
"Miss Axila." panggil orang itu.
Axila segera menghentikan langkahnya lalu berbalik, mencari siapa yang memanggilnya.
Tatapannya tertuju pada seorang pria yang berjalan kearahnya.
"Miss Axila, nice to meet you." ujarnya dengan wajah yang sedikit tersenyum.
"Siapa?" tanya Axila menggunakan bahasa Korea.
"Saya Woon-soo. sekretaris tuan Shin-Young." balas pria itu.
Kedua alis Axila saling menyatu, tanda jika dia tak mengenal pria itu.
"Ah, benar juga. Anda tak mengenal-"
"Bagaimana kondisi pria idiot itu?" potong Axila, matanya menatap mata Woon-soo, membuat pria itu jadi gugup sendiri.
Sekretaris Woon mengalihkan pandangannya sebentar, menetralkan raga gugupnya.
"Tuan masih dalam keadaan yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Tapi, dari mana nona tahu jika tuan sedang koma?" tanya sekretaris Woon, dia merasa curiga.
"Jika kau tak mau orang lain mengetahuinya, jangan muat berita itu di artikel." Apa pria ini bod0h? apa saking khawatirnya dia melupakan hal yang dimana sudah diketahui semua orang ini? Axila hanya memijit pangkal hidungnya.
"Ah, benar juga. Semua orang sudah mengetahui berita ini." sambung sekretaris Woon, dia merasa mendadak jadi orang bod0h disini. Meskipun dia sudah berusaha menutup berita itu, tetap saja masih tersebar di kalangan masyarakat.
"Lalu, apa ada perkembangan sejauh ini?" tanya Axila.
Sekretaris Woon menggeleng, "tak ada, bahkan hanya menggerakkan satu jarinya saja tidak pernah." balasnya.
"Semoga dia cepat sadar, aku masih memiliki urusan." ujar Axila lalu melangkahkan menjauh.
"Nona." panggil sekretaris Woon lagi.
Axila berbalik dan menatap pria itu.
"Apa kita bisa bertukar kontak? mungkin saja kau akan membutuhkan bantuan di sini."ujarnya.
Axila mengangguk, dia menyodorkan tangannya meminta ponsel sekretaris Woon, jari jempolnya mulai berlarian diatas layar ponsel, lalu menekan ikon memanggil.
Hanya beberapa detik saja ponsel Axila berdering, menandakan seseorang sedang menghubunginya.
"Sudah, kalau begitu aku permisi." pamit Axila tanpa menundukkan kepalanya.
"Apa yang sebenarnya dia lakukan disini?" gumam Woon-soo. Pria itu juga melangkahkan kakinya menuju lift dan berakhir dilantai lima, berjalan mencari kamar yang menjadi kamar rawat tuannya.
"Tokk! Tokk! Tokk!"
Sekretaris Woon selalu saja mengetuk pintu sebelum dia memasuki ruangan, bukankah dia mempunyai tata Krama yang bagus?
Kakinya mulai memasuki ruang serba putih yang sedang ditempati oleh seorang pria tampan yang sedang tertidur pulas, banyak alat medis yang saat ini menempel ditubuhnya. Tak ada suara apapun didalam sana, kecuali alat yang mendeteksi detak jantung manusia.
Sudah hampir sebulan pria itu tertidur pulas, tak pernah sedikitpun dia bangun. Ataupun hanya sekedar memberikan respon jika dia sedang baik-baik saja.
"Selamat malam, tuan muda." sapa sekretaris Woon, seperti biasa. Tak ada sahutan dari pria itu.
"Bagaimana kabar anda hari ini?
apa masih ingin tidur?
apa anda tak lelah terus berbaring?
Huh, maafkan aku karena sering cerewet akhir-akhir ini." ujarnya.
"Banyak sekali kejadian yang sudah anda lewatkan, tuan muda.
Kantor jadi ribut karena ketidak hadiran anda.
Terlebih aku mempunyai berita yang sangat mengejutkan.
Kau tahu? nona Axila saat ini sedang berada di Seoul. Dia semakin terlihat cantik dari sebulan yang lalu, bahkan lebih cantik dari yang berada di foto.
Apa anda tak mau bangun dan menyambutnya, tuan muda?"
Sungguh, dia merindukan kehadiran Shin-Young yang selalu dia layani. Meskipun pria itu selalu bersikap dingin dan acuh, dia merupakan bos yang memiliki hati lembut, layaknya pasir putih yang tersembunyi dibalik batu karang.
