Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Chapter 130


"Azka, ayo..." panggil teman-temannya yang telah selesai mengganti seragam dengan pakaian olahraga.


"Baiklah..." balas remaja tampan yang saat itu sedang menyimpan seragamnya didalam loker..


Azka berjalan mendekati teman-temannya, mereka bercanda saat berjalan ke lapangan.


Disana, sudah berdiri beberapa siswa yang sedang mengobrol, ada pula yang bermain bola basket.


"Lalu, bagaimana kalau kami sudah akrab?" tanya Emmy.


"Boleh, kau bisa memanggilnya Oppa. Tapi jika kau baru bertemu dengannya dan langsung memanggilnya dengan Oppa, itu terkesan aneh baginya.


Oppa itu seperti panggilan akrab, biasanya seorang adik perempuan atau pacarnya yang memanggilnya dengan Oppa," jelas Azka pada temannya tersebut.


"Aku mengerti,"


Katakan saja, Azka seperti guru yang saat ini memberi penjelasan kepada teman-temannya. Itupun hanya hal-hal kecil karena mereka tertarik dengan budaya ataupun sesuatu tentang Korea Selatan. Tentunya karena K-drama atau karena K-pop.


"Emm, apa di sekolah mu dulu, kau pernah mendapatkan pembulian?" tanya Valen. Remaja laki-laki itu berada persis di samping Reyna.


"Pernah, aku bahkan selalu mendapat bully jika tak menuruti kemauan mereka," balas Azka.


"Contohnya?"


"Emm, waktu aku mengantri untuk mengambil makan siangku, mereka akan mendorongku dan mengambil bagianku," oh, mengapa ingatan buruk ini kembali lagi padanya?


"Kau tak membalasnya?" tanya Reyna.


"Mereka itu bergerombol, aku tak ingin membuat masalah hingga masuk ruang guru," jelas Azka. Tapi syukurlah, setelah Axila menjemputnya, semua itu menghilang dalam sekejap.


"Jadi kau-"


Prittt....!!


Bunyi peluit membuat semua perhatian beralih pada seorang pria yang baru saja datang.


"Ayo kumpul, kita mulai olahraga nya," panggil pria itu yang tentunya adalah guru mereka.


Dengan enggan, mereka ikut berkumpul bersama yang lainnya dan membiarkan acara mengobrol mereka terhenti.


"Ketua kelas, pimpinan do'a nya," ujar guru itu setelah semua siswa nya berbaris.


Siswa yang merasa jika dirinya adalah ketua kelas maju lalu berdiri disamping guru mereka, "Sebelum kita mengawali aktivitas kita, kita berdoa dengan kepercayaan masing-masing. Berdoa mulai,"


Semua orang menundukkan kepala mereka, yang beragama Islam akan mengangkat tangan mereka lalu mengucapkan doa, yang beragama Kristen Katolik membuat tanda Salib dari kening lalu turun pada kedua sisi bahu, yang Kristen protestan menggenggam tangan sendiri, masing-masing mulai mengucapkan doa menurut keyakinan agama masing-masing.


Termasuk Azka, remaja itu menggenggam tangan nya lalu mengucapkan do'a didalam hatinya.


(Disini Author nggak menyinggung Agama manapun karena cara kita berdoa itu berbeda)


Selesai semuanya berdoa, ketua kelas juga memimpin mereka untuk pemanasan.


Tema hari ini adalah Sepak Bola, guru menjelaskan segala sesuatu tentang sepak bola kepada semua muridnya, dilanjutkan dengan praktik.


Keseruan terjadi, para siswa harus menggiring bola melewati tantangan yang telah disiapkan. Para siswi tentu saja kerepotan, mereka tak bisa melakukannya namun tetap berusaha. Hal itu membuat siswa yang lainnya tertawa karena melihat bagaimana repot nya mereka menggiring bola.


Namun berbeda lagi dengan para siswa, mereka bisa dan mampu menggiring bola sampai akhir, ada pula yang tak bisa namun sisanya sangat mahir dalam sepakbola.


