
"Auchh.... Suara kalian indah sekali, 'bukan?" ujar Axila. "Sama seperti jeritan anak-anak tak berdosa yang kalian bunuh dan ambil organ tubuhnya, aku sangat menikmati suara indah kalian ini." sambung Axila lagi.
Ketahuilah, siapapun akan merinding mendengar ucapan Axila barusan.
Bagi Tim Red Velvet dan Putra mungkin ini terdengar biasa, namun tidak dengan Azka dan Levi. Levi memang sudah pernah menonton aksi Axila dulu, namun tak mengetahui seperti apa Axila sebenarnya.
Lalu bagaimana dengan Azka?
Remaja itu sudah terduduk lemas dilantai yang dipenuhi darah orang-orang yang dimainkan oleh Axila. Tubuh Azka gemetar ketakutan, kepalanya sudah pusing sejak tadi, ia tak bisa melihat kekerasan lebih lama lagi. Ia juga melihat kepulan asap hitam yang sangat mendominasi tubuh kakaknya, lebih pekat lagi dari yang pernah ia lihat dan itu sangat menyeramkan. Semua itu tertuju pada pria itu, orang yang telah menculiknya.
Zain? Baginya membunuh adalah hal yang sudah biasa, bahkan setiap harinya ia membunuh orang dengan keji lalu mengambil organ tubuh mereka dan membuang tubuh korbannya kedalam lubang yang sudah dipersiapkan.
Namun belum pernah ia menyaksikan pembunuhan masal seperti ini, terlebih pada semua anak buahnya, orang-orang yang berada dibawah kekuasaannya. Emosinya memuncak, ia ingin menghabisi Axila saat ini juga, meremas pistol yang berada digenggaman nya lalu mengarahkan senjata itu pada Axila.
Lalu bagaimana dengan gadis itu?
Ia terus menampilkan wajah dinginnya, api suci Belum sedikitpun padam dari tubuhnya, ditambah pedang yang selalu ia gunakan ketika berperang berada ditangannya, entah sudah berapa banyak orang yang sudah dihabisi dengan pedang itu. Dan hari ini, sepertinya pedang kesayangannya akan makan lagi untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Dorr...! Dorr...!
Zain menarik pelatuk, membuat timah panas itu mengarah pada Axila.
Azka kembali menyaksikan percikan api yang terjadi karena pedang itu kembali membelah timah panas menjadi dua bagian, karena tentu saja sangat mudah bagi Axila untuk membuat peluru-peluru itu terbelah dua dengan pedang nya.
Azka hampir saja kehilangan kesadarannya, dengan cepat Axila menggerakkan kakinya dan dengan tiba-tiba ia sudah berada dihadapan Azka.
Bruggg..!
Azka terjatuh tepat diperlukan Axila, Azka yang tak merasakan sakit ditubuhnya mendongkak dan melihat tubuhnya sudah berada diperlukan kakaknya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Axila.
"Y-ya, Noona." balas Azka yang ketakutan melihat mata kakaknya berwarna merah darah.
Azka merasa tubuhnya seperti sedikit melayang dan tak menginjak lantai,
"Tutup matamu dan jangan membukanya sampai aku yang menyuruhmu, paham?" ujar Axila.
Azka mengangguk dengan cepat, ia menutup matanya erat-erat dan tak ingin melihat apapun yang terjadi seperti perintah kakaknya, ia juga merasakan tangan kakaknya yang sedang melingkar diperutnya sedikit erat, Azka lebih memilih untuk menyembunyikan wajahnya diantara celuk leher sang kakak.
Levi dan Putra akhirnya bisa sedikit bergerak maju meskipun hanya beberapa langkah saja, aura kematian disekitar Axila masih sangat kental, mereka juga melihat api biru bercampur merah itu juga ikut melahap tubuh Azka, namun tak membuat pakaian Azka terbakar apalagi tubuhnya.
Kini tatapan Axila sungguh sangat dingin, gedung itu tiba-tiba bergetar seperti terjadi gempa namun tak membuat Axila gentar sedikitpun. Kaca jendela tiba-tiba pecah, sesuatu memaksa untuk masuk lewat sana, dan jendela itu tepat berada dibelakang tubuh Zain.
Ada tanaman rambat yang masuk, seperti akar-akar yang cepat sekali merambat dan melata didinding, mengarah pada Zain dengan sangat ganas.
Tanaman itu meliliti pinggang Zain, mengangkat tubuh pria itu hingga melayang dan tak menginjak lantai.
Levi dan Putra kembali dibuat terkejut melihat tubuh Zain melayang di udara, tubuhnya dililit oleh tumbuhan hijau, membuat Zain berteriak histeris karena tubuhnya dililit dengan sangat kencang.
