Obsesi Majikan Psychopath

Obsesi Majikan Psychopath
Sekalian 50 Juta


🌺🌺🌺


"Woi, dari mana saja, baru nongol?"


"Habis berkeliling, nih mata cepat amat bangunnya, yaudah aku jalan-jalan dulu," jawab Guntur dengan yakin


"Hmmm, pantasan udah segar."


"Ya, aku ambil wudhu dulu." Guntur melenggang pergi meninggalkan teman sekamarnya yang sedang bersiap-siap untuk menunaikan sholat subuh.


Selesai berwudhu, Guntur bergegas mengenakan sarung untuk menutupi kakinya, kemudian mengambil alat sholat lainnya dan bergegas meninggalkan kamar untuk menyusul teman-temannya yang berangkat lebih dulu


"Hooaaaam!! ngantuknya!" Pria itu menguap, mata pun sudah terasa berat karena kekurangan tidur. bagaimana tidak kurang tidur jika saja ia dan sang istri melakukannya sampai tiga jam lamanya. dan ia terlelap hanya dua jam lebih sehabis percintaan panas terjadi.


Guntur tersenyum miring, kejadian tadi malam benar-benar membuatnya puas dan ingin lagi untuk melakukannya.


"Baca! menghayal bae!" tegur teman disampingnya. kini seusai menjalankan sholat subuh, mereka diwajibkan untuk membaca Al-Qur'an bersama-sama


"Hmmm, lanjutlah dulu, aku ngantuk mau ke kamar dulu." Guntur pun bangkit berdiri, diam-diam dengan cara menyelinap ia keluar dari Masjid untuk menunaikan kegiatannya yang tertunda. sejenak ia ingin memanjakan sepasang matanya yang sudah sayu itu


Dalam waktu yang singkat mata pun terpejam, padahal baru saja memejamkan mata namun dirinya telah dibawa melalang buana ke alam mimpi


Di kediaman Perkasa, sinar mentari semakin menyengat menembak wajah Rembulan yang masih betah bergelut dibawah selimut. Ia mengerutkan matanya, membalikkan badan ingin memunggungi matahari yang terus saja mengganggu tidur panjangnya.


Hingga--ketukan pintu pun sontak mengagetkan Bulan yang sedang berusaha untuk kembali terlelap.


Tok tok tok


"Is! masih ngantuk." rengeknya, sepasang mata masih terpejam


"Kak, sarapan! sudah jam setengah delapan lho." teriak seseorang dari luar kamar


Bulan berusaha mengumpulkan kesadarannya, dengan begitu malasnya ia bangkit dari berbaringan lalu merenggangkan otot-ototnya yang dirasa kaku setelah sisa percintaan tadi malam.


"Hoaaam!! cepat banget sarapannya? jam berapa sih?" gumam wanita berbadan dua itu sembari menguap


Bulan menatap jam digital yang terpajang diatas dinding, seketika kelopak matanya terbelalak melihat jarum jam yang tak sesuai dengan perkiraannya. tujuh lebih tiga puluh menit dan ia masih belum mempersiapkan diri.


"What!! nggak salah?" Bulan terkesiap melihatnya


Buru-buru ia turun dari ranjang dengan hati-hati, sebelah tangannya menahan beban perut seolah takut akan runtuh jika ia bersikap terburu-buru seperti ini.


Bulan menyalakan shower air yang langsung menyambar tubuh telanjangnya dengan air hangat, menyabuni tubuhnya dan mengusak rambut dengan shampo kesukaannya. dalam sekejap ia telah selesai dalam ritual membersihkan tubuh yang dirasa sudah bau habis percintaan tadi malam.


"Is, ini semua gara-gara Guntur! kenapa nggak besok aja kesini sih, besok kan libur dan aku bisa tidur sepuasnya." omel Bulan disepanjang kegiatannya mengenakan baju kantoran


"Pagi, Ma, Pa, Clar, maaf Bulan terlambat." sapanya, menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya diatas sana


"Hu'um." Bulan mengangguk, mulutnya penuh dengan sandwich yang ia lahap secara terburu-buru


"Semua ini karna Mas Guntur." sambungnya lagi


"Lah--" Papa mengernyit heran. "Emang kalian begadang? kan disana nggak boleh begadang, kan?"


"Iya begadang, Pa. tapi bukan begadang disana,"


"Hah?? maksudnya apa sih, Kak?" sahut Clara


Bulan menarik nafasnya dalam-dalam, segera ia telan makanannya yang sudah cukul halus.


"Mas Guntur tadi malam datang, dia nyogok Security." jelasnya, lalu cekikikan


"Serius?? kok kami nggak tau, ya? terus mana dia sekarang? kok nggak nongol." Papa menoleh ke arah tangga, berharap bocah tengil itu segera turun dari lantai dua


"Sudah balik lagi, Pa, tadi jam setengah lima. makanya Bulan kesiangan bangunnya."


"Astaga, anak itu, bahkan tidak menyapa Papa sekalipun." Papa menggelengkan kepala


Kemudian Mama Anna mendekatkan wajahnya ke telinga suaminya, membisikkan sesuatu, entah apa itu. Bulan mengernyit heran karena raut wajah kedua mertuanya tampak tersenyum aneh.


"Apa sih!" gumam Bulan


"Ah iya, Pa, Mas Guntur minta uang sepuluh juta untuk menyogok petugas itu, Insha Allah pulang kerja aku kesana."


"Sepuluh juta?" Papa Perkasa terbelalak kaget mendengarnya


Bulan mengangguk mengiyakan, kemudian ia menenggak susu hamil yang telah disiapkan diatas meja.


"Nggak nanggung-nanggung, sekalian saja lima puluh juta."


"Aish, kebanyakan, Pa. lain kali deh kalau dia berani nyogok lagi."


"Hm. biar Papa aja kesana sama Mama, kebetulan kami ada rencana ingin berkunjung. kamu harus banyak beristirahat, jangan terlalu sering menemuinya. kamu tau, kan, kesana saja hampir menempuh perjalanan satu jam lamanya. ini saja Papa merasa nggak enak lihat kamu lagi hamil malah sambil bekerja." oceh Papa Perkasa mengungkapkan kerisauannya terhadap sang menantu


Bulan terenyuh mendengar ungkapan rasa sayang seorang Ayah kepada menantu, rasa sayang yang tulus yang tidak pernah ia rasakan lagi semenjak kepergian Ayah kandungnya. dan kini Tuhan menggantikan sosok itu kepada pria parubaya dihadapannya, sang mertua yang baik hati.


"Nanti saat kandungan kamu tujuh bulan, Papa saja yang memegang kendali atas perusahaan."


"Hah?? sebulan lagi dong?"


🌺🌺🌺