
Dibelahan bumi yang lain, terdapat seorang pria tampan yang sedang memeriksa dokumen yang berada tepat di depannya, dengan seorang pria didepannya.
Tangannya meraih pulpen dan menandatangani apa yang sudah selesai dia baca.
"Tingkatkan lagi pekerjaan mu." ujarnya dengan nada datar.
"Baik, Tuan. Saya permisi dulu." Balas lawan bicaranya.
Pria itu segera bangun dan berlalu dari ruangan serba putih itu, meninggalkan bos nya.
Terdengar langkah kaki yang memasuki ruangan setelah mengetuk pintu.
'Tapp...'
'Tapp...'
'Tapp...'
Tidak lain dan tak bukan adalah sang asisten, Jack.
"Tuan." panggil Jack.
Pria tampan itu hanya bergumam sebagai jawabannya, "Hmm! Ada apa, Jack?" balasnya.
"Saya baru saja mendapatkan kabar baik dari orang kita." ujar Jack, "Dia sudah menemukan keberadaan Nina Axila." lanjutnya.
Mike langsung mendongkak menatap wajah Jack dengan serius.
"Katakan sekali lagi!"
Jack meletakkan tabletnya diatas meja kerja Mike, lalu mendorongnya kedepan pria itu agar dia membaca sendiri tulisan yang berada disana.
"Nona saat ini sedang berada di Seoul. Nona juga membeli salah satu Hotel mewah disana.
Foto ini di ambil saat nona sedang mengikuti kegiatan amal untuk anak yatim-piatu yang tak mampu membayar biaya sekolah mereka." jelas Jack.
Mike langsung saja mengambil tablet milik Jack, melihat tulisan abjad Korea disana.
"Akhirnya! Akhirnya aku menemukanmu, Honey." gumam Mike, bibirnya tersenyum dan menampilkan kelegaan. Air matanya juga ikut membasahi pipinya, sungguh dia sangat bahagia.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Mike tanpa melihat kearah Jack.
"Nona baik-baik saja, Tuan.
Dari informasi yang kudapat, sepertinya Nona pergi ke sana karena dia ingin menjemput adiknya dan membawanya kembali." Jack menggeser layar baletnya, dan terlihatlah wajah Axila yang sedang melihat kearah lain.
Sedangkan judul artikel itu.
"여동생만을 위해 호텔을 샀다." 'Membeli Hotel hanya untuk sang adik.'
Mike membaca deretan huruf yang tercantum pada artikel itu, jangan tanya apa dia mengerti atau tidak.
Karena Mike, dia mahir dalam beberapa bahasa termasuk Korea. Selain bahasa Indonesia, dia menguasai enam bahasa lainnya, jadi bukan masalah baginya. Karena menurutnya, seorang pebisnis juga harus mengetahui bahasa asing lainnya selain bahasa Inggris.
"Ya, Tuan. Adik-Nona bernama Azka, orang kita sudah mencoba agar mengetahui identitas adik-Nona, namun sepertinya kita juga akan sulit menemukan identitas adiknya, sama seperti saat mencari identitas Nona Axila."
"Siapkan jet, kita kesana hari ini!" perintah Mike, pria itu meraih Jas nya, lalu berjalan keluar dari ruangannya.
Otomatis, Jack juga mengikuti langkah tuannya.
Jack meraih ponselnya, lalu menghubungi pilot pribadi Mike agar mempersiapkan jet untuk keberangkatan mereka ke Korea Selatan.
Jack membuka pintu mobil, mempersiapkan Mike masuk dan duduk didalam sana. Kemudian berputar dan duduk dibelakang kemudi.
Segera saja mobil itu mulai bergerak maju, meninggalkan area perusahaan milik seorang Tuan Mike.
Dua jam kemudian, Mike dan Jack memasuki bandara setelah mengambil password dan koper mereka di rumah Mike.
Sambil menarik koper, dua pria itu memasuki area penerbangan. Disamping jet, sudah berdiri dua orang yang mengenakan setelan serba hitam, mereka menyambut Jack dan Mike, lalu mempersilakan kedua pria itu menaiki anak tangga dan memasuki jet.
...........
Beralih pada Axila yang baru saja tiba di rumah sakit.
Dia baru saja selesai mengikuti acara amal, itupun di ajak oleh Shin-Young.
Shin-Young yang sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit mengajak Axila agar mengikuti acara amal tersebut, Axila juga sebenarnya sudah menerima undangan dari sang pembuat acara.
Tentu saja disana banyak sekali reporter, acara amal ini dihadiri oleh orang-orang kalangan atas, yang menyumbangkan dana bagi anak-anak yatim yang kurang mampu membayar biaya pendidikan mereka.
"Arghh! Melelahkan." Axila menjatuhkan tubuhnya diatas sofa empuk yang berada dalam ruang inap Adiknya, sedangkan Azka?
Remaja tampan itu menatap Axila dengan sedikit terheran, "Eonni." panggil Azka.
Axila menengok ke arah Azka yang sedang berjalan mendekat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Azka pengertian.
"Ya, aku hanya sedikit kelelahan." ujar Axila.
Azka mengambil tangan Axila, lalu memijitnya dengan lembut.
"Maaf." ujarnya.
"Untuk?" balas Axila.
"Kau pasti kelelahan bekerja hanya untukku." lanjut Azka.
Axila tersenyum, tangannya meraih kepala Azka lalu mengusapnya.
"Ini sudah menjadi kewajiban ku. Kau harus membalasnya dengan nilai mu yang tinggi, oke?"
Azka tersenyum, "Baiklah, eonni."