Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
chapter 115


Axila dan Azka telah kembali ke rumah lagi, Azka kembali bersikap seperti sebelumnya meskipun rasa canggung itu masih ada dalam diri dan hatinya. Namun Axila tak menanggapi hal itu, dia bersikap seperti biasa saja.


Levi juga sering berkunjung ke rumah Axila hanya untuk sekedar mengobrol ataupun membahas bisnis mereka yang memang telah terjalin kerjasama nya.


Dan dengan mengetahui siapa Axila sebenarnya, Axila (Liu Mei) menggunakan kesempatan ini untuk tak lagi menutupi identitasnya sebagai seorang pebisnis, hampir sebagian latar belakang Axila yang asli telah diketahui oleh orang-orang yang selama ini mencari informasi mengenai dirinya.


Bahkan masalah tentang Axila (asli) yang pernah bertunangan dengan Alex juga diketahui namun tak menyebutkan siapa sosok lelaki yang telah mengkhianati nya, dan tentang dirinya (Axila asli) yang pernah melakukan percobaan bunuh diri juga diketahui.


Ini adalah alasan mengapa gadis ini sekarang telah menjadi seorang wanita berkarir meskipun tak mempunyai gelar Sarjana.


Axila yang sekarang malah ingin melanjutkan kuliahnya sambil bekerja sebagai seorang pebisnis, tentang jurusan apa yang ingin ia ambil belum diketahui.


"Noona yakin ingin melanjutkan kuliah lagi?" tanya Azka disaat mereka sedang sarapan.


"Tentu saja, aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya belajar dimasa depan ini, dulu aku hanya terfokus untuk membuat orang-orang itu pergi dari kerajaan ku saja." balas Axila santai.


Azka mendesah pelan, "Tak ada yang menyenangkan, semuanya terasa biasa saja." balas Azka malas, ia bahkan menjatuhkan kepalanya diatas meja makan, untung saja makananmu ia geser terlebih dulu.


"Itu karena kau masih belajar dari rumah, mulai besok kau akan bersekolah seperti biasanya." ujar Axila sambil meneguk jus apel miliknya.


"Hehehe...." Azka memperlihatkan deretan giginya yang putih, "Noona yang terbaik." jangan lupa mata berbinar dan jempolnya yang ia arahkan pada Axila.


Lalu bagaimana dengan gadis itu?


Axila hanya mampu mengelus dadanya karena sikap Azka yang mulai seperti biasanya, menggemaskan.


Langkah kaki yang sedikit berat sedang mendekat, Azka mengalihkan pandangannya pada pria yang sudah terbiasa berada dirumah ini.


"Annyeong Ahjussi.." sapa Azka pada asisten Kang sambil melambaikan tangannya.


Asisten Kang tersenyum, "Selamat pagi juga Tuan muda," matanya tertuju pada Axila, "selamat pagi, Nona." sapanya.


"Pagi." balas Axila seperti biasanya, datar namun ia masih melirik pada asistennya itu.


"Duduk."


Satu kata dari Nona nya segera ia laksanakan, "Terima kasih, Nona." ujar asisten Kang.


"Jadi?"


Azka menutup mulutnya rapat-rapat, untuk urusan seperti ini ia belum mengetahui apapun hanya mampu mendengar percakapan sang kakak dan asistennya.


"Banyak media yang mulai mencari tahu lebih dalam lagi tentang Nona, dan lagi banyak rumor yang beredar diluar sana yang-"


"Rumor hanyalah rumor, tak ada yang spesial disana." potong Axila datar.


Asisten Kang mengambil nafasnya dalam, "Baik, Nona.


Dan yang lainnya, beberapa investor ingin menarik dana dan saham mereka karena mereka menganggap Nona bukanlah orang yang tepat dan belum berpengalaman dalam dunia bisnis."


"Apa karena Noona tak mempunyai gelar Sarjana?" sambung Azka cepat.


Asisten Kang mengangguk, "Bisa dibilang begitu, Tuan muda."


"Kau mengerti mengapa aku ingin melanjutkan kuliah ku, sekarang?" ujar Axila lalu menatap Azka.


"Hmmt." Azka mengangguk, ia mengerti. Memang banyak orang yang selalu melihat orang lain dari satu sisi tanpa mau mengetahui sisi lain dari orang itu, tanpa mengetahui potensi yang berada didalam diri orang tersebut.


