Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Chapter 102


Axila telah kembali kerumahnya, Axila adalah orang yang benci dengan keadaan didalam sana, sama seperti orang-orang yang lain juga.


Azka, remaja itu tiba-tiba tak masuk sekolah lagi, mengapa?


Karena kakaknya mengambil Home School untuk nya dan tak membiarkan remaja itu berada diluar sana.


Axila menjelaskan jika keadaan seperti ini hanya akan terjadi selama beberapa hari ataupun bisa saja sampai sebulan, Axila berjanji jika bulan depan Azka akan kembali bersekolah dengan normal.


Azka? Jangan tanya lagi, ia bahkan tak protes sedikitpun. Dia tahu, pasti orang-orang itu sedang berkeliaran diluar sana dan sangat berbahaya bagi kedua kakak beradik AL. (Axila Lian- Azka Leon)


"Azka, kemari sebentar." panggil Axila, remaja itu meninggalkan keseruannya lalu berjalan mendekat.


"Ya, ada apa Noona? Kau membutuhkan sesuatu?" tanya Azka khawatir.


Axila menggeleng, ia melihat sekitar dan tak menemukan pelayan nya disana, ia juga mencari tahu dimana mereka sekarang. Untunglah semua orang sedang beristirahat dan menikmati waktu mereka.


"Kau ingin melihat sulap?" tanya Axila.


"Sulap? memangnya Noona bisa?" balas Azka ragu, Axila hanya tersenyum geli.


Ia mengeluarkan satu remote berukuran kecil lalu memencet tombol yang berada di sana.


Azka memperhatikan apa yang dilakukan oleh kakaknya, ia melihat


di depan mereka yang awalnya hanya televisi tiba-tiba muncul lubang persegi panjang dengan ukuran sekitar satu meter persegi.


"Noona!" seru Azka dengan sangat terkejut.


"Ayo masuk." Axila menarik tangan Azka dengan berjalan mendekat, ia memasukkan kakinya kedalam sana lalu melempar senyum pada adiknya.


Membiarkan tubuhnya terperosok kedalam sana, dengan panik Azka juga mengikuti apa yang dilakukan oleh kakaknya.


Ternyata itu adalah lorong yang terbuat dari besi, dilengkapi dengan lampu-lampu yang menerangi lorong itu.


Azka terus terperosok kedalam sana, hanya membutuhkan waktu 45 detik ia sudah mendarat diatas matras yang empuk.


"Ughh..." mata Azka memandangi sekitar yang terlihat sangat keren, ia sangat kagum dengan ruangan itu.


"Ayo, biar kiper kenalkan tempat ini." Suara Axila membuat kesadaran Azka kembali, ia mengikuti langkah kaki kakaknya dan berakhir didalam ruangan yang lebih luas lagi.


Tempat yang merupakan tempat mendaratnya itu sedikit kecil, namun sekarang. Ini terlihat seperti ruang tamu, ada sofa dan televisi dengan layar yang lebih lebar lagi dibandingkan yang berada dilantai atas.


"Jadi, Noona punya ruang rahasia?" tanya Azka dengan mata yang berbinar.


Axila terkekeh sambil merentangkan tangan dengan sedikit berputar.


"Daebak.... Daebak...." Azka menepuk tangannya dengan kagum.


Matanya menangkap sesuatu, itu adalah freezer. Disampingnya ada komputer seperti diwarnet lengkap dengan semua peralatan seorang gamers.


Azka membuka pintu freezer, ia bisa melihat ada banyak jenis ice cream dengan rasa yang berbeda pula, makanan ringan dan cokelat.


"Ini surga dunia, ouhhh..." Azka memeluk freezer, tingkahnya membuat Axila tertawa gemas.


"Dia benar-benar menggemaskan." gumamnya, ia juga mendekat lalu mengambil satu ice cream rasa cokelat vanilla.


"Noona, sebenarnya aku tak mengerti satu hal." ujar Azka sambil menikmati ice cream nya.


