
Langkah kaki seorang gadis yang menggunakan sepatu kets gold memasuki Halaman rumah sakit. Dengan celana Boyfriend jeans dan baju over size berwarna putih, dibalik bajunya terdapat satu tas kecil yang melingkar disana, Axila menyimpan kunci mobil dan dompetnya disana.
Axila baru saja kembali dari tempat dimana Azka menempuh pendidikan, membawakan adiknya makan siang yang dia pesan dari salah satu restoran Indonesia yang berada di Seoul.
Kakinya berjalan kearah dimana ruangan tuan Kang berada, mendorong pintu itu dan memasuki ruangan yang ditempati oleh beberapa pasien.
"Annyeong, Ahjussi." sapa Axila.
Tuan Kang yang sedang menonton berita di televisi segera menatap kearah gadis muda yang sedang berada disamping bangsal nya.
"Annyeong, nona." balasnya.
"Ini, buah untukmu." Axila menyimpan keranjang buah yang dibelinya dari supermarket diatas balas samping bangsal tuan Kang.
"Ah, kau tak perlu repot-repot membawakan aku buah, nona." tentu saja pria itu jadi tak enak hati. Axila sudah mau membantunya saja sudah sangat bersyukur.
"Tidak repot juga." balas Axila. Matanya melirik kearah jam yang melingkari pergelangan tangannya.
"kau belum menerima kabar dari dokter tentang jadwal operasi mu, Ahjussi?'
"Sudah, jadwalku akan dilangsungkan pukul 3 sore nanti." balas tuan Kang.
Axila mengangguk, "baguslah. Aku harus menjenguk seseorang, tak apa bukan? Jika aku meninggalkan mu sebentar dan menjenguknya."
Tuan Kang mengangguk dengan cepat, "tak apa nona, saya bisa sendiri disini."
"Baiklah, aku akan kembali sebelum kau memasuki ruang operasi" Axila menundukkan kepalanya, lalu keluar dari dalam ruangan itu.
Tuan Kang mengambil keranjang buah, lalu mengambil satu jeruk dan mengupas kulitnya.
Axila melangkahkan kakinya kearah lift, memasukinya dan menekan tombol angka 5. Dimana ruang rawat Shin-Young berada.
Tadi pagi, saat gadis itu bangun dari tidurnya Axila menerima telepon dari nomor asing.
Segera saja gadis itu menggeser ikon hijau dan menempelkan ponselnya didepan telinganya.
"Halo?"
"Selamat pagi, Nona Axila." sapa seseorang diseberang sana.
"Ya, dengan siapa ini?" tanya Axila.
"Ah, saya Woon-soo. Apa nona tak menyimpan kontak saya kemarin malam?"
"Ah, maaf." Axila lupa menyimpan kontak dari Woon-soo semalam.
"Tak apa nona."
"Lalu, ada apa kau meneleponku?"
"Nona, apa saya bisa minta anda untuk datang ke rumah sakit?
Begini, hanya untuk memastikan jika tuan muda memberikan merespon jika anda berada disini." Pinta Woon-soo dari seberang, meskipun dadanya saat ini sedang berdetak dengan cepat karena takut jika Axila menolak permintaan nya.
"Mengapa aku harus?"
"Begini, ah tidak. Maksudku, saya akan menjelaskannya jika anda sudah berada disini. Akan saya beritahukan semuanya pada anda, karena ada kejadian kemarin yang membuat tuan muda memberikan respon pertama nya." jelas Woon-soo.
"Baiklah, aku juga mempunyai urusan disana." balas Axila, kemudian dia mengakhiri panggilan dengan sepihak.
Pintu lift kembali terbuka, didepan sana sudah berdiri tiga orang pria yang menggunakan pakaian formal, kakinya melangkah keluar dari lift.
"Selamat datang, nona Axila." sapa Woon-soo yang menundukkan kepalanya, diikuti oleh dua pria yang berada disamping kiri dan kanannya.
"Hmm." balas Axila.
"Mari ikut saya." Woon-soo menuntun Axila berjalan kearah salah satu ruangan yang saat ini sedang diawasi oleh dua pria berpakaian hitam didepan sana.
"Selamat datang, Nona." ujar mereka sopan sambil menundukkan kepala.
Axila juga ikut menundukkan kepalanya, kakinya melangkah memasuki ruang serba putih dengan harum ruangan yang beraroma mint.
Matanya menangkap sosok pria yang saat ini sedang tertidur pulas diatas bangsal rumah sakit. Lee Shin-Young, beserta sepasang suami istri yang sedang berada didalam ruangan itu.
Mereka adalah tuan Lee Won-Hoo dan Kang Jin-na, orang tua dari Shin-Young.
