
Axila mengemudikan mobilnya kearah dimana tempat tujuannya saat ini. Dimana ia akan kembali meninggalkan tanah air untuk pergi ke negeri ginseng, Korea Selatan.
Sudah hampir seminggu ia berada di tanah air. Urusan dengan Exsel juga sudah disepakati, bahkan mungkin pria itu juga sedang berada dalam perjalanan.
Axila juga meminta Daren untuk mencarikan perusahaan yang saat ini sedang mengalami krisis keuangan atau hampir bangkrut. Sesuai dengan apa yang ia katakan pada Azka jika ia akan mendirikan perusahaan untuk mereka berdua, namun sepertinya ia lebih memilih untuk membeli perusahaan dan memperbaiki apa yang menjadi permasalahan mereka.
Axila menghentikan laju mobilnya diparkiran mobil. Dimana ia akan kembali menitip mobilnya agar ketika kembali dari Seoul ia mengemudikan kembali mobilnya.
Ia menarik koper yang menjadi miliknya, memasuki bandara. Dimana orang-orang nya sudah menunggunya sejak tadi.
Ia bertemu dengan Exsel yang berada di dalam sana, setelah pemeriksaan.
Exsel yang melihat orang yang sejak tadi ia tunggu sejak tadi segera mendekat.
"Kau tuba juga." ujarnya.
"Hmmt." balas Axila, ia terus menarik kopernya melewati orang-orang, dengan diikuti oleh Exsel dibelakangnya.
Exsel tak mengatakan apapun, meskipun ia sedikit bingung akibat Axila yang tak mengambil tiket, dan mereka malah berakhir di area penerbangan.
Exsel masih mengikuti langkah Axila, yang berjalan mengarah ke satu jet pribadi yang berlambang AL. Disana sudah tersedia tangga yang mengarah kedalam jet dan sudah pasti pintunya terbuka.
Vano yang melihat Nona nya tiba segera turun dan mengambil ahli koper itu, membiarkan Exsel membawa kopernya sendiri kedalam sana.
Axila langsung duduk di tempatnya, menatap kearah luar jendela yang menampilkan pemandangan dari dalam jet. Sedangkan Exsel masih terkagum-kagum melihat bagaimana cara Vano yang menyambutnya lengkap dengan seragam pramugara yang ia kenakan.
Setelah Justin menerima ijin penerbangan, mereka langsung lepas landas menuju tempat yang mereka tuju.
"Kau menyewa jet ini, Axila?" tanya Exsel yang berada di bangku sebelah Axila, bukan berada disampingnya.
Axila tak menjawab, namun Vano lah yang menjawab pertanyaan Exsel.
"Jet ini milik Nona, untuk apa Nona menyewa lagi?" balas Vano.
"What?" ekspresi Exsel benar-benar terkejut, "sungguh?"
"Untuk apa aku berbohong. Ini milik Nona Axila, aku dan temanku juga bekerja untuknya." sambung Vano.
"Kalian mengobrol lah, aku ingin beristirahat."
Suara Axila membuat kedua pria itu segera mengangguk.
Vano dan Exsel berkenalan, mereka terlibat percakapan yang seru. Entah apa yang mereka obrolkan, namun Axila lebih memilih untuk menurunkan sandaran kursi, menutup matanya dan memasuki alam mimpinya.
Sementara di Sekolah.
Azka sedang membaca, dia berada dalam kelas dan tak sama seperti teman-temannya yang sedang keluar.
Ujiannya juga hampir dimulai, lebih tepatnya lusa. Dan saat ini remaja itu sedang berusaha keras agar bisa mendapatkan nilai yang lebih bagus lagi dari pada semester kemarin.
Setidaknya, ia bisa membuat kakaknya bangga karena ia memiliki nilai yang bagus nanti.
"Azkaaa..." suara cempreng Sehun tak membuat Azka mengalihkan fokus.
"Kau tak makan siang?" tanya Sehun namun tetap tak mendapatkan jawaban dari sahabatnya, yang ada malah angin yang menjawab.
"Hei...
Berhentilah belajar sebentar dulu, kesehatanmu juga perlu dijaga." komentar Sehun, namun sama saja.
"Hei... kau tak makan siang? Mau ku adukan pada Noona?" ancam Sehun, barulah sahabatnya mengalihkan pandangan padanya.
"Berapa gigi mu yang ingin kukatakan?" balas Azka, akhirnya bibirnya yang sejak tadi tertutup mengucapkan sesuatu juga.
"Silahkan jika kau berani. Kurasa, Noona bukan membelamu tapi aku." balas Sehun sambil meneguk susu kotak yang ia beli dari kantin.
"Cihh...
Percaya diri sekali kau." gumam Azka.
"Tentu saja, Noona pastinya akan membelaku karena ini demi kebaikanmu.
Kau tak berfikir, jika saking kerasnya kau belajar lalu jatuh sakit, memangnya siapa yang disalahkan?
Apa kau pikir Noona tida-"
"Aku tahu." balas Azka dengan menutup bukunya, memasukannya kelaci mejanya dan berlalu dari sana.
Jika di ingat lagi, apa yang dikatakan oleh Sehun ada benarnya juga. Jika dia sakit, kakaknya akan khawatir dan meninggalkan pekerjaannya di sana lalu terbang ke sini hanya karena ia sakit. Memang menguntungkan, namun merugikan juga.
Kakaknya pasti saat ini sangat sibuk, meskipun mereka masih mengobrol sebentar lewat Zoom video, ataupun sekedar chating.
Entahlah, tapi sampai hari ini dia tak tahu apa pekerjaan kakak nya itu.
Yang ia tahu, kakaknya adalah seorang pengusaha. Buktinya kakaknya membeli Hotel yang mewah itu.
............
Lain hal nya dengan Gong-Min dan Myung-Jun yang saat ini sedang mengawasi suatu tempat. Beberapa hari terakhir, tempat itu menjadi tempat bermain mereka.
Apa lagi selain memberikan teror bagi orang yang saat ini mengelola Caffe itu.
Mereka membuat wanita itu gelisah, ketakutan, dan tak bekerja dengan baik seperti sebelumnya.
Kakak tiri Azka juga mendapatkan teror dari Min-Hyuk, si cowok batu itu membuat kakak tiri Azka mendapatkan perlakuan yang sedikit buruk dari teman-temannya.
Mulai dari mendapatkan pesan dari orang misterius, ditinggalkan oleh teman-teman nya saat mereka sedang bersama. saat bermain game di pusat permainan juga mendapatkan pesan ketika dia sedang bermain game dan hampir menang, membuat pria itu sangat kesal. Dan saat mereka sedang karaokean lalu tiba giliran membayar, mereka akan membiarkan nya yang membayar semua itu, entah jajanan ataupun sewa ruangan lalu menyalahkan nya karena dia yang mengajak untuk karoke sedangkan mereka tak membawa uang.
Alhasil, ia akan dimarahi ibu nya saat kembali ke rumah karena memakai uang ibunya.
Pernahkah kalian menonton drama revenge Note?
Maka seperti itulah teror yang diberikan oleh Min-Hyuk pada targetnya.
Kesialan-kesialan itu dilakukan oleh Min-Hyuk. Dengan mengandalkan komputer nya, setelah mengirimkan pesan dan dibaca oleh targetnya, Min-Hyuk akan langsung menghapus nya sehingga tak menyisahkan bukti apapun.