
Axila kembali ke meja yang tertera namanya setelah berdansa dengan Levi, pria itu juga menyusul Axila dan kembali duduk ditempat yang tadi.
Disana Azka telah menunggu mereka dengan senyum binarnya.
"Noona benar-benar sangat cocok dengan Kak Levi." Ujar Azka, Axila hanya melirik Adiknya tanpa ekspresi apapun.
Sedangkan Levi, ia malah mengedipkan mata nya pada Azka.
"Tentu saja, lagi pula dia calon istriku." Ujar Levi percaya diri.
""Calon istri pala lu." Timpal Axila kesal, pria ini memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi.
"Jika kau tak melarangku tadi, aku sudah melamar mu dilantai dansa tadi." Ujar Levi.
Dan memang benar, jika Axila tak mengancamnya, mungkin mereka sudah menjadi pusat perhatian semua orang.
Mengapa?
Karena rencana Levi terbaca oleh Axila, pria itu ingin melamarnya didepan semua orang, bahkan dihadapan Mike dan membuat pria itu semakin panas.
"Jangan pernah melakukan rencanamu itu, jika tidak aku akan membuatmu menyesal." Bisik Axila.
"Memangnya apa yang aku rencanakan?" Balas Levi terheran-heran.
"Lamaran disini." Ujar Axila.
"Maksud mu, kau ingin aku melamarmu disini?" Jahil Levi namun mendapatkan tatapan tajam dari gadis itu, aura membunuhnya menekan Levi sehingga pria itu merasa terancam.
"Baiklah-baiklah, aku tak akan melakukannya." Ujar Levi mengalah, sepertinya ini juga bukan waktu yang tepat, dia tak bisa melanjutkan apa yang ia rencanakan tadi.
Axila melirik jam tangan yang melekat di pergelangan tangannya, waktu telah menunjukkan 09.13 Pm.
Sekarang telah memasuki jam tidur Azka.
"Ayo." Ajak Axila.
"Kemana?" Tanya Azka dan Levi bersamaan.
"Memberikan ucapan selamat pada mereka, lalu kembali ke rumah. Ini telah memasuki jam tidurmu, Azka." Ujar Axila memperingatkan Azka.
Dengan lesu Azka menjawab, "Baiklah." Padahal masih ingin merasakan suasana pesta, namun besok ia harus kembali sekolah lagi. Dan juga, besok adalah hari pertama kakaknya kembali berkuliah.
Axila dan Azka menaiki panggung itu, melihat Axila yang mendekat.
Mike langsung berdiri dari duduknya diikuti oleh Zahra istrinya, Axila mendekat dan memberikan ucapan selamat kepada Zahra.
"Selamat untuk pernikahan mu, acaranya sangat meriah. Semoga rumah tangga mu tak terdapat penghambatan."
"Terima kasih." Balas Zahra dengan senyum manisnya.
Axila menoleh pada Mike, "Istrimu sangat cantik, aku mengharapkan yang terbaik untuk kalian berdua."
Mike tersennyum kecut menanggapi ucapan Axila.
Giliran Axila yang memberikan selamat lagi pada Mike, saat mereka berdekatan, Mike langsung menarik gadis itu kedalam pelukannya.
"Seharusnya kau yang berada disitu, bersamaku sekarang dan-"
"Mike, aku bukanlah yang pilihan terbaik untukmu. Dia adalah wanita yang cantik dan kuat, aku harap kau tak menyakitinya, dia pilihanmu. Terimalah dia dan belajarlah untuk mencintainya, dia akan memberikan semua yang tak bisa kuberikan padamu.
Aku mengharapkan yang terbaik untuk kalian berdua." Ujar Axila mengusap punggung Mike.
Azka menarik Axila kembali, pria itu telah memeluk kakaknya sedikit lama, dan dia tak suka itu.
Terlebih lagi, mereka jadi perhatian semua orang.
"Kami juga pamit pulang, ini sudah memasuki jam istirahat untuk Azka. Dia harus sekolah lagi besok." Lanjut Axila setelah terbebas dari pelukan Mike.
Zahra merasa sedikit heran dengan sikap pria yang saat ini telah menjadi suaminya, ada apa dengan tatapan penuh cinta dan obsesi itu?
Azka memberikan selamat pada Mike, ia lalu menarik kakaknya dari sana, seakan ingin menjauhkan Mike dengan kakaknya.
