Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Rencana Pulang Lagi


🌺🌺🌺


"Is, gila! jangan kemari lagi! tadi malam sudah."


"Tapi pengen lagi, Sayang. atau kamu kesini, aku bakal cari kamar kosong buat kita."


"Dasar san*e! pada heboh semua pasien yang sudah berkeluarga nanti, malah jadi pengen mereka."


"Enggak kok, aku bisa atur semuanya, gimana? kebetulan besok hari sabtu, Sayang."


"Tapi percuma kalau aku kesana, kamu pasti bakal sibuk dari pagi sampai malam."


"Enggak, aku izin, mereka pun tau kalau ada kamu."


"Ih, serah deh!"


"Azeeek! aku temuin dulu pihak Rehab ya?" Guntur langsung memutuskan panggilannya secara sepihak, urusan ranjang tentu saja ia sangat bersemangat.


Pria muda itu menyusuri koridor, melewati ruangan demi ruangan yang berpenghuni. Keadaan sekitar terlihat sudah sangat sepi, hanya penjaga sesekali melintas memeriksa keadaan sekitar. Guntur telah tiba di depan ruangan pengelola Rehabilitasi, ia berharap lelaki parubaya itu masih ada diruangannya.


Tok tok tok


"Masuk!"


Seketika saja senyum cerah menghiasi bibirnya, beruntung saja pendiri tempat ini masih berada ditempat. biasanya pria parubaya tersebut tengah memeriksa dokumen hasil perkembangan para pasien.


"Pak." sapa Guntur


"Ya? kenapa masih kelayapan? sudah mau jam tidur ini."


"Anu, Pak, mau nanya ... boleh nggak saya izin sehari aja untuk nggak melakukan kegiatan apapun?"


"Kenapa? kamu capek? kamu itu dikerahkan kesini atas perintah surat pengadilan."


"Iya, tau, Pak. cuma--


"Satu minggu lagi kita akan merayakan ulang tahun panti ini, jadi seluruh pasien bisa bebas mau melakukan apa pun tanpa adanya kegiatan seperti biasa. kamu mau istirahat di kamar ya silakan, tapi setelah Dzuhur kita akan adakan pergelaran syukuran bersama."


Guntur mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, ia terbelalak mendengar ucapan itu. artinya pintu kebersamaan dengan sang istri akan terbuka lebar untuknya dan mereka bisa kembali bersama agak sehari saja.


"Yang benar, Pak? saya pulang ke rumah, boleh ya? sehari saja. hp jadi jaminan!" pintanya


"Kamu itu narapidana ditempat ini lho, artinya kamu masih menjadi tahanan tapi beda tempat. yang ada kamu bakal kabur dan akan melakukan kejahatan lagi. saya tidak ingin mengambil resiko," tolaknya


"Ya ampun, periksa deh hasil perkembangan saya, Pak. saya sudah sehat dan seharusnya boleh bebas,"


"Pengadilan yang boleh membebaskan kamu dengan menunjukkan bukti kesehatan, sekarang belum seratus persen sembuh."


Guntur menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Saya janji nggak akan kabur dan melakukan tindakan itu lagi. Bapak boleh menyuruh orang untuk mengintai saya, dan hp jadi jaminan."


"Akan saya pikirkan, tidurlah! saya juga mau pulang."


Pria itu mengangguk dan Guntur kembali melangkah menuju kamarnya berada. disetiap langkahnya ia terus memanjatkan doa berharap ia bisa pulang saat pergelaran hari ulang tahun nanti. jika tidak diperbolehkan juga, maka uanglah yang akan membungkam mulut lelaki itu.


Guntur kembali meraih ponsel yang ia simpan, membuka aplikasi hijau lalu mengetik sesuatu dilayarnya.


'Minggu depan aja, Yang. soalnya kami free karna ada syukuran ulang tahun disini. dan aku berharap pengelola panti ini mau mengizinkan aku untuk pulang.'


Guntur mengirimkan pesan tersebut kepada sang istri, ia menoleh ke samping dan ke bawah, tampak teman-temannya sudah pada tidur.


Lama menunggu balasan, dua tanda ceklis masih berwarna kelabu dan itu artinya sosok yang ia cintai belum membaca pesan tersebut. sepasang netranya beralih menatap jam dilayar ponsel, sudah hampir pukul setengah sepuluh.


"Mungkin dia sudah tidur." gumam Guntur, ia pun turut menyusul tiga orang disekitarnya yang telah tertidur pulas.


🌿


"Aaaaaa!!!!"


"Dia bakal pulang besok? asik!!" Bulan terlonjak kegirangan membaca pesan dari suaminya, sudah seminggu ia menunggu keputusan dari pengelola panti itu agar bersedia mengijinkan suaminya untuk kembali ke rumah agak sehari saja. dan kini--segala doa yang ia panjatkan disetiap sholat, akhirnya dijabah oleh sang Maha Kuasa


Suaminya akan pulang, dan Bulan tidak bisa diam kali ini. wanita berbadan dua itu kemudian berpikir, kejutan apa yang bagus untuk ia berikan kepada sang Pangeran hati.


Bulan mondar mandir didepan ranjang, otaknya tengah berpikir keras. ingin sekali memberi kejutan yang tak pernah terlupakan oleh lelaki itu. cukup lama berpikir, secercah senyum cerah menghiasi wajahnya.


"Ahaa!! aku tau!"


Bulan kembali membuka ponselnya, mencari kontak Clara untuk ia hubungi.


"Hallo, Kak?"


"Clar, jam berapa pulang?"


"Jam sebelas, Kak."


"Okeh! nanti aku jemput, ya? aku mau ajak kamu shopping."


"Shopping? boleh tuh."


Dan disinilah mereka setelah materi kuliah usai pada hari Sabtu itu, Bulan yang sangat bersemangat langsung menyeret adik iparnya ke lantai dua, tepatnya di Butik pakaian wanita.


"Kakak mau beli baju? aku pengen deh dress yang sederhana kayak Kakak, lebih anggun dan nggak mewah banget."


"Yang ini? aku belinya sama collection salah satu Aktris Indonesia, keren deh."


"Ohya?? ah jadi pengen."


"Nanti kita pesan lewat online, sekarang bantu aku pilih ini." Bulan memamerkan sebuah pakaian wanita yang ia sentuh kepada Clara


"Ini?????"


🌺🌺🌺