Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Kami berbeda, Dia bukan Aku


jq7j"Aku sangat menyayangi kalian, aku mencintai kalian.. hikss... hikss..."


Tiba-tiba Azka merasa ada yang mengelus kepalanya lembut, "Kau masih cengeng seperti dulu, Yah?" ejeknya.


"No-Noona?"


"Ya, ini aku. Mengapa menangis, hmmt?" tanya Axila sambil mengelus pipi Azka lembut.


"Eomma-Appa, mereka... hikss... hikss..."


Axila meraih adiknya kedalam pelukannya, "Sudahlah, kau tak perlu sedih lagi, mereka sudah bahagia bersama." Axila coba untuk menenagkan adiknya.


Beberapa menit berlalu, Azka kembali tenang.


"Tadi, Eomma bilang ada yang ingin bertemu denganku, apa itu Noona?" tanya Azka.


Axila menganguk, "Aku tak menyangka adikku yang cengeng sudaah besar dan hampir dewasa."Axila mengelus pipi Azka, "kau tumbuh dngan sangat baik, yah?" sambungnya lagi.


"Noona-a, kau bicara apa? aku tak mengerti maksudmu," balas Azka.


Axila menggeleng, "aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja dan telah dewasa."


"Mengapa Noona bicara seperti itu? Noona selalu bersamaku setiap hari, lalu apa maksud Noona?" Azka tak mengerti, bahkan tak paham dengan ucapan kakaknya ini.


Azka menatap mata kakaknya, ini tatapan yang sangat berbeda dari yang biasa ia lihat setiap hari, tatapa ini sama seperti 8 tahun yag lalu, penuh kehangatan dan kelembutan yang selalu membuat orang lain nyaman.


"Aku akan memberitahumu sesuaatu, ini mungkin terdengar gila dan tak mungkin, namun. Aku sudah meninggal, aku sudah tak ada lagi didunia, Azka." ujar Axila yang coba untuk memberitahu kebenaran yang ada.


"Noona, kau ini bicara apa? mengapa kau mengatakan hall yang tak mungkin, kita selalu bersama seti-"


"Dia bukan aku, Azka." potong Axila cepat.


Azka mengerutkan keningnya tak mengerti, "Maksud Noona?"


"Inilah kebenarannya, kami berbeda dan dia bukan aku."


"Apa ucapan Noona dapat dipercaya?... Apa ini karena orang itu menculikku lalu Noona seerti mempunyai kekuatan?... Aku tahu jika aku bermimpi, itu hanyalah mimpi burukku!" suara Azka meninggi, dia kesal karen ucapannya.


"Kau akan mengetahuinya nanti. Kembalilah, belum saatnya kau berada disini, satu yang harus kau ketahui. Ak minta maaf karena tak dapat menepati janjiku, aku menyayangimu Azka." ujar Axila, ia memeluk Azka lalu menghilang seperti yang terjadi pada kedua orang tuanya.


"Noona...! Noona..! Nonna...!" Azka terus memanggilnya namun tak mendapati jawaban apapun, cahaya disekitarnya juga ikut meredup hingga akhirnya kembali pada kegelapan.


Azka kembali keruang hampa itu, bingung dan tak tahu harus melakukan apa. "Noona.... Noona..."


panggil Azka.


 


Axila yang saat ini sedang berada dalam kamar Azka sedang tertidur lelap, ia merasakan kantuk karena kelelahan.


Hingga suara Azka tiba-tiba terdengar di indera pendengarannya, Axila membuka matanya lalu mendekati ranjang Azka.


"Noona... Noona..." panggil Azka pelan.


"Dia mengigau?" Axila menempelkan tangannya dikening Azka, ia pikir Azka demam sehingga membuat remaja itu mengigau, tapi ternyata tidak.


Suhu tubuh Azka normal, lalu mengapa anak ini mengigau?


"Azka... Azka... Azka bangun.." Axila menepuk pipi Azka pelan, "hei, bangun..." ia coba untuk membangunkan Adiknya itu.


Mata Azka terbuka dengan lebar, ia mengerjap nya beberapa kali, orang yang pertama kali ia lihat adalah kakaknya.


"Noona-a..." Azka langsung memeluk Axila.


Azka menggeleng cepat, ucapan kakaknya didalam mimpi masih terngiang-ngiang di otaknya.


Levi memasuki kamar Azka setelah ia mengetuk pintu.


"Kau sudah bangun?" ujar Levi berjalan mendekat, namun Azka tak menjawabnya.


Azka melepas pelukan Axila, ia menatap mata Axila, tatapan yang sangat berbeda dari yang ia lihat didalam mimpi. Azka ingin memastikannya sendiri, yah. Itu harus.


"Kau," Azka menatap serius pada Axila, membuat gadis itu menatapnya lebih dalam.


"kau bukan kakakku, apa aku benar?"


Deggg...!


Mata Axila membulat, "Apa maksudmu, Azka?"


"Kau bukan kakakku, iya 'kan?!" ujar Azka dengan sedikit bentakan.


Axila coba untuk membaca pikiran Azka, ia melihat jika Axila yang asli menemui Azka dan mengatakannya. Sepertinya ia harus menjelaskannya sendiri.


Levi yang merasa suasana didalam kamar itu sedikit menegang hanya terdiam dan menonton apa yang terjadi pada keduanya.


Axila mendesah, "Itu benar. Aku bukan kakakmu." ujar Axila.


Tubuh Azka melemas, kepalanya tertunduk. Jadi selama ini ia dibohongi oleh wanita ini? Tapi mengapa wajah ini tetaplah milik kakaknya?


Siapa sebenarnya wanita yang berada didepannya?.


"Siapa?!.. siapa kau sebenarnya?!" bentak Azka. Tatapannya menjadi tajam saat menatap Axila.


"Dimana kakakku?!"


"Dia sudah mati." balas Axila datar, untuk apa dia berpura-pura lagi, meskipun tak bisa dibohongi lagi.


Liu Mei sudah terlanjur menyayangi Azka seperti Adiknya sendiri.


Deggg...!!


Tidak! Itu bukan jawaban yang Azka inginkan.


"Bohong! Kau pembohong!" pekik Azka.


Hei... hei... Ada apa ini? mengapa kedua kakak beradik ini bertengkar?


Lalu mengapa Axila mengatakan jika Axila sudah mati? Lalu siapa ini?. Pikir Levi.


"Aku tak akan berbohong lagi.


Aku memang bukan kakakmu.


Ini terdengar gila tapi, kakakmu sudah meninggal. Dan aku yang mengambil alih tubuh ini.


Tubuh ini memang milik kakakmu, tapi tidak dengan jiwanya. Aku bukan kakakmu, Axila." ujar Axila (Liu Mei)


Omong kosong apa lagi ini?


Apa ini candaan?


"Omong kosong!" bentk Azka tak terima.


"Mau percaya atau tidak, itulah kebenarannya." Axila melangkah dan keluar dari kamar Azka