Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Cemburu


🌺🌺🌺


"Mas Guntur!" panggilnya dengan perasaan campur aduk, tidak peduli apakah ia sudah diijinkan masuk atau belum, yang terpenting ingin memenuhi rasa penasarannya apakah itu benar sang suami atau tidak, ternyata benar. Guntur, seorang gadis dan seorang lelaki sedang asyik tertawa sembari melangkah, dan itu sungguh membuat dadanya bergemuruh hebat.


Ia cemburu


Guntur menoleh ke belakang, ia terpaku melihat sosok sang istri. senyum kembang pun terukir dibibirnya, begitu pula dengan wajahnya yang tampak semringah.


"Sayang!!" Guntur mendekat, mempercepat langkahnya


Bugh!


Pria itu langsung memeluk tubuh Bulan dengan penuh rasa rindu. "Kamu kesini? kok nggak bilang?" tanyanya, kemudian melonggarkan pelukan mereka


Bulan memutar bola matanya. "Harus pakai bilang?" ketusnya dengan nada kesal, tak nampak lagi senyum manis dibibir wanitanya. "Oh iya, nggak mau ketahuan, kan? makanya harus pakai bilang-bilang mau kemari?" sambungnya


Guntur semakin heran, ada apa dengan istrinya, biasanya tidak pernah bersikap seperti ini.


"Kamu kenapa? maksud aku tuh, kalau kamu kemari aku bisa berdandan dengan tampan. kamu tidak lihat? aku kucel sekali." ujarnya, menunjuk kaos biasa seperti pria petani


"Ck! Bulan mendelik kesal. "Nih, keripik yang kau inginkan! tadinya aku pengen makan bareng tapi sepertinya--bakal merusak moment tawamu kalau aku meminjammu sebentar." Bulan menyodorkan sekantung kripik pisang dan sebungkus nasi padang kepadanya


Guntur tertegun mendengar kalimat tadi, ditambah makanan yang diberikan sang istri.


"Aku balik." pamitnya, Bulan membalikkan tubuhnya ingin melangkah pergi. namun, tangan itu sangat cepat menahan tubuhnya


"Tunggu! kamu kenapa sih, Yang? kok kesal?"


"Buruan kamu makan sana, sudah jam makan siang kan? aku ada urusan diluar." Bulan menghentakkan tangan Guntur, setelahnya melangkah cepat dengan langkah terburu-buru


"Bulan!"


***


"Maaf, ya, Pak, kita makan siang disini saja." ucap Bulan kepada Pak Sopir, mereka berdua sedang duduk disebuah Taman, kursi besi ditepi danau menjadi tempat untuk menikmati makan siang mereka dengan dua bungkus nasi padang yang menggiurkan. untung saja posisi mereka berada dibawah pohon yang rindang, terik matahari tidak terlalu menyorot ke arah mereka berdua


"Nggak apa-apa, Nona." ucapnya, walaupun pria parubaya itu sedikit penasaran kenapa tidak jadi menikmati makan siang di tempat Rehabilitasi


Bulan mengulum senyum, ia memulai kegiatannya dalam keheningan, membiarkan lidahnya bergoyang menikmati cita rasa bumbu rempah-rempah yang terdapat dimakanan ini.


Disisi lain, Guntur merasa kurang berselera menikmati makanan dihadapannya. padahal aroma yang menguar tercium wangi dan menggoda iman siapa saja yang melihatnya, namun tidak untuk Guntur. pria itu malah melamun, pikirannya sedang galau dan masih bertanya-tanya mengapa sikap wanitanya sejutek itu.


"Bro! makan atuh! makanan selezat itu dianggurin." ucap teman pria disampingnya


"Ho'oh, benar. kalau enggak mau, kita habiskan ini." sela wanita dihadapannya


"Terserahlah, aku mau ke kamar." Guntur bangkit berdiri ingin keluar dari tempat tersebut


"Walah ... yang baru diapelin malah galau." ledek temannya


Guntur tak menggubris, ia melangkah dalam diam menuju kamarnya berada. tidak peduli sama semua orang yang sedang menikmati makan siang dengan ketenangan.


Guntur merebahkan tubuhnya diatas ranjang, menatap langit-langit kamar dengan pikirannya yang benar-benar kalut. ada apa gerangan dengan wanita itu? dan ada urusan apa sampai tidak jadi makan bersamanya? entahlah, memikirkannya saja sudah membuatnya pusing, selera makan pun buyar seketika olehnya.


"Apa aku ada salah?" gumamnya


Guntur merogoh ponsel dibawah bantal, memeriksa notifikasi masuk, siapa tahu sang istri menghubunginya berkali-kali sampai ia tak sempat untuk membalas.


Guntur mencebik, ternyata perkiraannya salah. Bulan tidak ada menghubunginya sejauh ini, hanya pesan dipagi buta yang telah ia baca sebelumnya.


[Yang, kamu kenapa?]


[Aku salah apa?]


[Aku kepikiran kamu terus.]


[Read dong ... aku vici, ya?]


Guntur menekan gambar video di layar kanannya, berharap wanita diseberang sana akan menerima panggilannya.


Bulan merasa frustasi, dering ponselnya berdering berkali-kali. ia merasa enggan untuk mengangkat panggilan dari suaminya. hatinya masih digeluti api cemburu, merasa tidak suka melihat interaksinya bersama wanita lain, walaupun terdapat pria disisi mereka.


Entahlah, mungkin karena selama ini ia tidak pernah melihat Guntur berinteraksi dengan wanita selain dirinya, dan pengalaman ini terasa aneh dan asing baginya.


Ah ... aku jadi rindu sama Guntur yang angkuh, dingin dan kejam tapi penyayang sama aku.


Is! wajarlah dia dekat sama semua orang disekitarnya, orang disana tidak boleh menyendiri kok. yang ada perawatannya bakal sia-sia.


Bulan terus bermonolog dalam batin. Ia melirik Pak Sopir yang sedang berjongkok dibawah pohon lain, sedang mengisap putung rokok sembari menikmati rasanya. sedangkan Bulan baru saja selesai melahap makan siangnya. sembari menunggu, ia menatap air danau yang tenang tanpa gelombang, semilir angin menerpa kulit tubuhnya.


🌺🌺🌺