"Arghh... Brengs3k..! Turunkan aku..! Hei monster cepat turunkan aku..!"
Pistol itu masih melekat ditangan Zain, menyadari hal itu ia coba untuk menembak Axila, namun tumbuhan hidup lebih cepat darinya.
Melilit tangannya dengan erat sehingga membuat pergelangan tangan Zain patah.
Krakkk..!
"Arghh! Dasar monster!" pekik Zain, dengan terpaksa ia melepaskan pistol dari tangannya.
Dony yang menyaksikan hal itu dari kejauhan bergelidik ngeri, ketahuilah jika patah tulang lebih menyakitkan dari pada luka akibat tembakan. Dan Dony telah merasakannya dulu.
Azka yang mendengar suara pekikan itu berusaha untuk menulikan pendengarannya, ia tak ingin melihat hal apapun yang dilakukan oleh kakaknya saat ini.
"Aku memang monster," balas Axila. "Monster yang sangat suka mencabut nyawa orang tak berguna seperti mu. Yang hanya berani melawan orang lemah dan bersembunyi dibalik kedok busuk mu itu." sambungnya lagi.
"Akan kubunuh kau!" umpat Zain.
"Hahahaaa….!" tawa menyeramkan kembali terdengar.
"Kau ingin membunuh seorang Dewi Perang? Omong kosong!" balas Axila. "Sudah beribu orang berusaha membunuh ku, tapi sepertinya mereka harus berhadapan dengan seorang Dewi pencabut nyawa.
Kau tahu bagaimana ketegangan dimedan perang, 'bukan?
Itu adalah tempat tinggalku, rumah ternyaman ku."
Ketahuilah jika Levi yang saat ini sedang berada disana menjadi semakin menegang. Tentu saja semua orang mengetahui gambaran seperti apa yang terjadi dimedan perang. Kau tak akan bisa bersantai sedikitpun, kapan saja kau bisa mati disana.
"Dan sepertinya kini, kau harus kembali berhadapan dengan Dewi pencabut nyawa yang sama. Karena kau telah membangunkannya dari kenyamanan yang ada didunia ini, kau salah memilih lawan, Bung!" ujar Axila lagi.
Tanaman itu sedikit menurunkan tubuh Zain, satu meter dari permukaan tanah. Tangan Axila terangkat, ia arahkan pedangnya pada Zain, menggores tubuh itu dengan pedangnya seperti sedang mengukir sesuatu.
Axila mengayunkan pedangnya lalu memotong tangan kanan Zain, diikuti tangan kiri pria itu.
"Arghh...! S3tan..! Dasar monster...! Ini menyakitkan, j@lang...! arghh..!"
Berbagai umpatan Zain keluarkan untuk Axila, namun terlihat wajah datar itu, seperti menikmati permainannya.
Axila menyayat kaki Zain dengan perlahan, membuat pria itu terus meraung kesakitan. Ruangan itu menggema dengan teriakan dan umpatan yang diarahkan pada Axila.
Axila menoleh pada Levi yang sudah berada dibelakangnya, hanya tersisa beberapa meter pria itu bisa menyentuhnya.
Perlahan api yang terus berkibar itu akhirnya meredup hingga padam, namun tidak dengan mata Axila yang masih berwarna merah. Menandakan jika gadis itu masih berada dalam suasana hati yang tak baik.
"Biarkan aku yang menyelesaikannya, aku juga punya urusan dengannya." ujar Levi.
Axila menarik aura nya, suhu ruangan itu kembali normal dan tak lagi panas.
"Selesaikan dia!" Axila melangkah mundur, membiarkan Levi yang melanjutkan aksinya untuk menghabisi Zain.
Axila melewati pintu utama, ia juga melihat beberapa orang yang terduduk lemas disana, bahkan Dara telah pingsan sejak tadi. Daren kembali mendapatkan koneksi untuk melihat apa yang terjadi, sambungan komunikasi kembali terjalin.
"Dony, kau dengan aku? Dony? Josua? Dara? kalian dengar aku? jawab panggilan ku!" panggil Daren terus menerus.
Dony yang kembali mendapatkan komunikasi dengan Daren segera menjawab.
"Aku disini."
"Aku sini." balas Josua, yang sedang menghirup udara dengan sedikit rakus, dadanya naik turun dengan cepat.
"Syukurlah.
Dimana Dara dan Al?" tanya Daren.
Josua menoleh kesamping nya, "Dara bersamaku, namun dia kehilangan kesadaran nya?" balas Josua.
Beralih pada Levi.
Dengan berbaliknya Axila, tubuh Zain tiba-tiba ambruk dilantai. Tumbuhan rambat tadi melepaskan Zain, dan kembali pergi seperti saat tanaman itu masuk. Jangan ditanya bagaimana keadaan ruangan itu karena kalian tak akan menyangka nya.
