
Axila berjalan memasuki kamarnya, ia baru saja kembali dari Club malam. Rasa dendam itu telah selesai, akhirnya selesai juga.
Dendam yang selama ini ia tahan, terbalaskan juga malam ini.
Entah apa yang terjadi setelah Axila pergi dari sana, ia tak peduli lagi. Bahkan jika Levi membunuh kedua orang itu, Axila tak peduli.
Dan jika Levi melepaskan mereka, sudah dipastikan Alex akan masuk kedalam rumah sakit selama beberapa hari, mungkin mingguan karena sudah Axila pastikan jika tulang-tulang pria itu patah.
Tangan patah, dua rusuknya patah dan beberapa lagi retak, rahang Alex juga ia pastikan geser. Sudah terlihat dari wajahnya yang babak belur, bahkan mungkin tak dikenali oleh orang lain.
Alasan mengapa ia membiarkan Alex tetap hidup adalah penderitaan, biarkan pria itu mengalami penderita karena rasa sakit yang diberikan oleh Axila.
Yah, meskipun ia mengatakan jika Axila meninggal, mereka mungkin tak akan percaya.
Bisa jadi percaya, mengapa? Karena bisa saja yang membalaskan dendam adalah saudara kembarnya Axila, yang mereka kenal.
Padahal Axila yang asli telah meninggal, membiarkan tubuhnya digunakan oleh jiwa yang lain.
Jiwa seorang Putri Mahkota.
Inilah perjalanan waktu Putri Mahkota.
Rasa lelah menghampirinya, Axila berjalan kearah tempat tidur, mengistirahatkan tubuhnya dari rasa lelah ini.
............
(Axila Lian Remanov POV)
Cahaya terang itu datang menghampiriku. Cahayanya tiba-tiba membuatku merasa silau, kini aku berada disuatu Padang bunga yang sangat indah.
Disini terasa sangat hangat, angin yang berhembus terasa sangat sejuk, aku menyukainya.
Ada jalan setapak yang terlihat olehku, aku berjalan mengikuti jalan itu hingga tiba di Padang rumput yang tak jauh dari Padang bunga.
Aku melihat seseorang disana, wanita cantik yang sedang bermain dengan burung-burung kecil yang cantik.
Wajah itu terlihat familiar, bukankah itu Axila yang asli?
Aku berjalan mendekat.
"Axila," panggilku.
Wanita itu menatapku, ia tersenyum dengan sangat cantik.
Ia membungkukkan tubuhnya, "Salam Yang Mulia," sapanya.
Aku mengangguk, "Berdirilah," balasku, aku mendekat dan duduk diatas rumput yang hijau.
"Apa kabar Yang Mulia, apakah anda baik-baik saja disana?" tanyanya.
Aku mengangguk, "Aku baik. Bagaimana denganmu?" balasku.
"Aku sangat Baik, Yang Mulia."
"Baguslah. Semuanya telah kulakukan, dendam mu dan menjaga adikmu dengan sangat baik." ujarku padanya.
"Terima kasih, Yang Mulia. Anda telah bersedia melakukan semua itu untuk Yang rendah ini," ucapannya terdengar sopan sekali, sangat lembut dan terasa tulus.
Aku mengangguk sebagai jawabannya.
"Lalu, kapan aku bisa kembali pada duniaku? Aku merindukan keluargaku juga, kau pasti juga merindukan kehidupan mu 'bukan?" ujarku.
"Maafkan aku Yang Mulia, ini mungkin terdengar egois tapi. Aku sudah bahagia disini, aku bahagia."
"Lalu?" sambung ku.
"Maaf, ini terdengar kasar tapi, Anda tak dapat kembali dan bertemu lagi dengan keluarga anda."
"Maksudmu?" sarkas ku.
"Aku benar-benar minta maaf, Yang Mulia. Tapi, anda telah meninggal di Dunia Anda.
Bahkan, disana telah berlalu beberapa tahun." jelas nya yang membuatku bingung.