"Hmmt? apa?" balas Axila.


"Tempat apa ini? mengapa kita harus masuk lewat bawah televisi seperti tadi?" tanya Azka.


"Itu bukan satu-satunya pintu masuk dan keluar kita. Masih ada pintu lainnya." balas Axila, ia berjalan menjauhi Azka dan tentunya remaja itu akan dengan otomatis mengikutinya.


Tangan Axila terangkat, ia menunjuk sesuatu.


"Itu adalah lift yang berada dalam kamarmu.


Dan yang disana adalah lift dari kamarku." tangannya bergantian menunjuk pada masing-masing kotak dengan pintu itu.


"Wooohhh... sungguh?" tanya Azka tak percaya.


Axila mengangguk, ia kembali berlalu dari sana lagi.


Membuka pintu yang tak diketahui Azka apa saja yang berada didalam sana.


Terlihat banyak sekali komputer didalam sana, spiker dan lainnya lagi.


"Ini adalah ruang CCTV." ujar Axila, ia mengetikkan sesuatu diatas keyboard lalu muncullah keadaan didalam rumah dari berbagai sisi rumah itu, entah itu berada dalam ruang tamu, ruang keluarga, dapur, ruang Gym, ruang kerja Axila dan studio Azka.


"Lalu, bagaimana dengan kamar?" tanya Azka.


Axila mengaktifkan CCTV didalam kamarnya dan juga kamar Azka, membuat remaja itu terkejut bukan main.


"No-Noona"


"Tenang saja, privasi mu tetap terjaga.


"Dan juga, satu hal lagi.


Rumah ini adalah rumah pintar, kau bisa memerintah dengan mengatakan kata kuncinya, dan perintah mu akan terkalahkan."


Berbeda dengan Axila yang sedang berada dalam ruang rahasia, Levi justru sedang berada dalam situasi yang sedikit membuatnya bingung.


Mungkin selama ini kalian sangat penasaran siapa Levi sebenarnya.


Dilahirkan sebagai keturunan Alexander, Levi adalah pria dengan kemampuan bertarung yang tidak bisa diremehkan.


Bahkan jauh sebelum organisasi miliknya terbentuk, Levi sudah handal dalam menggunakan senjata api, pedang dan beladiri. Menjadi bandit yang paling ditakuti oleh pedagang dan paling sulit untuk ditangkap oleh Polisi dan Militer.


Levi memiliki teknik tersendiri dalam menggunakan senjata api. Ia melindungi dirinya dengan pedang dan pistol lalu berputar dalam kecepatan tinggi. Teknik ini sangat berguna untuk menyerang dan bertahan. Dengan kemampuannya, tidak ada orang yang tidak dapat ia kalahkan. Semua orang yang berhadapan dengannya akan berakhir dengan mengenaskan.


Levi mungkin memiliki sifat yang dingin dan cenderung tidak peduli dengan lingkungan di sekitarnya ataupun dengan apa yang dilakukan oleh anggotanya. Namun di balik itu semua, Levi adalah orang yang paling peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Ia tak segan turun tangan saat anak buahnya berada dalam situasi yang sedikit rumit, entah itu tentang uang ataupun lainnya.


Saat Levi kehilangan Erwin, sahabatnya. Semua orang mengetahui betul betapa mengerikannya Levi saat dirinya mengamuk dan membunuh orang yang telah membunuh orang tersayangnya. Ia menjadi sangat gila disaat itu.


Levi tidak hanya kuat didunia mafia saja. Namun, ia juga telah melalui banyak hal buruk yang membuatnya sangat tangguh. Dapat dikatakan, masa lalu Levi lebih mengenaskan daripada masa lalu orang lain.


Levi dilahirkan dan tumbuh di kota kecil yang berada di Italia, Levi dibesarkan oleh seorang wanita yang bekerja sebagai pelayan caffe. Saat ditemukan oleh Kenny, ibu Levi telah meninggal, saat Levi tengah sekarat karena kelaparan. Tubuhnya kurus kering dan kondisinya sangat mengenaskan.


