Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Chapter 117


Mike kacau, ia butuh tempat untuk melampirkan kekecewaan dan amarahnya.


Ia sama sekali tak mau menikahi wanita itu, bahkan tak akan pernah.


"Memangnya wanita baik-baik mana yang akan merusak dirinya?


Mau membuatku bertanggung jawab, heh?


Enak saja!" gumam Mike, ia meneguk wine dari gelasnya.


Jangan berfikir ia akan pergi ke club malam saat ini, karena koleksi alkohol nya juga banyak di apartemen nya. Entah sudah berapa gelas ia habiskan, namun hal itu tak membuatnya mabuk karena ia tahan terhadap alkohol.


"Kalian hanya ingin aku menikah saja bukan?


Baiklah!


Aku akan menikah, tapi jangan harap dengan wanita licik itu." gumam Mike lagi, ia beranjak dari mini bar nya, memasuki kamar lalu mengambil laptopnya.


Mike mencari data-data karyawan wanita yang masih singel, ia berencana untuk menghasilkan salah satu dari mereka. Ia tak akan sudi menikahi wanita seperti pilihan ibunya.


"Haiss!


Wanita tua menyebalkan!" umpat Mike pada ibunya, tentu saja karena ibu nya ia harus seperti sekarang ini sedangkan ayahnya hanya mendukung saja tanpa mau memaksanya untuk segera menikah.


Lagi pula Mike masih muda, usianya baru 25 tahun. Jikapun Axila menerimanya kembali, ia pasti harus menunggu gadis itu siap menikah dulu, apa lagi usia mereka terpaut 5 tahun.


Sudah sejak tadi ia terus melihat-lihat data-data para karyawannya namun tak menemukan siapapun yang cocok dengan kepribadiannya.


Hanya Axila dan akan selalu Axila yang cocok dengannya, mau mencari wanita yang mempunyai kepribadian yang sama seperti gadis itu ia perlu mengamatinya langsung, namun hanya dalam hitungan jam lagi ia harus menikahi wanita yang menjadi calon istrinya saat ini, itu tak boleh terjadi!


"Arghh...!!!


Mengapa Tuhan mengujiku seperti ini...?!


Hanya ada satu Axila dan tak ada lagi yang lainnya, aku tak mungkin menikahi wanita itu!


Pernikahan ini harus gagal...!" ujar Mike,


'atau setidaknya mempelai wanitanya yang berbeda.' batinnya.


Ini cukup menyebalkan baginya, ia kecewa pada Axila namun ia juga sangat mencintai gadis itu.


Mike harus mendapatkan pengganti pengantin wanita sebelum terlambat, jika tidak wanita itu bisa tersiksa bahkan bisa saja ia akan mati ditangan Mike.


Mike lelah memikirkan hal ini, ia lebih memilih untuk memejamkan matanya, ia lelah.


Hati dan pikirannya lelah, sungguh sangat lelah.


...🌤️...


Jack kembali melaksanakan tugasnya, menjemput Mike untuk pergi ke kantor meskipun orang tuanya telah melarang Mike untuk bekerja dan mengambil cuti pernikahan namun tak didengar oleh pria itu, ia tetap bekerja dan tak mempedulikan wanita yang akan ia nikahi besok nanti. Bahkan jangan harap ia akan menikahi wanita itu, tak akan pernah!


Mike tiba dikantor nya, ia berjalan didampingi oleh asistennya itu, namun langkahnya terhenti saat memasuki pintu lobby dan mendengar keributan yang sedang terjadi.


"Memangnya kau pikir ini perusahaan nenek mu?!" suara yang keras tentu saja mengundang perhatian banyak orang.


"Cuma jadi office girl aja belagu, kerja yang benar dong!" bentak seorang wanita yang mengenakan pakaian kantoran.


"Saya kerjanya udah benar, Bu. Ibu nya aja yang nggak liat kalo lantai ini baru habis di pel." balas si office girl.


"Jadi kamu salahin saya? Berani kamu yah?!" bentak wanita itu.


"Kamu!" tangan wanita itu terangkat dan siap untuk menampar pipi office girl, namun suara bariton itu menghentikan aksi nya.


"Ada apa ribut-ribut?"


Semua mata tertuju pada dua orang pria yang sedang berjalan mendekat, para karyawan yang melihat bos mereka datang segera membubarkan diri dan menyisakan dua orang yang tadi ribut.