Tatapan nyonya Kang mengarah pada Axila yang saat ini berada didalam ruang rawat putranya, tatapan penuh harap.
"Kau yang bernama Axila?" suara bariton itu memenuhi ruangan, tatapannya begitu tajam pada Axila.
Axila melangkahkan kedepan, tak mempedulikan kedua pasang mata yang sedang menatapnya. Tatapan Axila tertuju pada Shin-Young yang sedang tertidur pulas.
"Bisa kau jelaskan padaku, Woon-soo?" tatapannya mengarah pada pria yang menjadi sekretaris Shin-Young.
Pria itu mulai menceritakan bagaimana Shin-Young bisa mengalami kecelakaan.
"Saat itu, Tuan muda melihat seorang nenek-nenek yang akan menyebrangi jalan tapi tanpa disadari olehnya ada truk yang melaju dengan kencang kearahnya.
Tuan muda yang melihatnya segera berlari dan menolong nenek itu, namun dirinya yang malah ditabrak." Woon-soo memberikan ponselnya pada Axila, yang menunjukkan bagaimana kejadian itu bisa terjadi.
"Lalu, bagaimana dia bisa memberikan respon seperti yang kau katakan?" tanya Axila setelah menonton video singkat dilayar ponsel Woon-soo.
"Namamu." ujar Kang Jin-na.
Tatapan Axila tertuju pada wanita itu, lalu kembali pada Woon-soo.
Woon-soo yang ditatap mengerti dengan apa maksud dari tatapan itu.
"Saat aku menyebut namamu, tuan muda menggerakkan jarinya.
Itu merupakan respon pertama nya semenjak dia mengalami kecelakaan ini." jelas Woon-soo.
Axila mengangguk, "Jadi, kau memintaku datang untuk memastikan. Jika dia benar-benar merespon ku, begitu?"
"Anda benar, nona."
Axila menarik nafasnya panjang, lalu menghembuskan nafasnya dengan berat, "Aku paham. bisakah kalian minggir sedikit, akan ku bangunkan dia."
Axila mulai bertanya pada Louis dengan menggunakan telepati, pria itu segera memberitahukan apa yang harus Axila lakukan.
Lee Won-Hoo dan Kang Jin-na segera menyingkir, membiarkan Axila yang mengambil tempat mereka saat ini.
"Hei idiot, kau belum bangun juga?" Ujar Axila, membuat kedua orang tua Shin-Young tersinggung, karena anak mereka tak idiot seperti yang dikatakan Axila.
"Huh, padahal aku datang kesini untuk menjenguk mu. Tapi kau malah sedang tidur." lanjut Axila.
Matanya tertuju pada ketiga orang yang sedang menatapnya. "Aku akan melakukan dengan caraku, jadi. Kalian bisa keluar dari sini."
"Tidak! kami tak akan pergi, berani sekali kau mengusir kami dari sini!" bentak tuan Lee.
"Ya sudah, jangan kaget dengan apa yang akan kulakukan." sambung Axila cepat.
"Louis, mana jarum yang kau bilang tadi?" Ujar Axila lewat telepati.
"Tunggu sebentar, aku sedang mengambilnya... Ah, ini dia." balas Louis, segera saja kotak berukuran kecil berisi jarum akupuntur itu muncul ditangan Axila yang saat itu sedang berada dalam tas kecilnya yang tersembunyi.
"Apa yang akan dia lakukan?" tanya Nyonya Kang.
"Cepat panggil pengawal dan dokter kemari, Woon-soo!" perintah Tuan Lee.
Pria itu segera berlalu, menyuruh salah satu pengawal diluar sana memanggil dokter, dan dua lainnya masuk mengikuti langkah Woon-soo dari belakang.
Axila hanya tersenyum miring, tangannya menyentuh tangan Shin-Young dan menggenggamnya.
"Kau tak mau bangun juga, idiot?" bisik Axila tepat ditelinga Shin-Young.
Dengan tiba-tiba saja, tangan Shin-Young bergerak, seperti ingin balas menggenggam tangan Axila.
"Aku akan membawamu kembali, jadi. Kau harus bangun oke? karena ayahmu menatapku dengan tajam sejak tadi, jika kau tak bangun, maka aku akan dibunuhnya." ujar Axila.
Dia percaya, meskipun pria itu koma, dia tetap bisa mendengar apa yang mereka katakan. Dia seperti didalam ruangan yang gelap dan tak ada cahaya yang masuk kedalam sana. Itulah mengapa dia tak kunjung sadar juga.
