Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Chapter 122


Axila berjalan kearah fakultas ekonomi, mencari kelasnya sendiri. Saat ia menemukan kelasnya, segera saja ia mengetuk pintu lalu masuk.


"Siapa?" Tanya seorang pria berusia kepala empat, karena belum pernah melihat wajah Axila.


"Saya mahasiswa pindahan, Pak. Mulai hari ini saya bergabung disini." Jelas Axila.


"Ohh... Kamu mahasiswa itu, silahkan masuk." Balas pria itu.


Axila melangkahkan kakinya memasuki kelas, sementara semua mahasiswa yang berada didalam sana terus memperhatikan nya, terutama wajahnya yang sangat cantik itu.


"Silahkan perkenalkan nama kamu."


Axila mengangguk, ia menatap kedepan dan melihat semua mata tertuju padanya.


"Namaku Axila Lian, panggil saja Axila. Mahasiswa pindahan yang mulai bergabung hari ini." Ujar Axila datar.


"Gila... Cantik banget tuh cewek."


"Gebetan baru nih.."


"Tomboy, bro..."


"Cantik amat, tapi sayang datar."


"Silahkan kamu cari sendiri bangku mu, masih ada beberapa yang kosong disana." Ujar Prof Hery.


"Baik, Pak." Axila berjalan kearah tempat yang ia rasa nyaman, para mahasiswa merasa senang karena Axila berjalan kearah bangku mereka.


Aldo, salah satu mahasiswa yang populer merasa percaya diri, ia yakin jika Axila akan duduk disampingnya karena kebetulan disampingnya tak ada yang tempati.


Siapa sangka, Axila justru melewatinya dan duduk disamping salah satu cowok yang sejak tadi tak berekspresi seperti teman sekelasnya. Sepertinya cowok itu sangat berbeda, lihat saja, deretan bangku itu tak ada mahasiswa yang duduk bersamanya, semua bangku kosong.


"Sial! Kenapa malah duduk disampingnya si batu sih?" Umpat Aldo, sama seperti beberapa mahasiswa lainnya yang menatap kesal pada cowok itu.


Sementara itu, cowok tadi hanya menoleh sekilas pada Axila, ia kembali menatap kearah papan tulis.


"Axila." Ia mengulurkan tangannya agar berkenalan dengan teman sebangkunya.


"Eggy." Balas cowok itu datar tanpa mau menjabat tangan Axila.


Axila mengangkat bahunya acuh, ia menatap Prof Hery yang mulai pelajaran.


"Baik anak-anak, kita mulai pembelajaran kita. Buka buku operasi bisnis bab 5, halaman 92." Suara Prof Hery membuat kelas itu kembali hening, kuliah dimulai.


"Eggy, tolong kamu bantu Axila, yah." Sambung pria itu lagi.


"Baik, Pak." Balas Eggy patuh, ia segera mendorong bukunya agar bisa berbagi dengan Axila.


Sementara Axila sendiri memang tak punya pilihan lain, karena ia anak bari disini, ia tak tahu harus membeli buku apa saja sehingga hanya membawa tiga Note sedang. Sepertinya setelah kuliah selesai, ia harus pergi ke toko buku dan membeli buku-buku mata kuliah.


Ini sedikit membosankan bagi Axila, sejak tadi ia dan yang lainnya hanya mendengar dan mencatat, entah sudah berapa banyak waktu yang terlewati. Hingga mata kuliah selesai, ia menyimpan Note nya didalam tas, segera bersiap keluar kelas sama seperti mahasiswa lainnya.


"Axila." Panggil Eggy.


Axila menghentikan langkahnya, ia menoleh pada Eggy.


"Hmm."


"Jam 4 di Caffe G." Ujar Eggy, pria itu berlalu dari sana dan meninggalkan Axila yang masih sedikit bingung.


"Maksud si Eggy itu, kalian bakal kerjain tugasnya di Caffe G jam 4 nanti." Sambung seorang cewek yang duduk tepat di bangku depan mereka.


"Oh, makasih." Balas Axila.


Cewek itu berdiri dan menghampiri Axila, "Kenalin, gue Jessica." Ia mengulurkan tangannya berkenalan dengan Axila.


"Axila." Balas gadis itu, ia meraih tangan Jessica dan bersalaman.


"Mau ke kantin nggak?" Tawar Jessica, "kebetulan gue sama temen-temen gue mau kesana."


"Boleh." Balas Axila, mereka berjalan menyusuri lorong-lorong, menuruni tangga dan berakhir di kantin kampus.


Saat baru memasuki kantin, suara ribut menyambut mereka. Terutama Aldo yang sudah menunggu Axila disana.


