Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Chapter 52


Di suatu ruangan yang bergaya klasik, duduk seorang pria tampan tak menampilkan raut wajah apapun, wajahnya terus saja terlihat dingin dan tak tersentuh.


Tatapannya tertuju pada layar monitor laptop yang sedang menampilkan deretan kata yang entah berapa jumlahnya.


Tatapan yang begitu tajam, bahkan suhu ruangan didalam sana terasa sangat dingin padahal suhu AC normal.


Setelah memeriksa semua dokumen yang dikirimkan, ia beralih pada berita terkini tentang seorang gadis yang membeli suatu Hotel yang berdiri dinegara itu.


Senyum tipis keluar dari bibirnya saat membaca kata yang dia rasa sedikit lucu.


Disana, media menjelaskan jika gadis itu menghajar salah satu wali dari anak SMA yang membuat keributan dengan adiknya.


Sungguh, sangat membuatnya semakin tertarik dengan identitas gadis itu.


Levi, yah. Dia adalah Levi.


"Axila. Kau membuatku semakin penasaran dengan dirimu. Siapa sebenarnya kau ini?" gumamnya pelan. Tak ada siapapun yang dapat mendengar ucapannya, bahkan semut pun akan takut jika berhadapan dengan pria tampan itu.


Matanya masih membaca deretan kata, keningnya mengerut saat mendapati jika adik dari Axila tiba-tiba pingsan saat mereka bertemu untuk pertama kalinya setelah 8 tahun.


Tangannya terulur, mengambil smartphone yang berada disamping laptopnya.


"David. Selidiki identitas pemilik baru Hotel Shin Three. Semua tentangnya, tak boleh ada satupun yang boleh terlewatkan!" ujarnya pada seseorang dibalik sana.


"Baik, Tuan." balas bawahannya.


Levi kembali menyimpan smartphone nya dibalik jas mahalnya, lalu menutup laptop dan berjalan keluar dari sana.


Dia membutuhkan udara segar, sekaligus ia ingin melihat bagaimana wajah orang yang membuat nya tertarik disiang hari.


Levi tak mempunyai perusahaan di negara ini, namun mempunyai banyak cabang perusahaan di negara lain, termasuk Indonesia.


Setelah masuk kedalam mobilnya, sang asisten mulai mengemudikan mobil dan meninggalkan area apartemen elit itu.


"Kita mau kemana, Tuan?" tanya sang asisten.


"Hotel Shin Three." balas Levi, matanya mulai terpejam disana, membiarkan matanya beristirahat sebentar.


Daniel, dia merupakan asisten seorang Levi Alexander. Mengetahui semua bisnis Levi, dan merupakan orang kepercayaan dari Levi.


Bisa dibilang, dialah yang paling dekat dengan pria kejam itu.


Levi memang seorang bos Mafia kelas kakap, dingin, kejam dan licik merupakan bagian dari pria itu. Pria yang kaya dari hasil jeri payahnya sendiri, dengan mengumpulkan orang-orang berbakat yang ditelantarkan oleh orang bod0h. Mengajari mereka cara memegang senjata, menembak dan bertempur dengan pihak musuh, tak lepas juga dia harus mengeluarkan biaya agar anak buahnya belajar bermain dengan Bom atau alat-alat peledak.


Namun dibalik itu semua, Levi juga tak ingin orang lain rusak karenanya. Jika kalian berfikir Levi juga menjual obat-obatan terlarang, itu salah.


Aturan yang dibuatnya tak boleh dilanggar, orang-orangnya tak boleh menggunakan obat itu. Ada beberapa pihak yang menggunakan nama organisasi miliknya untuk mengedarkan obatan terlarang itu, namun apa yang terjadi pada mereka?


Hanya satu. Kehilangan nyawanya ditangan seorang Levi Alexander.