Suatu pemikiran yang cukup dewasa bagi Azka saat ini.


"Kau sudah urus apa yang aku minta kemarin?" tanya Axila.


"Baiklah, sisanya kita bicarakan di kantor. Akan terlihat jelek jika bos nya selalu datang terlambat ke kantor nya." ujar Axila menyudahi percakapan mereka dimeja makan.


Axila dan asistennya kemudian meluncur meninggalkan rumah, pergi ke perusahaan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab masing-masing.


Azka yang ditinggal sendirian di rumah sudah mulai terbiasa, lagi pula ia masih lancar komunikasi dan kedekatan nya dengan Axila tak mengendur walau mereka bukan adik kakak, dan Axila yang sekarang hanya menggunakan raga kakaknya saja. Itu bukanlah masalah yang terlalu besar untuknya, ia juga pasti akan melakukan hal yang sama jika berada diposisi kakaknya yang sekarang ini.


Terpaksa harus berbohong untuk melindungi dan tak menyakiti orang tersebut.


Axila juga selalu mengenakan pakaian yang lebih sedikit santai saat pergi ke kantor, misalnya ia akan menggunakan Hoodie dengan celana jeans, atau kemeja yang ia sisip separuh didalam celana atau rok nya, dan lebih mengerikannya lagi.


Ia pernah menggunakan pakaian tidur untuk pergi ke kantor, saat itu mereka kedatangan investor asing yang ingin bekerja sama dengan perusahaan yang dipimpin oleh Axila, gadis itu tak mempunyai banyak waktu sehingga asistennya menyeret nya ke kantor dengan penampilan mengerikan itu namun terlihat sangat cantik dan natural baginya juga.


Dikantor lebih tepatnya ruang kerja Axila, disana ia sudah ditunggu oleh para perias yang akan merubah penampilannya menjadi lebih menawan atas perintah dari asistennya itu.


Azka tak akan melupakan kejadian itu, terlalu memalukan namun terlihat sangat lucu dan menggemaskan, apa lagi saat kakaknya itu diseret oleh asistennya sendiri.


Namun semua itu terjadi sebelum identitas dari Axila terbongkar.


Dan sekarang, ia sudah tak lagi mempermasalahkan penampilan kakaknya itu, mau memakai baju apapun akan terlihat sangat pas dan cantik.


Lagi pula, dikantor kakaknya tak terlalu peduli pada penampilan seseorang. Mereka lebih mengutamakan potensi dalam diri orang tersebut, dan siap urusan penampilan. Axila membiarkan mereka bebas namun tetap sopan, dandanan tak terlalu tebal dan beberapa peraturan kecil lainnya.


-----------


Axila baru saja kembali dari kantor nya, ia sedikit lelah hari ini.


Bagaimana tidak? Setelah ia selesai meeting dengan setiap ketua Devisi, ia harus pergi ke universitas lagi untuk mengurus kuliahnya lagi.


Memang dibantu oleh asistennya namun tetap saja Axila merasa lelah.


Kampus mau menerimanya meskipun sudah berada di pertengahan semester, tentu saja asistennya yang mengurus soal hal itu.


Dan apa kalian masih ingat dengan Exsel? Si arsitektur muda dari fakultas teknik itu?


Axila berkuliah di kampus yang sama dengan Exsel, namun seperti gadis itu tak berminat untuk menjadi seorang arsitek namun mempunyai minat yang lain.


Ponselnya bergetar, menandakan seseorang menghubunginya.


'Mike'


"Ada apa anak itu menghubungi ku?" gumam Axila.


Ia menggeser ikon hijau dan menempelkan ponselnya didepan telinganya.


"Ya, ada apa?"


"Aku ingin bertemu denganmu, boleh 'kan?" tanya Mike dari seberang sana.


"Baiklah, katakan dimana."


"Aku akan mengirimkan tempatnya, aku harap kau datang dan bertemu denganku kali ini." ujar Mike sebelum panggilan itu berakhir.


"Ada apa anak itu tiba-tiba menghubungi ku? Apa telah terjadi sesuatu?" gumam Axila.


Sudah seminggu lebih semenjak Axila keluar rumah sakit, dan Mike tak pernah menghubungi nya lagi. Lalu mengapa anak itu menghubungi nya kali ini?


Semoga saja tak terjadi sesuatu yang bahaya lagu.