
Pagi yang cerah, Michael sedang duduk santai ditemani koran dan secangkir kopi sama seperti pria lainnya yang sudah berkeluarga.
Maria sedang membuat sarapan yang mudah dimasak, apa lagi jika bukan sandwich untuk keluarganya, dibantu oleh seorang juru masak dirumah itu sedangkan pelayan lainnya sedang mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Putra sedang berolahraga di ruang GYM, dia terus mengangkat beban dengan kedua tangannya lalu melakukan gerakan lainnya. Merasa sudah cukup, Putra menghentikan aktivitasnya dan berlalu dari sana.
"Pagi, Pah." sapa Putra, ia mendudukkan dirinya diatas bangku yang berada persis di samping kirinya.
"Pagi." balas Michael, ia terus membaca deretan kata yang tertera di lembaran koran.
Putra meneguk air mineral yang sudah berada disana setelah ia tuang sendiri kedalam gelasnya.
Tak beberapa lama bel rumah berbunyi, entah siapa yang sudah bertamu pagi-pagi begini.
Seorang pelayan berjalan kedepan dan membukakan pintu, mengajak tamu itu masuk kedalam rumah.
"Selamat pagi, Tuan besar-Tuan muda.
Ada Tuan Mike yang berkunjung." ujar pelayan itu.
"Ajak dia kesini." balas Michael, segera pelayan tadi kembali dan memanggil Mike yang saat itu berada diruang tamu ke ruang makan.
"Pagi, Om. Put." sapa Mike pada Michael.
Michael menyimpan korannya diatas meja makan.
"Pagi, Mike. Silahkan duduk saja, maklum saja kita pada belum sarapan masih nungguin Tante kamu buat sarapannya." ujar Michael yang sudah akrab dengan Mike tanpa ada rasa canggung sedikitpun.
Mike menurut, ia menarik salah satu kursi yang berada disamping Putra dan mendudukkan bokongnya diatas bangku itu.
Jika yang lainnya sedang berkumpul dibawah, maka Axila masih terlelap diatas tempat tidurnya dengan sangat nyaman.
Deringan ponsel yang berada diatas nakas mengganggu tidurnya, dengan sedikit kesadaran ia menggeser tubuhnya kesamping dan meraba-raba atas nakas, ia menemukan benda pipih yang sudah mengganggu tidurnya.
Setelah menggeser ikon hijau, ia menempelkan ponselnya didepan telinganya.
"Halo.." ujar Axila.
"Noona-a..." suara rengekan itu membuat Axila tahu siapa yang mengganggunya.
"Jangan perlihatkan aku telingamu, aku sedang V-cool" ujar Azka diseberang sana.
Axila mengangkat ponselnya dan memperlihatkan wajahnya, dengan mata yang masih terpejam.
"Ada apa?" ujar Axila dengan suaranya yang khas bangun tidur.
"Kau masih tidur?
Ini sudah pukul setengah 10 pagi, Noona... Ayo bangun..." ujar Azka yang merasa gemas pada kakak nya.
Axila membuka matanya dan menatap layar ponselnya, "kau cerewet sekali!" balas Axila dan diiringi dengan kekehan pelan setelah melihat raut wajah Azka yang menggemaskan.
Bahkan Adiknya sudah mengenakan seragam sekolah.
"Hei... disini masih sangat pagi dan kau sudah mengganggu tidurku, kau tahu?" ujar Axila yang seakan sedang merajut pada adiknya.
"Noona-aa.." rengek Azka dari seberang sana sedangkan Axila hanya tertawa dengan senang melihat Azka yang cemberut.
Axila beranjak duduk, ia merapikan sedikit tataan rambutnya.
"Kau sudah berangkat sekolah?" tanya Axila.
Azka mengangguk.
"Lalu dimana Sehun?" tanya Axila.
Azka menggeser posisi ponselnya dan memperlihatkan Sehun yang berada disampingnya.
"Ouhhh.. kedua adikku terlihat sangat tampan." puji Axila
"Noona... adikmu hanya satu yaitu aku, Sehun tidak..." keluh Azka diseberang sana bahkan Axila sampai harus mengontrol tawanya saat ini.
"Baiklah-baiklah, adikku hanya Azka seorang. Jadi, mengapa kalian tak masuk kelas?" tanya Axila penuh selidik.
Azka dan Sehun menggeleng, "gurunya tidak masuk. Mungkin dia menghilang ke Antartika.." ujar Sehun membuat Axila terkekeh pelan.
"Ya sudah kalau begitu, Noona harus mandi dulu, kalian belajarlah dengan baik.
Azka dan Sehun tampak mengangguk dan melambaikan tangan mereka.
"Jaga diri dan kesehatan kalian, Oke?"
"Beres, Bos" balas keduanya dan V-cool pun berakhir.
Axila berjalan menuju kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya setelah merasa kembali segar ia beranjak turun dari kamarnya.