Pria dingin yang selalu meluangkan waktunya hanya untuk sekedar pergi ke rumah-rumah anak pantai asuhan, menjumpai mereka dan tertawa saat melihat senyum bahagia dari anak-anak disana.
Hanya itu saja.
Tak disadari oleh sekretaris Woon, jika setetes air mata keluar dari sudut mata Shin-Young.
Tiba-tiba alat pendeteksi detak jantung Shin-Young berbunyi dengan keras, membuat sekretaris Woon yang berada dalam ruangan menjadi panik, segera saja dia menekan tombol untuk memanggil para dokter.
Matanya beralih pada jari tangan kiri Shin-Young yang bergerak pelan.
"Tuan! Tuan muda! Tuan muda, kau mendengarku?" tanya sekretaris Woon.
Tiba-tiba pintu terbuka, masuklah seorang pria berjas dokter dengan dua orang perawat.
"Maaf, apa yang terjadi pada tuan Shin?" tanyanya, sementara tangannya langsung meraih satu senter berukuran kecil layaknya pena.
"Entahlah, tiba-tiba saja alat itu berbunyi dengan keras. Tuan muda juga menggerakkan jarinya." ujar sekretaris Woon.
Mata dokter tertuju pada bekas air mata milik Shin-Young, namun dia segera melakukan pemeriksaan yang lainnya. Mengeluarkan stetoskop dan menempelkannya di dada pria itu.
Beberapa menit kemudian, dokter sudah selesai dengan pemeriksaan nya.
"Tuan Woon-soo." panggilnya.
Pria itu segera mendekat, "apa terjadi sesuatu pada tuan muda?" tanyanya.
Dokter menggeleng, "ini adalah respon pertama yang diberikan oleh tuan muda.
Apa sebelumnya dia mendengar atau ditemui seseorang?" tanya dokter.
Woon-soo menggeleng, "tak ada siapapun yang datang kemari selain aku, tuan dan nyonya besar."
"Apa mungkin kekasih atau seseorang yang tuan muda sukai, namanya disebut oleh Anda sebelumnya." ujar Dokter.
"Tuan tak memiliki keka-" mata sekretaris Woon membulat sempurna, apa tuannya merespon ucapannya karena dia menyebutkan nama Axila?
"Nona Axila! Yah, pasti dia." ujar sekretaris Woon dengan tersenyum. Dia langsung saja mendekat pada Shin-Young, menatap pria itu dengan semangat.
"Tuan muda, apa kau ingin bertemu dengan nona Axila?" ujar sekretaris Woon, jantungnya berdetak kencang. Bagaimana jika tuannya merespon? Tatapannya tertuju pada jari tangan kiri Shin-Young. Dokter dan perawat yang berada didalam menatap sekretaris Woon dengan tanda tanya, namun mata mereka juga ikut tertuju ada tangan Shin-Young.
Tiba-tiba saja jari telunjuk yang tadinya bergerak, kini kembali bergerak.
"Wooo" pekik mereka serentak.
Sekretaris Woon memegang dadanya. sungguh? ini bukanlah mimpi, kan?
"Jarinya bergerak."
"Dia merespon nya."
Pekik dua perawat, mereka sangat terkejut termasuk dokter yang selama ini merawat Shin-Young.
Beralih pada Axila yang saat ini sudah keluar dari ruangan salah seorang dokter, Axila berjalan menjauh dari sana dan menuju kamar dimana Pengacara Kang berada.
Axila memasuki ruangan, berjalan kearah bangsal dimana pria itu sedang berbaring. Tangannya sedang terpasang selang infus yang mengalirkan cairan NaCl.
"Ahjussi." panggil Axila, pria yang sedang berbaring itu segera membuka matanya lalu menatap Axila hanya dengan satu matanya.
"Aku sudah selesai, operasi matamu akan dilakukan besok. Jadi istirahatlah, aku akan pulang dan kembali lagi besok." ujar Axila.
Tuan Kang segera mengangguk, "terima kasih, nona."
"Hmm, aku permisi dulu, sampai jumpa besok." ujarnya lalu pergi dari sana.
"Dasar gadis angkuh. Namun dia memiliki sisi yang baik." gumam tuan Kang, kembali dia memejamkan matanya.
Axila keluar dari lingkungan rumah sakit, berjalan kearah parkiran dan mengambil mobilnya lalu peri dari rumah sakit itu.
_-_-_-_-_-_-_-_
Yang minta double up, bakal nyusul nanti malem yah.
Jangan lupa dukungan kalian, Karen dukungan kalian adalah semangatku.
Zero^-^