"Axila... Mau makan yah? Mau apa biar gue pesenin." Ujar Aldo sementara antek-anteknya berada dibelakang Aldo.


Aldo tak menyerah, ia sekarang duduk didepan Axila setelah berhasil mengusir salah satu cewek bernama Diana agar duduk berhimpitan dengan yang lain sementara ia bisa menatap Axila.


"Lo belum tahu nama gue kan makanya Lo cuekin gue? Oke, nggak papa. Perkenalkan, gue Aldo Wijaya, cowok terganteng di fakultas kita." Ujarnya percaya diri, mengharapkan Axila yang menanggapi nya, justru terbalik. Gadis itu malah meninggalkan meja dan memesan makanan.


"Kan di kelas bisa kenalan, kenapa malah Lo nungguin di kantin sih?" Tanya Diana, bilang saja ia protes.


"Lo kayak nggak tahu aja, mana berani dia berhadapan sama si Eggy." Balas Prilly, salah satu teman Jessica.


"Tuh tahu." Sambung Aldo, ia kembali mendekati Axila dan terus mengganggu gadis itu.


Bahkan saat makan saja Axila tak bisa tenang, mengapa? Karena Aldo terus mengganggunya.


Axila mendengar obrolan anak-anak di belakang nya, lebih tepatnya meja yang terletak di belakang Axila dan yang lainnya.


"Kalo si Exsel sih, yang gue denger dia bakal balik lagi entar. Soalnya kerjaannya hampir selesai."


"Enak banget si Exsel, masih kuliah aja udah dipanggil buat kerja."


"Yah mau gimana lagi, dia kan anak berprestasi di kelas kita."


"Gue iri banget tahu nggak? Gue juga pengen kayak si Exsel. Kuliah sambil kerja gitu, jadinya kan pas lulus nanti udah punya banyak duit."


"Emangnya Lo doang? Gue juga kali."


Mereka terus mengobrol, sedangkan Axila sudah tak peduli lagi. Ternyata proyek Exsel hampir selesai, sepertinya ia harus terbang ke Seoul lagi untuk melihat keadaan hotelnya nanti.


Bagaimana Axila bisa yakin jika yang mereka bahas itu adalah Exsel si mahasiswa arsitektur?


Tentu saja karena ia membaca pikiran salah satu cowok disana.


Setelah dari kantin, mereka kembali lagi ke kelas. Mata kuliah selanjutnya akan segera dimulai.


Dan untunglah Aldo tak lagi mengganggunya karena ada Eggy disana, ia tak berani macam-macam jika ada cowok itu. Bukan hanya Aldo, tapi semuanya mahasiswa di kelas itu tak berani pada Eggy.


Entahlah, mereka terus mengatakan jika Eggy adalah cowok batu yang sangat menakutkan.


Memangnya Axila takut? Jangan pernah berharap jika gadis itu akan takut hanya karena Eggy adalah cowok tak berekspresi, memangnya ada yang lebih menakutkan dari dia?


Seorang Dewi Perang yang selalu bermandi darah segar dan menghabisi nyawa musuhnya.


Ahh, sudahlah. Lupakan saja.


Kuliah berakhir, Axila ingin kembali ke rumah dan beristirahat sebentar, namun sepertinya tidak bisa.


Ia sudah punya janji dengan Eggy untuk mengerjakan tugas kelompok, dan mereka akan bertemu jam 4 nanti. Lalu sekarang sudah jam 3 sore, itu artinya ia tak bisa kembali ke rumah dan beristirahat dengan tenang disana, itu hanya akan membuang-buang waktunya.


Axila juga tak bisa menjemput Azka di sekolah, karena sekarang adalah jam pulang sekolah mereka.


"Halo, Noona." ujar Azka diseberang sana.


"Noona sudah menyuruh supir agar menjemput mu, Noona tak bisa menjemput mu ke sekolah." Axila tak punya pilihan lain jadi dia menelpon Azka untuk memberitahu remaja itu.


"Oh, baiklah. Apa Noona di kantor sekarang?" tanya Azka.


"Tidak. Masih di kampus, aku harus mengerjakan tugas kelompok jam 4 nanti." balas Axila.


"Emm.. baiklah, tak apa."


Telepon berakhir, Axila berjalan kearah parkiran dan memasuki mobilnya.


Ia ingin beristirahat sebentar, karena waktu terus berjalan dengan cepat, Axila memilih untuk masuk kedalam ruang dimensi agar bisa beristirahat sepuasnya didalam sana.


Tentu saja disambut dengan senang oleh Evan dan Louis didalam sana.


.


.


.


.


.