
Oke, aku baca komentar kalian yang kemarin-kemarin dan ada yang sedikit protes karena ini nggak ada adegan romantis nya.
Jadi, aku tegaskan sekali lagi buat kalian yang suka novel romantis, kalian nggak dapat di novel ini karena ini merupakan novel Fantasi-action. Yang dimana banyak adegan action nya dari pada romansa nya, jadi kalau kalian nggak suka.
It's ok. Because it's not a romantic novel.
That's it and back to the story.
...---------------------...
Axila mengemudikan mobil Putra dengan kecepatan sedang, dia memilih menggunakan jalan yang sepi agar ia cepat sampai karena di jam segini merupakan dimana titik kemacetan terjadi dimana-mana.
Axila bergegas ke mansion Letnan kolonel, terus mengemudikan mobil Lamborghini yang sudah pasti merupakan milik kakaknya itu, mobil Putra memang lebih mewah dari pada miliknya namun Axila tak mempedulikan itu, yang saat ini jauh lebih penting dari pada urusan mobil.
Axila membutuhkan waktu hampir satu jam agar tiba disana, dia memasuki area mansion mewah itu dengan mobil Lamborghini yang dikendarai olehnya setelah diberikan ijin oleh penjaga.
Axila membiarkan ranselnya didalam mobil, meraih ponsel dan laptopnya agar ia bawa kedalam sana, setelah itu meninggalkan mobil terparkir disana.
Ketika berjalan mendekat, dua orang pengawal lainnya segera mendorong pintu dan mempersilahkan nya memasuki bagian dalam mansion.
Dengan ditemani oleh salah seorang pelayan yang sudah menunggu didepan pintu, mereka berjalan kelantai dua karena Letkol Bobby sudah menunggunya didalam ruang kerja pria itu.
Axila menunggu didepan pintu yang sudah ia tebak, jika itu adalah ruang kerja atasannya. Sementara pelayan tadi masuk dan memberitahu kedatangan Axila pada tuannya.
*Ceklekk*
Pintu kembali terbuka,
"Silahkan masuk, Nona. Tuan sudah menunggu anda didalam." ujarnya pada Axila, gadis itu mengangguk pelan dan melangkah masuk.
Axila menatap pria yang sedang setengah duduk diatas meja kerjanya, mata pria itu juga menatap Axila sama seperti empat orang lainnya yang merupakan orang asing bagi Axila tiga diantaranya adalah laki-laki dan satunya adalah perempuan.
"Nona Axila, anda sudah datang." sambung letkol Bobby.
Axila hanya mengangguk pelan, "anda bisa melihat sendiri, bukan?" balas Axila. Jika pria ini sudah melihatnya disana, mengapa masih berbasa-basi lagi?
Letkol Bobby mengangguk dengan sedikit kekehan keluar dari mulutnya.
"Baiklah jika begitu," ujarnya, "perkenalkan, mereka adalah rekan kerjamu." ujarnya sambil menunjuk empat orang yang sejak tadi terus menatapnya.
"Daren. Dia merupakan peretas terbaik yang akan mengontrol semuanya dari balik layar."
ujar Letkol Bobby sambil menunjuk seorang pemuda tampan yang langsung maju saat namanya disebut. Axila hanya mengangguk saja.
"Dony. Dia adalah seorang penembak jitu" ujarnya lagi dan salah satu dari mereka kemudian melangkah maju. Axila mengangguk tanda mengerti.
"Josua. Dia seorang petarung jarak jauh-dekat. Dia yang akan membantumu bermain disampingmu." sambungnya lagi dan terakhir matanya menatap seorang wanita yang berada dipaling akhir dari mereka.
Axila mengangguk, dia sudah menyimpan nama dan wajah mereka dalam ingatannya.
"Namaku Axila, panggil saja Al." ujar Axila memperkenalkan dirinya sendiri.
Usai perkenalan, Axila dan Daren sudah duduk berhadapan dengan ditemani oleh yang lainnya dan tentunya mereka hanya menonton kedua nya. Dara, Dony dan Josua hanya mengamati mereka tanpa mau mengganggu sedikitpun sama hal nya dengan Letkol Bobby.
Axila bermain dengan laptopnya sedangkan Daren bermain dengan laptopnya, mereka memang duduk berhadapan. Masing-masing memasuki program yang tak dimengerti oleh yang lainnya, dan Axila tentu saja menggunakan aplikasi yang ia ciptakan agar membobol pertahanan lawan dari jarak jauh.
Di layar monitor laptop nya, hanya terlihat deretan angka dan huruf yang tak dimengerti oleh orang lain, jemari Axila terus berlarian diatas keyboard laptopnya layaknya sedang bermain game.
"Dapat!" gumam Axila namun masih didengar oleh yang lainnya.
Daren yang juga mendengar gumaman Axila melirik gadis itu.
"Kau menemukannya?" tanya Daren.
"Hmmm..." balas Axila.
"Persiapkanlah diri kalian, mereka akan bergerak jam 3 nanti di pelabuhan kota Nc." sambung Axila
"Baiklah." jawab yang lainnya, sedangkan Daren masih tak percaya, dia dan Axila memulai bersama bahkan ia lebih dulu bermain dengan laptopnya namun Axila yang menemukan informasi itu lebih dahulu.
"Kemarikan laptopmu." ujar Axila pada Daren.
"Untuk apa?" balas Daren.
"Jangan banyak bicara dan berikan saja, sepertinya laptopmu pernah ditanami virus oleh seseorang." ujarnya sambil menatap Daren.
Daren masih bingung, namun apa yang Axila ucap memang benar.
"Jadi-"
"Itulah yang membuat mereka bisa mengetahui aktifitas apa yang kau lakukan dengan laptopmu, bisa dibilang mereka kembali meretasmu." ujar Axila sedikit menjelaskan.
Daren masih tak percaya, namun Axila lebih dulu menarik laptop Daren lalu mengotak-atik program di laptop Daren.
"Seperti ini saja kau lengah, kau baru bergabung?" ujar Axila sambil memperbaiki program laptop Daren, dia juga menginstal aplikasi yang ia ciptakan di laptop Daren.
"Laptopmu sudah kembali aman, simpan semua data kedalam aplikasi yang baru saja ku instal, dan bajak mereka juga dengan aplikasi ini." ujar Axila lalu beranjak dari sana entah keluar kemana gadis itu namun menghilang dari dalam ruangan itu.
Daren yang masih tak percaya mengambil kembali laptopnya, memang benar. Axila menginstal aplikasi baru yang tak diketahui oleh Daren, ketika dia memasuki program itu, ternyata memang apa yang dikatakan oleh Axila memang benar.
"Dia terlalu pintar untuk program semacam ini. Namun, apa server ini? aku tak pernah tahu." gumam Daren.