuk, lalu akan pulang dan tidur dirumah Axila, tepatnya lagi kamar Axila, lalu menangis tersedu didalam sana.
Tubuh Mike semakin kurus, tampilannya juga akan sangat berantakan jika tak ada Jack disana yang mengurusinya.
Maria akan memarahinya jika menemukan pria itu berada dalam kamar anak gadisnya, begitupun Michael.
Pernah Michael memukulnya hingga babak belur, hanya karena melihat Mike yang seperti tak mempunyai tujuan untuk hidup saat ini.
Michael tahu persis sifat dari teman putranya itu, tak akan seperti sekarang ini jika tak ada alasan yang tepat.
Putra lah yang selalu menyemangati nya, dan mengatakan jika Axila hanya salah paham.
Putra terus menghubungi adiknya, namun nomor Axila tak pernah Aktif dan selalu saja berada diluar jangkauan.
Keluarga itu tahu, bagaimana Mike mencintai anak gadis mereka.
Yah, Mike memang sudah mencintai gadis itu mereka menjalani hubungan dengan kepura-puraan yang mereka buat.
.......
Jam menunjukkan pukul 11:10 menit, dimana seorang wanita memasuki ruangan Mike.
"Permisi, pak." Ujar setelah tiba dihadapan Mike. Tampak Mike yang mengangguk kecil.
"Siapa?" tanya Mike tanpa melihat kearah wanita berpakaian seksi dengan baju yang dibuka kancing atasnya.
"Saya utusan dari manager perusahaan W-company. Saya sekretaris dari manager Dony." ujarnya memperkenalkan diri.
"Apa yang kau inginkan." ujar Mike dingin, matanya kini beralih pada wanita itu.
"Ah, saya hanya ingin memberikan proposal ini. Kami ingin mengajukan kerja sama dengan perusahaan anda." ujarnya dengan nada yang mulai menggoda, tak lupa wajahnya yang memerah karena ditatap oleh seorang Mike.
"Letakkan saja disana, akan ku baca nanti." balas Mike.
"Kenapa bukan sekarang saja, Pak?" dia menekan akhir kalimatnya dengan nada yang semakin menggoda.
"Cih, jal@ng sejati." umpat Mike.
Dia langsung tahu jika wanita itu sedang menggodanya, namun Mike malah acuh saja.
Namun dengan berani, wanita itu berjalan kearah kursi kebesaran milik Mike.
Kedua alis Mike menyatu, namun dia tetap saja acuh pada wanita itu.
"Apa yang sedang ingin kau lakukan?" tanya Mike ketika gadis itu mulai mendekatkan wajahnya pada Mike.
"Tak ada. Hanya saja, mengapa bapak tak membaca proposal yang sudah kubawa?" Ujarnya dengan nada manja. Tangannya dengan berani mengelus bahu Mike.
Mike tersenyum sinis, sepertinya dia akan membuat wanita ini malu sama seperti yang sebelum-sebelum nya. Sama seperti para wanita yang menggodanya namun berakhir dengan perasaan malu yang tertahankan dan pernah lagi menginjak kaki mereka di perusahaan nya.
Saat Mike ingin berbicara, tangan wanita itu sudah menarik dagunya dan menempelkan bibirnya pada Mike, bahkan mulai ******* bibir Mike dengan nafsu. Namun Mike tak membalas atau menikmatinya, dia hanya terdiam.
Tanpa disadari, jika pintu ruang kerjanya terbuka dan berdiri seorang gadis yang saat ini terpaku ditempatnya dan tak melangkah masuk, pintu kembali tertutup karena gadis itu memilih keluar.
Wanita itu semakin berani karena tak mendapatkan penolakan dari Mike, tangannya bergerak cepat membuka kancing jas milik Mike, dan hampir saja terlepas.
Namun siapa sangka, jika disana sudah berdiri seorang pria dengan wajah tak percaya dan marah.
"Tuan Muda?!" ujarnya dengan suara yang tak bersahabat.
Mengingatnya membuat Mike semakin frustasi. Seandainya waktu itu dia langsung mendorong wanita jal@ng itu, pasti semua ini tak akan terjadi.
Pasti gadisnya masih berada disini, dan tak meninggalkan nya sendiri.
Pasti...
Pasti...
dan Pasti....
"Ahhkkk!!" pekik Mike.
"Axila dimana kau, sayang?" ujar Mike dengan air mata yang semakin membanjiri pipinya.
*********
...***Note***...
Gimana, setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Masih suka nggak sama Mike?
Dia baik loh sebenarnya, hanya saja waktu itu tak terduga.
Yah, bisa dibilang perkiraannya tak sesuai dengan apa yang dia inginkan.
Mau mempermalukan, eh malah terjebak dengan masalah nya sendiri.