Levi telah kehilangan orang yang paling berharga baginya berkali-kali. Levi lebih mengetahui perihnya rasa kehilangan daripada siapapun. Itulah yang membuatnya menjadi sosok yang tangguh.


Organisasi miliknya dia bentuk saat usianya masih sangat muda, seusia dengan Azka. Lebih tepatnya 16 tahun, saat dimana ia telah kehilangan Kenny, ibu angkatnya.


Awalnya organisasi itu hanya beranggotakan beberapa orang saja, namun dengan seiring berjalannya waktu, organisasi itu semakin besar dan ditakuti oleh masyarakat dan pemerintah.


Levi bukanlah orang yang bodoh dan mau menghancurkan kehidupan orang lain, nark0ba, s4bu, dan sejenisnya dilarang oleh nya. Penculikan wanita muda, penjualan organ tubuh secara ilegal, dan masih banyak lagi. Semua itu dilarang. Ia tahu, betapa hancurnya orang tua saat melihat anaknya hancur dengan hal-hal semacam itu, ia tahu bagaimana rasanya karena ia pernah merasakan hal yang sama.


Melihat bagaimana keluarga kandungnya hancur karena masalah obat-obatan itu, bagaimana rasanya ia kehilangan sang kakak perempuan yang diculik lalu diambil organ tubuhnya, Levi tahu bagaimana rasanya semua itu.


Banyak orang yang ia temui, entah itu dalam dunia mafia ataupun bisnis. Sifat setiap manusia itu berbeda-beda, namun bisa Levi tahu hanya dengan menatap matanya.


Bisnisnya mulai mendunia saat perusahaan yang ia bentuk mendapatkan sorotan, entah itu di bidang entertainment, property, wisata, dan masih banyak lagi.


Semua hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun, ia bangun bersama orang-orang nya. Sampai ia melihat senyum itu, senyum bahagia orang-orang yang berada di bawah perlindungan nya, ia merasa bangga.


Dan saat ini.


Levi dilanda kebingungan, haruskah ia menghentikan semuanya dan mulai menggapai masa depannya?


Ataukah dia tetap harus bertahan dengan statusnya yang adalah sebagai Bos Mafia ini?


"Kenny, apa yang harus kulakukan?" gumam Levi pelan, ia memijit pelipisnya pelan.


"Kau punya pilihan, sayang." tiba-tiba suara ibu angkatnya seperti terdenger ditelinga nya.


"Apa?" balas Levi.


"Yang harus kau lakukan adalah....."


"Terima kasih, Kenny." batin Levi, seutas senyum mengembang diwajahnya.


Ia justru Kembali mengingat kala Axila bicara berdua dengannya saat dirumah sakit.


"Bukankah ini adalah saat yang paling tepat untuk menyingkirkan ku?" ujar Axila.


"Untuk apa? Aku tak akan melakukan hal itu padamu." balas Levi.


"Bukankah aku adalah penghalang dari organisasi milikmu dan bisa saja aku menghabisi mu dan semua anggota mu.


Jadi, saat ini-"


"Aku tak akan pernah melukaimu!


Aku akan melindungi mu dari Zain, si br3ngsek itu dan membunuhnya jika terjadi sesuatu lagi padamu!


Aku akan melindungi mu dan adikmu, semua orang yang kau sayangi!


Karena apa? Karena aku mencintaimu.


Karena "AKU MENCINTAI MU, NONA AXILA!"


Suara Levi meninggi, rasanya ia menjadi lebih frustasi lagi sekarang.


Wanita ini, dia sudah mengetahui siapa Levi sebenarnya. Jadi itulah mengapa dia mengatakan hal ini?


Huh, ini sedikit menyebalkan.


Axila terdiam dalam waktu yang cukup lama bahkan saat semuanya kembali berkumpul didalam ruang rawat gadis itu.


Dan saat ini, Levi tahu apa yang harus dia lakukan.