Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Apa itu sungguh kau, Noona?


Jika di rumah sakit Axila sedang mengambil alih Hotel, berbeda dengan Azka yang saat ini sedang mengikuti pelajaran di Sekolah.


Mata Azka tak lepas dari lapangan sekolah yang terlihat dari lantai dua dana kelasnya berada.


Kali ini tak Moonbin yang mengawasinya didalam kelas, pria tampan itu sedang berjaga diluar kelas.


Saat ini sedang berlangsung pelajaran sastra Korea, pelajaran yang sangat membosankan bagi remaja itu.


Terdengar bel istirahat yang berbunyi, tanda jika jam pelajaran kedua sudah selesai berganti dengan istirahat makan siang.


"Sampai disini dulu, kita sambung lagi besok." ujar guru yang saat ini sedang mengajar.


"Iya, pak." balas semua siswa,


Azka hanya melirik kilas dan menyimpan semua bukunya kedalam tas sekolahnya.


"Azka." Sehun datang dan duduk di bangku yang berada didepan Azka. "Ayo ke kantin, aku sudah lapar." ajaknya.


"Hmm. Ayo" Azka bangun dari duduknya, kedua remaja itu segera melangkah keluar kelas dan mendapati Moonbin yang langsung saja menundukkan kepalanya saat melihat Azka.


"Tuan muda pergilah ke kantin dahulu, aku masih harus mengambil makan siang yang dikirimkan oleh Nona, terlebih dahulu." ujarnya.


"Baiklah." balas Azka, segera saja dia dan Sehun berjalan kearah dimana kantin berada.


"Wah, bukankah sangat enak menjadi seorang tuan muda?" tanya Sehun. "Apapun sudah diatur, bahkan makan siang saja sangat enak.


Kau tahu siapa Nona yang maksud oleh pengawalmu, kan?" sambung Sehun lagi.


"Tidak. Aku bahkan tak tahu siapa dia." balas Azka cepat.


"Sungguh?" tanya Sehun, kini remaja itu makan berjalan mundur sambil menatap Azka yang berada didepannya.


"Hmm. Aku memang tak mengenalnya, kami hanya bertemu sekali dan dia langsung memberikanku semua yang aku punya sekarang."


"Apa mungkin dia kakakmu? mungkin saja dia yang selalu berada dalam mimpi mu. mereka sama-sama perempuan, kan?" tebak Sehun.


Langkah kaki Azka langsung terhenti, matanya juga langsung menatap tajam kearah Sehun.


'Apa itu memang Noona?' batin Azka.


Teringat minuman dan Snack yang dikirimkan semalam, memang menggunakan bahasa Indonesia. Azka tahu persis itu bahasa Indonesia karena dia memang belajar dengan ayahnya.


Namun mendengar gadis misterius yang bicara mengunakan bahasa Korea membuat Azka menjadi ragu. Apa itu hanya kebetulan saja?


"Tidak mungkin. Jika itu memang Noona, dia pasti langsung mencari ku dan membawaku pulang." ujar Azka, kembali langkah kakinya melangkah kedepan. Mereka berakhir di kantin, namun keduanya hanya mengambil susu kotak dan duduk dimeja yang masih kosong.


Sehun yang tadi bicara dengan asal menjadi tak enak dengan Azka, lihat saja remaja itu langsung berubah ekspresi wajahnya saat Sehun menyebutkan "kakaknya".


Tek beberapa lama Moonbin kembali, bahkan pria tampan itu sudah berada didalam kantin dengan rantang makanan yang sudah berada diatas meja.


Moonbin menyiapkan makanan dengan begitu cepat dan sangat rapi.


"Tuan muda, silahkan." ujarnya dengan sopan, bahkan ada minuman yang sama lagi untuk Azka, teh rasa apel.


"Terima kasih, kak. Kau juga harus makan." balas Azka, Moonbin segera duduk didepan Azka sedangkan Sehun berada tepat disampingnya.


Azka mengambil sumpit, lalu mulai makan makanan yang berada tepat didepannya.


Dari tampilannya sudah sangat menggiurkan, apa lagi rasanya.


"Wah, Daebak." Sehun bersuara, membuat beberapa pasang mata menatapnya termasuk Moonbin.


Tatapan nya beralih pada Azka lalu pada Moonbin.


"Azka, apa makanan orang kaya memang selalu seenak ini? aku bahkan belum pernah merasakan makanan ini." ujarnya dengan penuh kagum, sambil terus memasukkan beberapa potong daging dan sayuran.


"Aku tak tahu, aku rasa sama saja." balas Azka, dia menatap pada Moonbin.


"Kak, masakan apa ini? kurasa bukan Korea." tanya nya.


Moonbin berpikir sebentar, "Orang tadi mengatakan. Jika ini adalah masakan Italia, aku juga baru pertama kali makan makanan ini, Tuan muda." balas Moonbin.


"Daebak. Nona pasti sangat kaya sampai-sampai mengirimkan makanan seenak dan semahal ini." Ujar Sehun kagum.


