
πΊπΊπΊ
"Namun--setelah penyelidik menemukan kasus baru, bahwa saudara Guntur mengidap penyakit kejiwaan yang cukup parah, maka dari itu tuntutan kami tolak. bahwasanya dalam pasal xxx ayat xxx, pengidap penyakit jiwa tidak bisa dan tidak boleh dipidana."
"Apa!!" teriak beberapa orang dibangku sisi kanan Bulan, yaitu para orang tua korban, termasuk Mentari. sedangkan Mami Vega hanya duduk diam dengan tenang.
Para penjaga langsung beraksi untuk menenangkan para hadirin yang merasa tidak terima.
"Untuk kasus yang disandang oleh saudara Tomi dan Riko, terlibat dalam pasal xxx ayat xxx, pihak pengadilan akan menghukum selama lima tahun."
Terdengar hembusan nafas kasar dari sang pelaku, Tomi dan Riko. Guntur menoleh menatap anak buahnya, ada rasa bersalah yang menyelinap dihatinya.
"Maaf." lirih Guntur kepada mereka
"Sudah terjadi, Tuan."
"Apa kalian marah?" tanya Guntur, keduanya menggeleng secara bersamaan
"Kami tidak terima, Bu Hakim! anak kami jadi korbannya, disekap berbulan-bulan dan kalian tidak mempidananya! hukum apa ini, nggak adil." teriak salah seorang Ibu yang merasa tidak terima
Ini tak adil baginya
Tok tok tok!
Palu diketuk, pertanda semua hadirin harus bersikap tenang.
"Ibu sebagai penuntut dipersilakan untuk menaiki podium dan berbicaralah dengan tenang." ucap Hakim, wanita parubaya tersebut dengan nafas berat ia pun bangkit berdiri dan melangkah menuju podium.
Ia dipersilakan untuk mengeluarkan unek-unek perasaannya yang teramat sakit kala putrinya disakiti, disekap oleh tahanan jahanam itu.
"Penyakit itu pasti akal-akalannya saja, Bu Hakim, secara sadar dia menyakiti anak saya dan anak-anak lainnya. dia pria yang licik, cerdik, psikopat! pasti banyak rencananya untuk menggelabui kalian. saya tidak terima kalau dia dibebaskan!"
"Benar itu, benar!" sahut segerombolannya
Tok tok tok!!
Lagi-lagi mereka semua disuruh diam, pantang sekali diruangan ini terjadi keriuhan.
Seketika pandangan Hakim teralihkan kepada sosok wanita yang berdiri sembari mengacungkan tangan.
"Silakan." ucapnya
"Perkenalkan, saya Dokter Jessica, psikiater yang menangani kejiwaan saudara Guntur selama tiga tahun terakhir."
Ia berdehem sejenak untuk menetralisirkan tenggorokannya.
"Saudara Guntur sempat menjalani pengobatan selama tiga bulan, penyakitnya sangat parah kala itu. dia bercerita, bahwa dirinya merasa trauma dengan perlakuan teman-teman sekelasnya kala SMA, beliau dilecehkan saat berada disebuah Klub bersama mereka, dihina sebagai seorang impotent, dan dibully. saya yakin, anak-anak itu adalah teman sekelas yang merendahkannya." Dokter Jessica menunjuk para korban
"Tak hanya di SMA, saat melanjutkan study di luar negeri pun ia juga merasakan hal yang sama. saya yakin disalah satu anak-anak itu ada lulusan universitas yang sama dengan dia, bukan? saya tahu namanya, tapi tidak perlu disebutkan. biarkan saja dia sadar diri siapa yang saya maksud."
"Kebetulan sekali mereka satu Universitas, fakultas yang sama pula. jiwa Guntur semakin tertekan kala mendapat hinaan dari temannya itu. tidak berkesudahan, di SMA iya, di Universitas pun iya. saya sangat miris dengan anak yang seperti itu." Dokter Jessica menatap sinis ke arah anak yang dimaksud, walaupun ia tidak tahu rupa orangnya seperti apa.
"Saat itu saudara Guntur bersikap cuek dan banyak bersabar, dia tetap fokus untuk belajar dan belajar, memendam semuanya sendirian tanpa ada teman bercerita. hingga--ia juga mengatakan saat pulang dari kelulusan, mendapati orang tuanya bertengkar dan saat itu pula kata cerai terucap. hati mana yang tidak terluka? jiwanya terguncang karena terlalu lama memendam, ditambah permasalahan keluarga yang baru saja ia alami."
"Saya pribadi sangat miris bila jadi beliau. dan ini sepenuhnya bukan salah dia kalau berpikiran ingin membalas dendam pada kalian. kalian intropeksi diri dulu, mengapa saya diginiin? apa salah saya? siapa yang melakukan ini? pernah nggak, terpikirkan hal itu, hm? enggak, kan?? karena kalian merasa tidak pernah melakukan hal jahat kepada seseorang."
Tok tok!
"Selesai, silakan duduk." perintah Hakim
"Sebentar, saya belum selesai."
Dokter Jessica kembali melanjutkan. "Anggap saja apa yang sudah kalian alami, kalian berada didalam penjara dan mendapatkan hukuman yang setimpal. itu adil bagi Tuan Guntur, terima kasih."
Dokter Jessica kembali turun dari atas podium. sontak saja semua orang yang memihaknya bertepuk tangan dengan lantang. merasa bangga atas apa yang telah diutarakannya. hal itu bukanlah hasil rekayasa, melainkan dari hasil catatan memorinya kala mengingat curahan hati sang pasien. mencari tahu seluk beluk mengapa bisa mengalami trauma hingga terjangkit amukan amarah yang tak tertahankan.
"Alaaaah .... palingan dia disogok itu! anak saya mana pernah membully orang sampai segitunya, apa lagi datang ke Klub." bantahnya
Bulan memutar bola matanya, jengah. sedangkan Guntur menatap wanita itu dengan tajam. disisi lain, putri dari wanita parubaya tersebut tampak takut, ia menggigit bibirnya kuat-kuat, bahwasanya penilaian sang ibu terhadapnya adalah salah. memang benar jika ia turut andil dalam membully sang tahanan.
Salah seorang petugas sidang menyodorkan sebuah amplop kepada Hakim, yang berisi beberapa bukti kuat bahwa yang dikatakan Dokter Jessica itu benar. Hakim membukanya, sebuah CD yang berisi rekaman Cctv di sebuah Klub, untung saja rekaman pada tahun xxx masih tersimpan. terdapat pula rekaman hasil wawancara kepada saksi bisu yang menyaksikan Guntur tengah dibully oleh para korban.
Teman dekat Guntur yang berprofesi sebagai Dokter dan ia pula yang menangani teman-teman sekelasnya kala dikirim ke sebuah pulau. ada juga seorang Guru yang kala itu membantu Guntur yang tampak berantakan oleh baluran adonan. tak lupa sosok rekan kerja Papa Perkasa yang kala itu menolong Guntur agar terbebas dari jeratan teman-temannya di sebuah Klub.
"Keputusan Hakim akan membebaskan saudara Guntur dari tindak pidana dan akan dikirim ke Rehabilitasi hingga ia sembuh. sedangkan saudara Tomi dan Riko, dipidana lima tahun penjara."
Tok tok tok!
πΊπΊπΊ
Sebenarnya author nggak tau tatacara sidang tu kayak mana. cuma pernah nonton serial india, jadi bayangi itu aja π