Levi yang ditahan oleh beberapa pria hanya melihat interaksi mereka dari jauh, orang-orang mengerubungi nya, mereka bicara tentang bisnis mereka, dan semua perkataan menjilat yang membuat Levi jijik.
Saat Azka dan Axila akan pergi, ia segera pergi dari kerumunan itu dan memanggil mereka.
"Kalian akan kembali sekarang?" Tanya Levi.
Mobil mereka dibawakan oleh pria tadi, Azka membuka pintu dan membiarkan kakaknya duduk tenang biarkan dia yang menyetir.
... _*_*_*_*_...
.Brakk...!
Pintu mobil ditutup oleh Azka, ia berjalan memutar kepintu kemudi, Axila menurunkan kaca mobilnya dan menatap Azka.
"Sana pergi, uang jajannya masih ada 'kan?" Ujar Axila.
Axila mengangguk, "Masih.
Kalau begitu aku masuk dulu, Noona yang semangat kuliahnya." Ujar Azka, ia mencondongkan tubuhnya kedalam mobil.
Cupp...
Satu kecupan mendarat di pipi kanan Axila, gadis itu membalasnya dengan mengusap kepala Azka dan membuat rambut remaja itu sedikit berantakan.
"Aku pergi dulu, belajarlah yang rajin." Bersamaan dengan itu, mobil Axila kembali meluncur dan meninggalkan area Sekolah.
Azka memasuki gerbang sekolahnya, berpapasan dengan beberapa teman sekelasnya ataupun siswa yang lain.
Butuh waktu 40 menit lebih agar Axila bisa tiba di kampus. Gadis itu memarkirkan mobilnya di parkiran universitas.
Axila menjadi perhatian banyak mahasiswa, karena penampilannya yang sedikit berbeda dari mereka, ia terlihat seperti seorang cewek tomboi.
Axila berjalan memasuki kamus, ia mencari ruang Deken, tak butuh waktu yang terlalu lama untuk seorang Axila menemukan ruangan itu.
Ini bukan sinetron dimana anak baru membutuhkan bantuan seorang senior yang keren agar menemukannya.
Lagi pula, Axila sudah pernah ke kampus ini jadi ia telah mengetahui nya.
Tokk..tokk..tokk...!
"Permisi, saya Axila Remanov, mahasiswi pindahan tahun pertama." Ujar Axila dibalik pintu.
"Masuk!" Sahut seseorang dibalik pintu, Axila mendorong pintu dan melihat seorang pria yang tersenyum padanya.
"Pagi, Axila." Sapanya.
"Lagi?" Gumam Axila, segera saja ia langsung berjalan masuk setelah menutup pintu, ia mendudukkan dirinya dengan santai disofa yang berada didalam ruangan itu tanpa bersikap sopan-santun.
Ayolah, Axila sudah bosan dengan pria ini, ia merutuki pria didepannya itu.
"Kamu nggak ada sopan nya yah, sama pemilik Universitas?" Ujar Levi yang berjalan dan duduk disofa tunggal disamping Axila.
"Pemilik Universitas? Kau?" Ujar Axila tak percaya, "lalu mengapa bisa pemilik Universitas berada diruang Deken?" Sindir Axila.
"Hmmt." Levi mengangguk, "sebenarnya orang ku mengatakan jika kau akan kuliah disini, jadi apa salahnya jika aku membelinya?
Dan dengan secepatnya aku mengambil alih Universitas ini, sehingga menjadi pemiliknya.
Aku juga menjadi dosen pembimbing di mata Kuliah yang akan kamu ambil." Ujar Levi panjang lebar.
"Kau gila, yah?" Sindir Axila, bagaimana bisa pria ini membeli universitas ini hanya karena dia akan berkuliah disini.
"Itu semua aku lakukan agar kita semakin dekat, ingat!
Aku sedang melakukan pendekatan agar kau mau menerima ku." Ujar Levi
"Ya!" Bentak Axila, "kau sungguh mulai gila yah?
Aisshh.. terserah, sekarang dimana kelasku." Axila berdiri dari duduknya, Levi juga ikut berdiri dengan cepat saat gadis itu akan meninggalkan ruangannya.
Levi masih terdiam, "fakultas ekonomi, jurusan Menajemen bis-"
"Aku bisa mencarinya sendiri." Potong Axila cepat, ia segera pergi dari sana dari pada terus bersama Levi, ia tak pernah berada didalam ruangan berdua dengan pria itu.
.
.
.
.