"Baiklah, kita masih mempunyai waktu satu jam lagi. Kalian boleh bermain sepak bola hingga jam pelajaran berakhir," ujar guru, pria itu membiarkan para siswa nya bersenang-senang dengan bermain sepak bola.


Azka dan Valen juga ikut kedalam tim, mereka mulai bermain sepak bola. Sedangkan para siswi hanya menonton saja dari pinggir lapangan, mereka memberikan semangat untuk teman-teman mereka yang sedang bermain disana.


"Azka... Ayo... semangat...." teriakan para siswi membuat lapangan menjadi heboh, ada kelas yang kosong dan para muridnya pergi ke lapangan untuk melihat permainan kelas lain. Terlebih untuk melihat Azka yang paling tampan di kelas itu, Azka sungguh populer dikalangan para siswi.


Tentunya karena dia merupakan seorang anak pindahan dari negeri ginseng, dan juga seorang YouTubers. Kebanyakan dari mereka adalah para penggemarnya, mereka mengambil Vidio saat Azka sedang bermain sepak bola bersama Temas sekelasnya.


Azka yang mulai kehausan berlari kecil kearah teman-temannya, terlebih ketiga cewek itu. Siapa lagi jika bukan Reyna, Emma dan Emmy.


Reyna yang tahu jika Azka sudah kehausan mengambil botol minumnya, saat Azka sudah dekat dengannya, ia menyodorkan botol itu.


Azka meneguknya, sisanya ia siram di kepalanya.


Hal itu membuat jeritan para siswi semakin heboh, Azka tentu saja terlihat sangat seksi dengan penampilannya saat ini.


Baju yang mulai basah karena keringat, ditambah tetesan keringat yang sudaha bercampur dengan air tadi, hal itu semakin membuatnya terkesan bersinar.


Tentunya beberapa siswa menjadi iri, Azka terus menjadi perhatian semua orang dan mereka tidak.


Ada pula yang memakluminya, tentu saja karena Azka memiliki wajah yang tampan dan kulit yang putih. Berbeda dari mereka yang kulitnya sedikit gelap atau sawo matang.


Azka kembali dan ikut bermain lagi, ia mengoper bola pada temannya, lalu berlari dengan kencang kearah yang lain lagi.


Saat bola kembali padanya, Azka berlari kencang sambil menggiring bola kearah gawang, namun karena tak memperhatikan sekitarnya.


Seorang siswa yang juga berlari dengan kecepatan maksimal menuju Azka untuk merebut bola, tak bisa mengontrol kecepatan larinya. Alhasil, hal tak diinginkan pun terjadi.


Kaki mereka saling membelit saat Azka menendang bola, keseimbangan tak bisa dikontrol lagi. Mereka berdua berguling, Azka memegang kakinya yang langsung terasa sangat nyeri dan sakit. Begitu juga dengan siswa itu.


"Azkaaa..."


Guru yang menjadi wasit segera berlari kearah kedua muridnya, begitupun dengan Valen yang mendekati temannya.


"Arghh..... Sakit..." erang Azka, guru tadi langsung berjongkok, ia melihat keadaan kedua muridnya.


"Bawa Mereka ke UKS, ayo..."


Beberapa siswa segera membawa kedua remaja itu, sementara permainan tetap berlanjut tanpa mereka termasuk Guru tadi.


Reyna, Emma dan Emmy juga beranjak dari tempat mereka, mengikuti anak-anak yang membawa teman mereka.


Awalnya Azka dipapah oleh Valen, namun karena tubuh Azka yang berat membuat Valen kesusahan, ditambah Azka terus mengatakan jika kakinya sangat sakit.


Akhirnya, beberapa siswa membantu Valen dengan mengangkat remaja itu bersamaan, mereka membantu Valen membawa Azka ke UKS.


Setibanya di UKS, disana sudah berkerumun para siswi, mereka melihat Azka yang dibawa oleh empat orang.


Reyna, Emma dan Emmy menerobos para siswi, mereka masuk dan melihat perawat yang sedang memeriksa keadaan Azka dan murid tersebut.


"Gimana kak?" tanya Valen pada perawat laki-laki yang baru saja memeriksa keadaan teman mereka.