Ruangan yang dipenuhi oleh genangan darah segar, memberikan kesan menyeramkan didalam sana, banyak mayat yang berserakan dimana-mana, tak ada yang tersisa dari anggota organisasi milik Zain.
Hanya tersisa sang pemimpin, Zain Rach. Namun, pria itu sudah dalam keadaan yang sangat menggemaskan, kedua tangannya sudah tak berada lagi ditempat, kakinya banyak luka sayatan, dan disekitar dadanya terdapat ukiran yang tak terlalu jelas karena dihalangi oleh baju dan jas yang masih melekat ditubuhnya.
"Tcih...!"
Zain mendongkak, ia melihat Levi yang berjalan mendekatinya dengan tatapan tak percaya dan penuh ejekan.
Zain tak dapat melakukan apapun saat ini, ingin rasanya ia melawan dan membunuh pria dihadapannya saat ini.
Itupun jika dia masih bisa selamat dan hidup.
"Aku tahu kau sangat sengsara dengan semua luka yang ada ditubuh mu itu.
Jadi, apakah dengan ini kau telah sadar, Zain Rach?"
nada Levi terdengar penuh ejekan, hal itu membuat Zain semakin geram.
"Kau...!"
"Aku tak menyangka, kau akan kalah dari seorang wanita."
"Diam kau! Dasar monster!" umpat Zain.
"Kau yang mencari masalah duluan, aku hanya membantu kekasihku untuk melumpuhkan kalian.
Tapi aku tak menyangka, jika kau akan hancur oleh kekasihku ini." ujar Levi santai, ia bahkan sudah berjongkok didepan Zain.
"Br3ngsek! aku akan membunuh kalian berdua! Sangat cocok, seorang monster dan iblis. Kalian benar-benar sangat serasi." ujar Zain dengan ejekan.
"Hahahahaaa...."
Tawa Levi menggema, "kau benar. aku juga merasakan hal yang sama, kami sangat serasi dan akan menjadi pasangan yang paling serasi didunia ini." balas Levi.
"Sekarang, giliran ku untuk mengirimkan mu ke neraka. Pergilah karena pintu gerbang neraka telah terbuka untukmu." ujar Levi yang diikuti oleh bunyi tembakan yang keras.
Dorr...!
Peluru itu mengenai tepat dikening Zain, menembus kepala dan otaknya sehingga berserakan dimana-mana.
Isi kepalanya tumpah dari dalam sana, sungguh mengerikan.
Levi berbalik, ia mengeluarkan sapu tangan lalu membersihkan tangan dan wajahnya dari percikan darah milik Zain.
Levi membuang sapu tangan itu dengan sembarangan, ia segera pergi dari sana dan menyusul sang pujaan hati yang telah lebih dulu berlalu.
Helikopter mengudara, membuat apapun yang berada disana menjadi berterbangan karena angin dari baling-baling helikopter yang sangat kencang.
Mata Axila kembali normal, sedangkan Azka masih terus berada dalam pelukannya karena mengalami trauma yang mengguncang mentalnya.
Levi sudah berada disana bersama mereka, menyuruh Axila dan Azka untuk masuk kedalam sana.
Levi, Putra, Axila dan Azka pergi dari sana menggunakan helikopter.
Meninggalkan kekacauan disana, bersama yang lainnya.
Semuanya meninggalkan tempat terkutuk itu, polisi dan ambulance berdatangan untuk melihat dan menyelidiki apa yang telah terjadi.
Daren membawa Dara kembali dengan mobilnya, Dony bersama Josua berada dimobil yang sana. Semua pasukan Levi juga kembali dengan keadaan selamat meskipun ada yang mengalami luka tembakan dan lainnya.
Semuanya telah selesai untuk hari ini. Hari yang sangat panjang dan melelahkan.
...--------...
Akhirnya kejadian itu selesai juga. Pengalaman yang sedikit buruk yah bagi Azka, karena pertama kali lihat sisi beda kakaknya.
Dan untuk kalian yang bilang ini inspirasi dari Drama "Descendents of the sun" emang bener, tepatnya di episode 11-12. Namun dengan versi yang berbeda yah.
Dan untuk crazy up nya, aku nggak janji hari apa tapi yang pasti dalam Minggu ini. Dan ini emang udah final.
Kisah Putri Mahkota Xian Liu Mei sudah hampir berakhir, akan ditutup dengan kisah cinta sang pemeran utama kita Axila dan Levi.
Semoga kalian masih betah sampai saat itu tiba, janji nggak bakal muter-muter soal romansa nya Axila.
Sarange 🥰
Zero^-^