Ini, bagaimana bisa?
Aku harusnya... tapi, aku ingin bertemu lagi dengan mereka. Bagaimana bisa?
"Maksudmu, tubuhku-"
"Anda telah di kremasi, tubuh anda telah musnah.
Maafkan aku, Yang Mulia." Axila membungkuk dengan penuh penyesalan, dia bersujud dihadapan ku.
"Bagaimana mungkin?!" bentak ku, selama ini aku pikir aku hanya koma saja di duniaku, sama seperti Drama yang pernah ku tonton. Tapi ini?
Ini tak mungkin!
"Bagaimana bisa aku mempercayai mu?" tanyaku.
"Anda bisa mengunjungi keluarga Anda, namun berada dalam bentuk Roh. Anda tak dapat menyentuh mereka, hanya dapat melihat apa yang mereka lakukan.
Maafkan aku Yang Mulia" Axila kembali bersujud dihadapan ku.
Hal ini benar-benar mengguncang ku, bagaimana bisa aku hanya berada dalam bentuk Roh?
Aku... sudahlah. Aku hanya ingin melihat mereka, meskipun aku sungguh ingin memeluk kakak dan ayahku.
"Bagaimana aku bisa pergi, tak apa yang penting aku bisa melihat mereka semua," Keluarga ku dan prajurit-prajurit ku. Yah, tak apa.
"Lalu, apakah setelah itu aku akan datang ketempat ini?
Apa yang akan terjadi pada Azka jika aku berada disini?" tanyaku, aku khawatir pada bocah itu. Dia selalu saja membuatku merasa khawatir, dan aku menyayangi bocah manja itu.
Axila tersenyum padaku, "Terima kasih karena Yang Mulia sudah mau mengkhawatirkan adik hamba.
Anda tak perlu khawatir, setelah ini anda akan sepenuhnya bersama mereka.
Saya akan menjelaskan lebih lanjut setelah kita kembali ke sini." jelas nya, aku hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Anda siap Yang Mulia?" tanyanya padaku.
"Yah.. ayo pergi.." balasku.
(POV End)
Didunia nyata....
Azka telah bangun pagi, ia juga telah selesai bersiap ke sekolah.
Saat tiba diruang makan, ia tak melihat kakaknya.
"Kemana Noona? apa belum bangun?" gumam Azka.
"Bik Anna..." panggil Azka.
Wanita itu segera mendekat saat tuan mudanya memanggil, "Saya disini, Tuan muda."
"Dimana Noona? Apa belum bangun?" tanya Azka.
"Sepertinya Nona belum bangun, Tuan muda. Apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya Anna.
Azka menggeleng, tidak seperti biasanya sang kakak bangun terlambat seperti ini.
"Tolong ambilkan sarapan ku." ujar Azka.
"Baik, Tuan." Anna berlalu, ia mengambilkan sarapan untuk sang tuan muda. Beberapa saat kembali dengan membawa nampan berisi nasi goreng, lalu menyajikan untuk Azka.
Azka menikmati sarapannya dengan keheningan tanpa ditemani sang kakak.
Ia pikir ketika sementara sarapan kakaknya akan turun, namun dugaannya ternyata salah.
Ia akan berangkat ke sekolah, namun Axila belum juga turun dari kamarnya.
Apakah kakaknya sangat kelelahan sampai bangun terlambat?
Bagaimanapun ia harus pamit ke sekolah.
Kakinya melangkah perlahan menaiki anak tangga, hingga tiba di depan pintu kamar sang kakak.
Tokk..! Tokk..! Tokk..!
"Noona.. Noona.." Azka terus mengetuk pintu kamar kakaknya, namun tak terdengar apapun dari dalam sana.
Hal itu membuatnya sedikit khawatir.
"Noona.... Noona... Noona..." Azka terus memanggil kakaknya, namun tak ada sahutan dari dalam kamar, bahkan intonasi suara nya telah meningkat namun tetap saja kamar itu sunyi.