"Tidak punya mulut untuk menjawab?" tekan Mike, matanya tertuju pada office girl yang menundukkan kepalanya lalu berpindah pada karyawan kantor yang entah berada di Devisi apa.


"Begini, Pak. Saya kepeleset karena office girl ini Pak, ia buat saya jatuh dan-"


"Loh, Bu?


Kok malah nyalahin saya sih? Kan saya udah ngasih tanda disana kalau lantai ini baru aja habis di pel dan lantainya juga masih basah. Ibu yang nggak merhatiin jalan dan malah asik sama hp ibu." potong si office girl, matanya juga menatap dengan berani pada wanita tersebut.


Mike melihat kearah sekitar dan mendapati tanda seperti yang dikatakan oleh office girl itu, itu tandanya jika di office girl tidak berbohong.


"Pergunakan mata mu dengan baik untuk melihat, apa kau tak bisa melihat dengan baik?" sinis Mike pada karyawati tersebut.


"Ma-maaf, Pak." ujar wanita itu.


"Pergi!" perintah Mike, wanita itu segera bergegas dan menundukkan kepalanya dengan sangat malu, apa lagi ia langsung berhadapan dengan bos nya itu.


"Sa-saya permisi, Pak." ujar Office girl tersebut dan berlalu dari sana, ia terlalu takut jika melakukan sesuatu yang salah di hadapan bos nya


Mike berlanjut ke ruang kerjanya, Jack yang menyusul sedikit bingung dengan perbuatan bos nya itu, bahkan ketika Jack ingin masuk kedalam ruang kerja Mike, pria itu melarangnya untuk masuk.


"Zahra Jasmine" Mike mengingat nama itu, ia segera menyuruh Jack untuk membawa data-data tentang wanita itu. Mike sekilas melihat nama office girl tadi sebelum wanita itu pergi dari hadapannya dengan tatapan segan untuknya.


Jack masuk kedalam ruang kerja Mike dengan kertas yang berisi data pribadi karyawan yang Mike sebutkan tadi, Jack harus menghubungi pihak HRD untuk membawakan apa yang diminta oleh pria itu.


Jack sampai memijit pelipisnya karena pusing dengan perbuatan Mike hari ini, padahal esok adalah hari pernikahannya.


"Ada lagi yang anda perlukan, Tuan?" tanya Jack.


"Tidak. Kau boleh kembali bekerja." balas Mike, ia segera meraih berkas yang baru saja diberikan oleh Jack dan mulai membacanya, sementara Jack sendiri kembali ke ruang kerjanya yang berada disamping ruang kerja Mike.


"Jadi, dia juga sama seperti Axila. Yatim-piatu dan hidup dengan Adiknya, sayangnya Adiknya itu perempuan sedangkan adik Axila laki-laki.


Kalian mempunyai latar belakang yang hampir sama, sama-sama ditinggalkan oleh orang tua.


Kau cukup menarik juga, seharusnya keberanian mu juga sama sepertinya." gumam Mike.


Sedangkan dilain tempat.


Axila masuki restoran yang menjadi tempat perjanjian dengan kliennya, saat memasuki tempat itu, tatapan Axila tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk bersama wanita lainnya.


"Dia?" gumam Axila, ia berjalan mendekat.


"Kau," Axila berdiri persis didepan mereka, membuat kedua wanita itu menatapnya dengan heran.


"Bicaralah yang jujur pada Mike jika tak ingin terjadi sesuatu besok. Jika tidak, kau akan menyesalinya." ujar Axila dan berlalu dari sana, kedua wanita itu tampak sangat heran dengan perkataan gadis yang baru saja menghampiri meja mereka, namun salah satu dari mereka menjadi sedikit terkejut saat melihat Axila.


Ia pernah melihat wajah itu, foto calon suaminya dengan wanita barusan, bahkan pria itu menggunakan foto itu sebagai wallpaper ponselnya.


'Bukankah itu dia? Wanita yang dicintai oleh Mike?' batinnya.


Sedangkan Axila tak peduli lagi, yang terpenting ia sudah menyampaikan peringatan itu. Jika wanita itu mendengarkan peringatan nya lalu membicarakan hal yang jujur pada Mike, mungkin saja tak akan terjadi sesuatu besok di pernikahan nanti.