"Kemungkinan tulang kakinya geser, sebaiknya dibawa ketukan pijat saja," ujar perawat itu.


"Nggak, ayo kita bawa Azka ke rumah sakit aja. Takutnya ada yang lebih parah lagi," susul Emma yang khawatir pada temannya itu.


Valen dan Reyna juga setuju, begitupun dengan perawat tadi.


Mereka membawa Azka dan siswa tadi kerumah sakit, dimana tempat Maria bekerja. Reyna tahu jika kerabat Azka adalah seorang dokter di rumah sakit itu, karena Azka pernah menceritakan hal itu pada mereka.


Yang mengikuti Azka ke rumah sakit adalah Valen dan Reyna, sedangkan Emma dan Emmy akan menyusul ke rumah sakit setelah pulang sekolah nanti.


Setibanya di rumah sakit, Azka dan siswa tadi dibawah ke UGD, sedangkan Valen, Reyna dan perawat tadi menunggu di luar sana.


Ponsel Azka yang dipegang oleh Valen, membuatnya berinisiatif untuk menghubungi Axila dan memberitahu keadaan Azka.


..............


Mendengar penjelasan teman Adiknya, Axila merasa jika kekhawatiran nya sedikit mengurang.


Ternyata memang benar, pergelangan kaki Adiknya itu geser dan telah dipasangi gips oleh dokter tadi.


Dan tahukah siapa yang merawat Azka?


Itu adalah Dokter Robin.


Pria itu bahkan sangat terkejut mengetahui kehadiran Axila disini, dia merasa senang dan gugup, namun melihat seorang pria yang mendampingi Axila membuatnya merasa sakit di dadanya.


"Adikmu tak apa-apa, tulangnya memang geser namun sudah aku pasangi gips. Jangan biarkan dia terlalu menggerakkan kakinya. Jika tidak, nanti akan sangat lama penyembuhannya," itulah penjelasan yang diberikan oleh Robin.


Axila memasuki ruang rawat Azka untuk seharian ini. Pergelangan tangan remaja itu masih terpasang selang infus, sehingga belum bisa kembali ke rumah.


"Noona?" tentu saja Azka terkejut dengan kehadiran Axila disini, ditambah Levi yang mendampingi sang kakak.


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Axila sambil memperhatikan gips yang terpasang di kaki kanan Adiknya.


"Aku sudah merasa sedikit baikan. Maafkan aku, karena aku Noona meninggalkan kuliah Noona," kepala Azka tertunduk.


Axila mengacak rambut Adiknya, "Lain kali, berhati-hati lah saat bermain. Untung saja tak patah tulang,"


"Maafkan aku,"


"Sudahlah, tak apa," balas Axila lagi.


Gadis itu menatap Levi yang sudah menemaninya ke sini, "Maaf merepotkan mu,"


Levi yang melihat Axila bicara padanya menggeleng, "Aku tak keberatan, asalkan itu adalah kau,"


"Lalu, bagaimana dengan siswa itu?" tanya Axila.


"Dia dijaga oleh kak Perawat, aku tak tahu dimana ruang inapnya," balas Valen.


"Lalau bagaimana dengan kuliah Noona?" tanya Azka.


"Tenang saja, dosen saja disini, lalu mengapa aku harus berada didalam kelas?" sindir Axila pada Levi, membuat pria itu hanya terkekeh pelan mendengar ucapan pujaan hatinya.


"Apa kakak ini pacarnya Kak Axila? Kalian cocok sekali," puji Valen yang menatap wajah tampan Levi ditambah kecantikan Axila yang menawan.


"Bukan," balas Axila cepat, namun siapa yang menyangka jika pria itu akan mengatakan hal diluar dugaan mereka.


"Dia mang bukan pacarku, namun calon istriku," ujar Levi santai sambil menatap Axila dengan tatapan menggoda.


Gadis itu memutar bola matanya malas, namun dalam hatinya ia merasa malu.


Entahlah, tapi ucapan Levi membuatnya sedikit malu.


Namun dia bukanlah gadis-gadis lainnya yang akan langsung bereaksi, ia bisa menutupi rasa malunya dengan wajahnya yang datar.