Anna mendekat karena mendengar suara Azka yang terus memanggil kakaknya.
"Ada apa Tuan muda?" tanya Anna.
"Bik, ambilkan kunci cadangan kamar Noona.
Cepat!" perintah Azka.
Anna dengan cepat berlari menuruni anak tangga, ia segera mengambil kunci cadangan kamar Nona nya.
Azka tak hentinya memanggil kakaknya, ia bahkan mulai mendobrak pintu namun tak bisa.
Anna kembali, ia menyerahkan kunci cadangan kamar Axila.
Dengan cepat Azka mengambilnya, memasukkan kunci kedalam lubangnya lalu membuka pintu dengan kasar.
Brakkk...!
Ia memasuki kamar itu dengan tak sabaran, ia takut terjadi sesuatu pada Axila.
Yang ia lihat adalah Axila yang tertidur pulas di atas tempat tidurnya, Azka memanggilnya namun tak ada sahutan.
Bahkan setelah keributan yang dilakukan oleh remaja itu, Axila tak kunjung bangun juga.
Azka mendekat, ia menampar pelan pipi kakaknya sambil memanggil, namun gadis itu tetap saja tertidur pulas dan tak kunjung bangun.
"Bik, panggilkan Pak Benny, kita bawa Noona kerumah sakit. Cepat!" perintah Azka.
Anna berlalu dengan berlari kecil, ia menuruni anak tangga untuk memanggil supir pribadi Azka.
Sedangkan Azka memeriksa suhu tubuh kakaknya, namun tak terasa panas.
Suhu tubuh normal, lalu mengapa kakaknya tak bangun juga?
Rasa khawatir tak bisa disingkirkan, ia berusaha untuk membangunkan kakaknya namun tak kunjung bangun.
Pak Benny datang, ia membantu Azka membawa tubuh Axila keluar dari rumah dan dibawa ke rumah sakit.
***
Axila dibawah masuk kedalam ruang gawat darurat, dan diperiksa oleh dokter.
10 menit kemudian Dokter kembali keluar, dia menjelaskan jika Axila baik-baik saja, dan tak mengalami sakit apapun.
"Lalu mengapa Noona tak bangun juga?" tanya Azka tak mengerti.
"Bisa anda ceritakan apa yang terjadi sebelumnya?" balas Dokter.
Azka menceritakan bagaimana kakaknya tak bangun juga, itu hal yang tak biasanya terjadi.
Dokter kembali kedalam ruangan itu, memeriksa apakah Axila mengonsumsi obat tidur atau semacamnya namun tak ada apapun yang gadis itu konsumsi sehingga berakibat seperti ini.
Azka menelpon Levi, memberitahu jika Axila saat ini sedang berada di rumah sakit.
Ia juga memberitahu pada Maria, namun tidak pada Michael dan Putra.
Levi dengan panik datang ke rumah sakit.
Saat ia tiba, Azka segera menceritakan apa yang terjadi, jika ia membangunkan kakaknya namun tak kunjung bangun juga.
Keadaan menjadi lebih buruk, namun dokter menjelaskan jika kemungkinan Axila mengalami sindrom putri tidur.
Sindrom putri tidur atau Kleine-Levin syndrome (KLS) merupakan penyakit langka yang memiliki gejala khas, yaitu penderitanya bisa tidur dalam jangka waktu lama atau hipersomnia.
Sindrom putri tidur biasanya menyerang remaja dan sekitar 70 persen penderitanya adalah kaum pria. Meski demikian, kelainan ini dapat menyerang siapa saja dari segala usia.
Dan Penyebab sindrom putri tidur masih belum dapat diketahui secara pasti.
Hal ini tak menyebabkan kematian, namun si penderita akan terus tertidur lebih dari 20 jam atau bisa sampai berminggu-minggu, lebih parahnya lagi hingga berbulan-bulan bahkan tahun.