Dia datang ke Seoul hanya karena masalah pekerjaan, menanam saham disuatu perusahaan dan ingin memenangkan tender dari orang-orang berkuasa lainnya. Dialah bos di dunia gelap, bagaimana tidak mungkin jika dia tak memenangkan semua yang dia inginkan?.


Tidak, dia bukan hanya berkecamuk di dunia gelap. Buktinya, dia masih mempunyai perusahaan legal yang berdiri di beberapa negara.


Beralih pada Axila yang saat ini sedang berada dalam ruang Meeting.


"Maaf, Nona. Bukan begitu maksud saya." balas pria itu.


"Lalu?" alis Axila terangkat, menunggu penjelasan dari pria itu.


"Begini, Nona.


Saya rasa, dengan makanan dan pelayanan kita saat ini sudah sangat baik. Bahkan para pengunjung sangat suka dengan pelayanan kita." ujarnya.


"Lalu, kau tak setuju jika aku ingin merubah apa yang tak kusukai, begitu?" balik Axila dengan dingin.


"Aku ingin, dalam beberapa bulan kedepan hotel ini menjadi yang terbaik. Entah itu makanan, pelayanan, dan kepuasan pengunjung dengan fasilitas yang ada.


Aku ingin, suatu ruangan dibuat menjadi tempat GYM, dan juga cafe disalah satu kolam renang terbuka.


Makanan kita dari lima negara yang terkenal dengan kulinernya. Entah itu makanan Eropa, Italia, Indonesia, Jepang dan makanan China.


Tak lupa juga makanan Khas Korea Selatan karena sangat banyak peminatnya. Semua itu di restoran Hotel yang berada di tingkat kedua setelah Caffe.


Sedangkan untuk Caffe, aku ingin desainnya menyatu dengan alam bebas, sehingga membuat pengunjung merasa tak bosan dan merasa nyaman dengan apa yang mereka nikmati.


Semua ini sudah aku rencanakan, dan akan terlaksana dalam dua bulan kedepan." ujar Axila panjang lebar.


"Maaf, Nona jika saya lancang. Saya ingin bertanya." ujar Seorang wanita yang duduk dibagian kiri Axila, bangku ke lima.


"Silakan." balas Axila


"Tadi Nona bilang, ingin merubah desain Lobby, bagaimana desain terbaru yang Nona inginkan?" ujarnya.


"Dengan Interior design Indonesia, yang sudah kita kenal yaitu batik, lalu ada pula beberapa pola kain tenun dari beberapa daerah di Indonesia.


Semua itu akan dibuat oleh Arsitek yang akan kubawa langsung dari Negaraku." balas Axila lagi.


"Lalu, apakah kamar-kamar juga ingin di rubah, Nona?" tanya yang lain.


"Kamar, kurasa kita satukan dengan tema alam terutama kamar-kamar VIP. Namun, aku juga ingin agar beberapa yang lainnya bergaya klasik agar membuat pengunjung semakin nyaman dan tak merasa bosan." ujar Axila.


Suasana semakin panas, Axila terus menjawab pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang yang berada disana.


"Apa ada pertanyaan lagi?" tanya Axila.


Hening, semua orang terdiam dan tak ada lagi yang ingin bertanya ataupun mengajukan pendapat mereka.


"Baiklah jika tak ada pertanyaan lagi. Rapat ini saya tutup." ujar Axila, lalu berjalan keluar dari sana.


Setelah Axila keluar, belum ada yang beranjak dari sana. Mereka juga kembali mengingat semua ini, mungkin saja dengan apa yang Axila inginkan, hotel ini semakin maju dan menjadi hotel terbaik yang ada di negara ini.


Axila terus melangkah keluar dengan didamping oleh beberapa orang pengawal yang mengikutinya dari belakang, dia melangkah ke arah resort hotel, perutnya lapar dan ingin diisi.


Saat memasuki resort, beberapa tatapan mengarah padanya. Termasuk tatapan dari seorang pria yang langsung tersenyum tipis saat melihatnya.


'Akhirnya aku melihatmu, lagi.' batinnya.