Tanpa disadari oleh mereka, Axila memasukkan cairan berwarna keemasan kedalam mulut Shin-Young. Tentu saja dengan menggunakan elemennya agar tak diketahui oleh mereka yang sedang menatapnya dengan tajam.
Dokter memasuki ruangan, matanya tertuju pada Axila yang saat ini sedang berada disamping bangsal Shin-Young. Woon-soo memberikan kode agar pria itu tak mengeluarkan suara apapun, dan dengan patuh dia hanya mengikuti apa yang dikatakan Woon-soo.
Mata dokter terbelalak melihat jarum akupuntur yang dikeluarkan Axila.
"Ba-bagaimana bisa?" ujarnya dengan terkejut.
Mata Axila menatapnya, lalu tersenyum miring.
"Bisa aku minta alkohol? aku ingin mensterilkan benda-benda ini." ujar Axila padanya.
Dokter itu mengangguk dengan cepat, lalu keluar dengan terburu-buru, untung lah ada perawat yang lewat dengan memegang sebotol alkohol berukuran kecil.
Dia merampasnya lalu kembali masuk kedalam ruang rawat Shin-Young.
Perawat hanya menggerakkan kepalanya, kembali berjalan menjauh dan melakukan tugasnya.
Axila menerima alkohol dari dokter, lalu menyirami tangannya yang saat itu sedang memegang jarum akupuntur.
Tuan Lee menarik tangan dokter dengan kasar, "apa yang ingin dilakukan oleh gadis itu pada putraku?" tanyanya, matanya masih menatap tajam pada Axila.
"Sepertinya Nona itu mau melakukan perawatan dengan teknik akupuntur. Sejenis pengobatan tradisional di zaman dulu." ujarnya menjelaskan. Matanya juga menatap Axila yang saat ini mengeringkan tangannya menggunakan tissue.
"Maksudmu?"
"Aku tak bisa menjelaskannya dengan rinci saat ini, Tuan. Namun, teknik ini sudah lama menghilang, sudah tak ditemukan lagi jarum akupuntur ataupun tekniknya di zaman modern ini." jelas dokter.
Tangan Axila sekarang membuka sedikit pakaian yang dikenakan Shin-Young. Tindakan Axila sudah kelewatan Dimata tuan Lee.
"Cukup! apa sebenarnya yang ingin kau lakukan pada putraku?!" banyaknya. Bahkan kakinya sudah melangkah kearah Axila saat ini.
Saat sudah mendekat, tangan Axila terangkat dan mendorong tubuh tuan Lee kebelakang, dia menggunakan aliran Qi didorongan nya.
Tubuh tuan Lee langsung terhempas kebelakang, membuat mereka terkejut dengan tindakan Axila barusan.
"Jika kau tak ingin dia bangun, silahkan saja. Aku bahkan tak ingin dia bangun dari komanya, tapi aku kasihan saat melihat tatapan rapuh seorang ibu. Istrimu yang sangat ingin melihatnya bangun bukan aku, apa kau mengerti pak tua?!" ujar Axila dengan dingin. Dia kesal, konsentrasi nya terganggu saat sedang konsentrasi mengikuti arahan dari Louis dari dalam ruang dimensinya.
"Biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan, jika terjadi sesuatu pada Shin ku. Dia lah yang akan bertanggung jawab." ujar Nyonya Kang.
Axila yang mendengar hal itu bertambah kesal, tidak bisakah orang-orang ini percaya padanya?
"Lanjutkan, Nona. Aku percaya pada kemampuanmu." ujar Woon-soo, dia yakin tuannya dapat bangun dari komanya dengan bantuan Axila.
"Suri mereka keluar dari sini!" ujar Axila dingin dan tegas, dia tak ingin dibantah.
"Jangan berani mengusirku, jal@ng!" bentak tuan Lee.
"Kalau begitu panggil putramu agar dia bangun, bedeb@h! lakukan jika kau bisa!" tatapan Axila seperti ingin membunuh saat ini.
Dengan terpaksa, Woon-soo membawa kedua orang tua Shin-Young keluar dari dalam sana, meskipun ditolak oleh keduanya.
Bahkan terjadi keributan saat ini di dalam rumah sakit dan membuat beberapa pasien dan pengunjung menatap mereka dengan terheran-heran.
meniinggal kan dokter dan Axila sendiri didalam sana, semua orang sudah berada diluar ruangan dengan Woon-soo yang sedang dimarah-marahi oleh tuan Lee.
Dokter yang merasa hawa disekitarnya terasa berbeda menggosok tengkuknya, dia merinding saat ini.
Louis menyuruh Axila untuk membuat dokter itu berhalusinasi seperti yang diinginkan Louis, segera saja Axila melemparkan satu jarum kecil yang sudah diberikan bubuk halusinasi, hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja prianitu tampak sedikit linglung.