Langkah kaki Axila yang hanya mengenakan sandal jepit terus berbunyi saat menyentuh lantai, ia terus menuruni anak tangga dan berakir dilantai dasar.
"Pagi Semuanya.." sapa Axila ketika berada ditangga akhir.
"Pagi Lila" balas Michael, Maria dan Putra. Jangan lupakan jika ada Mike disana juga
Axila berjalan mendekati meja makan, namun yang dilihatnya adalah pria yang sudah tak asing lagi. Axila tak peduli, dia berjalan mendekati Putra dan mengecup pipi Putra kilas, tak lupa Michael yang mengecup kening Axila bukan Axila yang mencium Michael, lalu berakhir pada Maria yang dikecupnya pipi kanan Maria kilas dan duduk disamping ibunya itu.
"Sandwich?" ujar Axila setelah melihat sarapan yang sudah tersedia disana.
"Kau tak ingin?" tanya Maria.
"Tidak, aku mau dua. Boleh?" balas Axila pada Maria.
Maria mengangguk, diambilkan dua potong sandwich dan menyajikan diatas piring gadis itu.
Axila mengambil sandwich nya dan mulai melahap sedangkan yang lainnya hanya menatap gadis itu.
"Kalian tak makan?" tanya Axila.
"Kami sudah selesai, kau yang terlalu lama turun." balas Mike.
Kening Axila mengerut, "sedang apa kau disini pagi-pagi begini?" ujarnya pada Mike yang duduk tepat didepannya, sebenarnya itu adalah bangku Axila namun gadis itu lebih memilih untuk duduk disamping Maria saat ini.
"Hon-"
"Syuuuutttt.." Axila meletakkan jemarinya tepat didepan bibirnya tanda diam.
Ponselnya bergetar, Axila dengan cepat mengunyah sandwich yang baru saja ia gigit lagi lalu meneguk susu coklat nya yang sudah Maria sediakan.
"Siap! Selamat pagi, Let!" ujar Axila yang tiba-tiba membuat mereka semakin menatap dengan serius.
"......."
Axila memandang tepat pada Mike dengan tatapan tajam seolah pria itu sedang melakukan kesalahan yang sangat fatal.
"Baik, aku kesana sekarang." Axila beranjak dari duduknya, semua masih terus menatapnya.
"Maaf, aku keatas dulu." ujar Axila, diraihnya sandwich yang belum habis ia makan sambil sedikit berlari menaiki anak tangga kelantai atas.
"Mengapa dia harus pergi keatas?" umpat Mike, dia ingin bicarakan sesuatu yang serius namun gadis itu malah meninggalkan nya disini bersama yang lainnya.
Putra yang merasa keadaan sedang genting segera beranjak dari tempatnya tanpa mengucapkan apapun dan menyusul Axila kelantai atas
Sesampainya disana, dia melihat Axila yang masuk kedalam kamarnya, setelah mengetuk pintu dan mendapatkan ijin untuk masuk, Putra melihat tampilan Axila yang sudah berubah.
"Ada apa? apa yang terjadi?" tanya Putra sedang mengamati Axila yang seperti sibuk sendiri dengan kopernya.
"Mereka bergerak lebih cepat, sepertinya ada yang memberitahu jika mereka akan digeledah oleh pihak berwajib." ujar Axila sambil terus memasukkan beberapa jenis senjata api kedalam satu ransel yah akan ia bawa, tak lupa dua berlatih tajam yang berada didalam sana juga namun dilindungi oleh tempatnya agar tak melukai Axila.
"Lila, ini sangat berbahaya dan kau-"
"percayalah padaku, Kak. Hari ini kami hanya akan mengintai dan memantau mereka, itu saja." balas Axila setelah menyusul semuanya kedalam ranselnya.
"Mobilku ada disini, kan?" tanya Axila.
Putra menggeleng, "tidak, aku menyimpannya di rumah mu." balasnya.
"Kak, aku pinjam mobilmu." ujar Axila lagi.
"Baiklah, ini." balas Putra sambil menyerahkan kunci mobilnya pada Axila.
Axila dan Putra kembali kelantai dasar, ia bisa melihat raut wajah Maria yang tadi tersenyum kini malah berbeda.
"Ada apa? kau mau pergi?" tanya Maria sedangkan Michael cukup tahu apa yang terjadi jadi ia berdiam diri dan menyaksikan sendiri apa yang akan terjadi.
"Tak ada apapun, Bunda. Aku hanya harus pergi ke suatu tempat, ada hal penting yang harus kulakukan." ujar Axila lalu mendekat dan mengecup pipi kiri Maria lalu beranjak pada Michael yang memeluknya, sedangkan putra hanya mengusap kepalanya.
Axila tak peduli lagi pada Mike, dia langsung berjalan menjauh namun ia menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba dan berbalik pada mereka lagi.
"Aku pergi dulu," matanya kini menatap Mike, "Mike, sampai bertemu lagi." ujarnya lalu kembali melangkah keluar dari rumah besar itu.