Moonbin hanya tersenyum tipis mendengarnya, sedangkan anak-anak yang lain tampak tersedak makanan mereka sendiri saat mendengar ucapan Moonbin barusan.


Suasana di kantin tak akan pernah yang namanya sunyi, begitupun sekarang. Mereka semua berbisik membicarakan Azka, tapi apa yang dilakukan oleh remaja itu sungguh membuat orang lain menggeleng tak percaya.


Azka malah memakai headset ditelinga nya, tanda jika dia tak peduli.


Moonbin langsung saja memukul meja dengan keras menggunakan tangannya.


"Brakk!"


Azka merasa sudah cukup makan siang nya, segera saja remaja itu meletakkan kembali sumpitnya dan menunggu temannya selesai makan. Sambil memakan buah yang juga disediakan didalam rantang.


...............


Suasana disekitar koridor sangat ribut, apa lagi ada kabar terbaru yang membuat mereka geger, bahkan seisi sekolah membicarakannya.


Azka terus saja melangkah dan tak mempedulikan apa yang saat ini sedang terjadi, malah Sehun yang terlihat bertanya-tanya.


Moonbin? Dia juga ikut diam dan tak mempedulikan apa yang membuat para siswa itu ribut. Jika Azka diam, maka dia pun akan diam.


Azka masuki kelas begitupun Moonbin, pria itu akan keluar jika guru sudah masuk kedalam kelas dan mulai mengajar.


"Kenapa? apa yang terjadi?" tanya Sehun pada salah satu siswi, teman kelas mereka.


"Kau tak tahu?


Hotel Shin Three sudah berpindah tangan pada orang lain." ujarnya.


"Lalu apa yang terjadi jika hotel itu berpindah tangan?" tanya Sehun.


"Kau bodoh?


Sekolah kita bekerja sama dengan hotel itu, mereka yang memasok makanan di kantin sekolah kita.


Ahh, aku harap makanan kita tetap enak dan tak menjadi buruk seperti yang sering ku tonton dalam drama." ujarnya dengan dramatis.


Sehun segera saja mengambil ponselnya dari dalam kantong celana, lalu memeriksanya sendiri.


"Hotel Shin Three berpindah tangan kepemilik yang baru."


Dikabarkan, hari ini seorang gadis muda membeli Hotel Shin Three dari CEO Lee.


Seorang gadis berinisial AL membeli hotel itu dengan alasan tak mempunyai rumah di Negara ini, lantas dia membeli hotel itu agar bisa tinggal disana.


Nona AL mengaku, jika dirinya membeli Hotel agar dia dan adiknya tinggal disana. Nona AL membeli Hotel dengan harga yang sangat mahal, dia bahkan mengatakan akan merenovasi dekorasi hotel dan membuat hotel semakin menawan.


Dia juga menitipkan pesan pada adiknya yang bernama "Azka" agar menunggu nya. Beginilah pesan Nona AL.


"Azka, sabarlah sebentar. Noona akan menjemput mu pulang".


Saat ini media sedang mencari identitas Nona AL dan adiknya......"


Sehun langsung berjalan kearah Azka.


"Azka, bacalah ini." tangannya menyodorkan ponselnya pada Azka.


Awalnya Azka hanya menatap, namun tangannya meraih ponsel Sehun dan membaca deretan kata yang tertera.


Matanya terpaku saat membaca ucapan sang pemilik Hotel yang baru.


"Azka, sabarlah sebentar. Noona akan menjemput mu pulang".


"Apa maksudmu?" tanya Azka, matanya menatap Sehun yang saat itu berada didepannya.


"Apa kau tak melihatnya? disana menyebutkan nama mu."


"Kau yakin itu aku?" tanya Azka.


"Tentu saja, nama mu dan namanya sangat mirip. Namamu Azka Leon, dan nama orang itu juga AL. Mungkin saja itu kau, dan dia itu kakakmu." ujar Sehun dengan penuh semangat.


"Orang yang mempunyai nama Azka bukan aku saja, Sehun. Masih banyak orang yang mempunyai nama yang sama denganku."


Benar juga, orang yang mempunyai nama yang sama itu sangat banyak di negara ini. Meski begitu, Sehun yakin jika yang dimaksud disana adalah temannya, Azka Leon Remanov.


"Maaf, aku bahkan lupa hal itu. Kalau begitu, aku permisi dulu." Sehun mengambil kembali ponselnya dan duduk di bangku miliknya.


Azka memilih untuk membenamkan wajahnya di atas meja, dengan tangannya sebagai tumpuan kepalanya.


Dia jadi memikirkan apa yang dikatakan oleh Sehun barusan.


'Apa itu sungguh kau, Noona?


Tapi jika itu memang itu Noona, mengapa dia tak menemui ku?


Noona....


Apa kau baik-baik saja?


Aku sungguh merindukanmu, Noona.'


Azka terus saja bicara dalam batinnya, dia bahkan tak mempedulikan guru yang sudah memasuki kelas dan kembali mengajar.