Louis segera keluar dari dalam ruang dimensi, membantu Axila mentransfer aliran Qi diatas jarum akupuntur yang sudah ditancapkan dibeberapa titik tubuh Shin-Young. Axila menancapkan jarum akupuntur tepat dijemari kaki Shin-Young, kemudian pergelangan, belakang lutut, jemari tangan, pergelangan, dada dan beberapa titik lainnya.
Sekitar 10 menit, terlihat sudah ada pancaran cahaya yang keluar dari tubuh pria itu. Bulir-bulir keringat juga terlihat di kening Axila, untung saja ada Louis yang membantu nya, jika tidak pasti membutuhkan banyak waktu.
Setelah selesai, Louis langsung kembali kedalam ruang dimensi, Axila sendiri langsung meneguk air suci yang diambilnya.
Dan terakhir, Axila meneteskan cairan berwarna emas lagi kedalam mulut Shin-Young dalam jumlah yang sedikit besar.
Tepat saat itu juga, efek halusinasi yang diberikan Axila pada dokter menghilang.
Matanya menatap Axila yang saat ini sedang mengeluarkan jarum akupuntur dari tubuh Shin-Young.
Dari penglihatannya tadi, Axila hanya menancapkan jarum akupuntur dititik tubuh Shin-Young, lalu terlihat cairan berwarna hitam yang keluar dari tubuh Shin-Young.
Tiba-tiba pintu terbuka, terlihatlah wajah tuan Lee yang menahan amarahnya yang sudah memuncak.
Pria itu masuk dengan langkah yang tegas, berjalan kearah Axila yang menatapnya.
*Plakkk!*
Bunyi tamparan yang begitu keras, membuat pipi Axila mengikuti arah berlawanan tamparan itu datang. Pipinya terasa sangat panas, tak pernah ada seorang pun yang berani menamparnya, tapi pria tua ini. Lihat saja apa yang akan terjadi nanti.
"Dasar jal@ng tak tahu diri! pergi dari ruangan putraku sekarang juga!" bentak nya.
Axila tersenyum sinis, merapikan jarum akupuntur miliknya dan beranjak dari tempatnya.
"Jangan menyesal setelah ini." ujarnya tepat disamping tuan Lee.
Kakinya langsung saja keluar dari ruang rawat Shin-Young dan pergi dari sana.
Beralih pada Shin-Young, pria itu sedang berada didalam ruangan yang begitu gelap.
Dia bisa mendengar apa yang terjadi diluar sana, meskipun samar-samar dia mendengar suara Axila.
Tiba-tiba saja dia seperti ditarik paksa, keluar dari dalam ruang gelap itu.
Yang tadinya gelap gulita, kini tiba-tiba terang yang teramat sangat. Membuat mata pria itu kesakitan saking silaunya.
Dia terus mendengar, tiba-tiba terdengar suara tamparan yang begitu keras, lalu terdengar suara seorang wanita yang mengatakan "Jangan menyesal"
"Ila... ila..." panggil Shin-Young dengan pelan, saking pelannya terdengar seperti sedang berbisik.
Alat pendeteksi jantung tiba-tiba berbunyi dengan keras, dokter segera mendekat dan ingin memeriksa pria itu. Namun alangkah terkejutnya dia, saat mendapati bibir Shin-Young yang bergerak.
"Tuan muda! Tuan muda kau mendengar ku?" ujar Dokter, dia mengarahkan senternya pada mata Shin-Young.
"Ila." panggil Shin-Young lagi.
Dokter mendekatkan telinganya pada bibir pria itu.
"ila..ila..." ujarnya berbisik.
"Apa yang terjadi pada putraku, dokter?!" tanya tuan Lee, Nyonya Kang disampingnya sudah menangis tersedu.
"Tuan muda sadar dari komanya." ujar dokter.
"Apa?"
"Sungguh?"
...**NOTE**...
Jreng-jreng-jreng...
Yey, bersambung lagi.
>Thor, kok satu episode aja sih?
>Thor, crazy up dong....
>Hai kak,. sebenarnya ini udah 2144 kata yah, yang harusnya aku update 2 episode. tapi malah gabung aja.
Dan.
>Boleh, bisa kok. Masalah nya, mata aku nggak bisa terus natap layar hp, soalnya aku nulis dari HP bukan laptop. Mau nulis jadi susah juga, kan?
Maklum aja, mataku minus.
Tapi bakal aku usahakan biar bisa crazy up nanti.
Aku cuma minta dukungan kalian aja kok, itu aja udah cukup banget buat aku
Zero^-^